
INILAH.COM, Jakarta - Langkah pemerintah mengoptimalisasi pengembangan produksi bahan bakar nabati (biofuel) guna mengantisipasi krisis energi pada 2009 kemungkinan bakal terganjal program ketahanan pangan.
"Prioritas kita untuk beras adalah bagi kebutuhan pangan dulu. Begitu juga gula tebu dan jagung yang masih diimport untuk pangan dulu, jagung masih import 10 % untuk pangan dulu. Jadi lebih baik memfokuskan ke pangan dulu baru selebihnya untuk biofuel," ungkap Ketua Dewan Pembina Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Siswono Yudohusoho, usai 'Seminar Overcoming the Global Food Crisis', Kamis (28/8), di Jakarta.
Menurut Siswono, singkong (kasava) merupakan komoditas yang bisa membantu pemerintah dalam meningkatkan suplai energi biofuel. "Kasava paling cepat karena saat ini sudah diekspor," jelasnya.
Disebutkan, komoditas sawit juga bisa digunakan apabila sudah terjadi surplus. Berbeda dengan gula dan jagung, yang lebih dominan untuk kebutuhan pangan.
"Saya kira dalam lima tahun ini sudah bisa suplai untuk biofuel," ungkapnya.[L5]
- Nasib Semen Kupang Terkatung-katung
- Asyik..PU Bisa Serap 1,1 Juta Pekerja
- Menhub: Tinggal Tarif Taksi tak Turun
- Tarif Angkutan Diumumkan Pekan Depan
- Ternyata Rakor Bahas Tarif Angkutan
- AirAsia Miliki Bandara Sendiri
- WIKA Raih Proyek Rp 240 M
- Infrastruktur Tumpuan Saat Krisis?
- Kadin: Sulit Buka Pasar Ekspor Baru
- RI Siap Ekspor 1 JutaTon Beras
- SBY Tantang Pengusaha Kompetitif
- Kiat Rizal Ramli Bantu Ekonomi Rakyat
- ADHI Garap Proyek Alihan Rp 9 T
- GM Pertanyakan Konsistensi RI
- Kawasan Perdagangan Bebas Dihapus