WAWANCARA
INDEKS WAWANCARA
![]() | |
| Iman Sugema (inilah.com/Ahmad Munjin) |
INILAH.COM, Jakarta – Setelah menggembar-gemborkan konversi dari minyak mentah ke gas, pemerintah justru menaikkan harga gas elpiji. Kebijakan ini dinilai aneh dan pemerintah dianggap menerapkan filosofi yang salah.
Hal itu diungkapkan Iman Sugema, Direktur International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE), di Jakarta, Rabu (27/8). Menurutnya, Pemerintah itu selalu memberikan janji yang kemudian tidak ditepati
“Kenaikan ini aneh. Malaysia menurunkan harga BBM, kok gas malah naik, kan harga dunia mulai turun. Tidak masuk akal. Itu artinya kebijakan kita relatif buruk. Pasalnya, sebagian elpiji punya Indonesia. Jadi nggak harus dipatok harga internasional. Karena biaya produsinya paling US$ 5-6 per barel per 160 liter,” ujarnya.
Lebih lanjut Iman menyarankan program pengalihan secara menyeluruh. Konversi minyak tanah ke gas, misalnya, bisa saja dengan membangun infrastruktur pipa ke rumah-rumah. Sehingga pengontrolannya lebih mudah. Berikut petikan wawancaranya.
Harga elpiji mengalami lonjakan di atas harga resmi. Apa sebenarnya yang terjadi?
Kenaikan elpiji di luar harga resmi sebetulnya akibat dari perpindahan konsumen dari yang tidak disubsidi ke yang bersubsidi. Memang seharusnya sudah diprediksi karena disparitas harganya tinggi. Seperti halnya pengusaha membeli minyak tanah bersubsidi.
Artinya, bukan sesuatu yang mengejutkan. Pertanyaannya sekarang, bagaimana hal itu diatasi. Sebetulnya, kalau pengawasannya relatif efektif, kemudian penyaluran tabungnya juga sesuai dengan target, mestinya hal ini tidak menjadi masalah.
Seharusnya tidak semua orang dibebaskan membeli. Yang terjadi adalah orang kaya membeli dulu tabung dari orang miskin. Dalam kasus tabung gas 3 kg ini juga terjadi salah penyaluran.
Dulu tujuan konversi minyak ke gas, karena harga gas terjangkau. Tapi setelah konversi harga gasnya melambung dan mengikuti harga internasional, apa ada yang salah?
Pemerintah selalu memberikan janji yang kemudian tidak pernah ditepati. Karena itu, saya pikir kita harus melakukan program pengalihan secara menyeluruh. Misalnya dari minyak tanah ke gas.
Caranya dengan apa? Apakah mungkin misalnya menyalurkan gas lewat pipa ke rumah-rumah. Memang butuh waktu, tapi hal itu harus direncanakan dari sekarang. Kalau melalui rumah tangga, meterannya bisa diatur yang kaya berbeda dengan yang miskin. Atau mungkin yang miskin cukup dengan tabung saja.
Berapa lama prediksi realisasinya?
Untuk membangun pipa gas itu diperlukan waktu hanya satu tahun. Biaya mungkin sekitar Rp 25 triliun untuk kota-kota besar terlebih dahulu seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang dan seterusnya. Kalau untuk Jakarta, saya pikir investasinya sekitar Rp 5 triliun karena penduduk Jakarta sekitar 8 sampai 10 juta.
Bagaimana ketersedian pasokan gas untuk rumah tangga?
Elpiji itu kita memang mengimpor, tapi kalau gas bumi yang disalurkan nanti lewat pipa, tinggal di shifting saja. Yang tadinya untuk diekspor maka kita gunakan saja untuk dalam negeri. Asal ada kemauan.
Dari sisi biaya, mana yang lebih murah tabung atau pipa?
Dari segi kepraktisan, lebih praktis pipa. Dalam jangka panjang biayanya lebih murah. Karena tidak harus digotong-gotong, lebih efisien. Tapi investasinya lebih tinggi dibandingkan tabung.
Kalau dari segi keamanan, tentunya ada standarnya. Nggak perlu terlalu diekspos bahwa akan meledak. Kalau kecelakaan, ya meledak. Artinya memang ada standar yang harus dipenuhi.
Apa benar, kenaikan harga elpiji untuk menyeimbangkan harga internasional?
Itu sebenarnya merupakan filosofi yang salah. Yang betul adalah kalau biaya produksinya x, pasti menguntungkan. Gas ini kan sumber daya milik negara. Artinya Pertamina sudah untung dan tidak perlu menaikan harga.
Kenaikan ini sebenarnya aneh. Malaysia menurunkan harga BBM, kok gas malah naik, kan harga dunia mulai turun. Tidak masuk akal. Itu artinya kebijakan kita relatif buruk. Pasalnya, sebagian elpiji berasal dari Indonesia. Jadi nggak harus dipatok harga internasional. Karena biaya produsinya paling US$ 5-6 per barel per 160 liter. [E1]
[ Kirim ke teman ]