

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Pasar sepi. IHSG yang tak lepas dari pengaruh pergerakan bursa global dan regional pun diprediksi bakal tertekan Rabu (27/8) ini. Di balik itu, saham PTBA, BUMI, TLKM, ASII, dan PGAS dinilai masih punya prospek.
Head of Sales Trading Danareksa Sekuritas Michael Nefo Handojo mengatakan, pasar yang relatif sepi dengan volume tipis masih mungkin berlanjut pada perdagangan hari ini. Sesuai siklus, Juli dan Agustus memang sepi transaksi karena fund manager masih menikmati liburan.
Sentimen negatif datang dari ekonomi global yang mengindikasikan resesi di AS masih kuat. Suku bunga AS masih flat karena resesi ini dianggap tidak perlu dilawan dengan suku bunga.
"Pemburukan di sektor keuangan membuktikan ekonomi AS belum pulih. Bahkan, diperkirakan ada gelombang kedua krisis subprime mortgage," kata Nefo kepada INILAH.COM di Jakarta, Selasa (26/8) malam.
Meski begitu, menurut Nefo, krisis finansial dunia tidak terlalu mempengaruhi pasar Indonesia. Pasalnya, pasar domestik agak terisolir dari perekonomian dunia. Bursa Indonesia lebih banyak dipengaruhi pergerakan komoditas, yaitu berkisar 30%.
Hal itu terlihat dari total investasi asing yang masih aktif melakukan transaksi di pasar domestik. "Di pasar regional, total investasi asing saat ini adalah minus. Hanya Indonesia yang positif," ujar Nefo.
Penempatan dana di Indonesia, lanjut Nefo, tidak hanya di saham, tapi juga di instrumen lain seperti Surat Utang Negara (SUN) dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Di tengah pelambatan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi domestik diyakini masih ada. "Hal ini mendorong tingginya potensi penempatan dana," paparnya.
Nefo mengatakan, para fund manager akan kembali ke pasar pada September sehingga aktivitas mulai ramai lagi dan terus meningkat hingga Desember.
Di tengah absennya para fund manager, Nefo menyarankan agar investor memanfaatkan momentum bulan sepi transaksi ini dengan melakukan pembelian di beberapa sektor.
Saham yang masih menarik, salah satunya sektor batubara seperti PTBA dan BUMI. Emiten PTBA dinilai positif karena tidak ada berita negatif di luar kinerja perseroan. Sebut saja masalah royalti dan penunggakan pajak. "Harga jual batubara PTBA bagus dan kondisi keuangan perseroan yang menguat," papar Nefo.
Saham BUMI juga masih menarik terkait valuasinya yang murah. Meski prediksi produksi perseroan turun karena berbagai masalah, harga jual batubara BUMI naik jadi US$ 69-70 per ton. "Ini bisa untuk mendongkrak pamor batubara," ujarnya.
Untuk saham lain, Nefo menyarankan TLKM karena aman. Biasanya, ketika semua saham anjlok, investor mengalihkan kepemilikan sahamnya ke saham berbasis telekomunikasi. Masalah persaingan tarif yang dulu mencuat, kini selesai dengan adanya peningkatan pelanggan.
Nefo juga merekomendasikan saham ASII dengan pertimbangan sebagai emiten di sektor konsumer yang kuat, didukung penjualan kendaraan bermotor yang tidak terpengaruh inflasi dan kenaikan harga BBM. "Saham ASII masih bisa naik hingga akhir Desember," jelasnya.
Demikian pula saham PGAS, yang masih berpotensi menguat karena harga gas relatif stabil, terutama karena ekspektasi kenaikan demand. "Target harga untuk PGAS ada di level Rp 2.700 per lembar," kata Nefo.
IHSG pada perdagangan Selasa (26/8) merosot 19,676 poin (0,92%) ke posisi 2.107,548. Perdagangan saham mencatat transaksi 42.343 kali dengan volume 2,038 miliar unit saham senilai Rp 1,791 triliun. Terctata 64 saham naik, 97 turun, dan 86 stagnan.
Saham-saham yang ditutup menguat, antara lain, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) naik Rp 200 ke posisi Rp 25.650, PT United Tractors (UNTR) naik Rp 100 ke Rp 10.750, PT Perusahaan Gas Negara (PGAS) naik Rp 25 ke Rp 2.425, dan PT Bakrie Telecom (BTEL) naik Rp 20 ke Rp 280.
Saham-saham yang ditutup melemah adalah PT Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 400 ke posisi Rp 17.650, PT Bayan Resources (BYAN) turun Rp 350 ke posisi Rp 5.450, PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) turun Rp 200 ke Rp 7.750, dan PT Astra International Tbk turun Rp 200 ke Rp 19.800.
Saham PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 150 ke Rp 5.250, PT PP London Sumatra (LSIP) turun Rp 50 ke Rp 5.750, dan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 50 jadi Rp 13.950. [E1/I3]
- Potensi ‘Upside’ di Saham Bank-CPO
- Tugu Pratama Siap Jual Saham
- Indeks BEI 'Fifty-Fifty', Komoditas 'Ngerem'
- Dow Keok, S&P dan Nasdaq Perkasa
- Bapepam Panggil Manajer Investasi
- WIKA Lanjutkan Program 'Buyback'
- Nasabah Sarijaya Minta Kejelasan 'Deadline' BEI
- WIKA Lanjutkan 'Buyback'
- Sarijaya Tawarkan Diri ke Sinar Mas
- BUMI Ikut Dorong IHSG Melemah
- Suspensi Sarijaya Akan Lama
- Bapepam Cekal Direksi Sarijaya
- 'Bluechips' Jatuhkan IHSG 18 Poin
- BUMI Akuisisi Pendopo Coal
- Qtel Belum Tentu Kuasai 65% ISAT