

(inilah.com)
INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah sepertinya sudah harus bersiap-siap meningkatkan stok bahan bakar minyak (BBM), salah satunya premium, karena pada 2009 kebutuhan bahan bakar jenis ini akan meningkat sebesar 5%.
Kepala BPH Migas Tubagus Haryono menegaskan hal itu dalam rapat dengar pendapat Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi dengan Komisi VII DPR-RI, di Jakarta, Kamis (28/8).
Tubagus mengatakan kenaikan kebutuhan premium 2009 sebesar 5% bila dibandingkan dengan realitas volume penjualan jenis BBM tertentu pada 2008.
Hal itu disebabkan antara lain kenaikan sektor transportasi akibat kenaikan jumlah kendaraan bermotor, terutama roda dua, dan kenaikan frekuensi penggunaan kendaraan akibat meningkatnya kegiatan ekonomi.
Selain itu, katanya, juga disebabkan karena naiknya harga BBM non-subsidi di atas Rp 10.000 per liter.
“Ada kecenderungan masyarakat kembali menggunakan BBM PSO jenis premium,” katanya.
Menurut dia, kebutuhan volume premium meningkat karena adanya hari-hari libur dan hari-hari besar nasional.
Ditambah lagi dengan adanya defisit pasokan listrik sehingga penggunaan premium untuk keperluan genset dan non kendaraan bermotor meningkat.
Perkiraan realisasi kuota jenis BBM tertentu RAPBN 2009 sebesar 36.854.448 kilo liter terdiri atas premium 94.444.354 kl, minyak tanah 5.804.911 kl, minyak solar 11.605.183 kl.
Hal itu berdasarkan asumsi harga minyak mentah Indonesia sebesar US$ 90-US$ 110 per barel, dengan kurs rupiah 8.950-9.050 per dolar AS.[L2]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Wah! Minyak Merosot Lagi di US$ 41
- Harga BBM Turun Dibahas Malam Ini?
- Saling Tuding BBM Macet
- Pertamina Siap Beli Tuban Petro
- Pertamina Belum Putuskan Mitra Natuna
- Rio Tinto Tetap Tambang Nikel Sulawesi
- 2015, Produksi Batubara China Naik 30%
- UU No.21 'Lumpuhkan' Pertamina
- Harga Minyak Asia Bisa US$ 70
- Mantan Kapolri Jadi Komut Pertamina
- Stok Minyak Sekarang Juga!
- Komputerisasi Pertamina Menggiurkan
- Yes! Emas Hitam Asia Naik Tipis
- Akhirnya Minyak Rontok di US$ 42
- Komputerisasi Pertamina Dipaksakan