WAWANCARA
INDEKS WAWANCARA
![]() | |
| Evita Herawati Legowo (tempo photo) |
INILAH.COM, Jakarta – Meski konsumsi BBM bersubsidi tahun ini terancam melebihi kuota anggaran negara 2008, pemerintah tetap optimistis di 2009 dapat ditekan. Lagi-lagi yang diandalkan adalah program konversi dan diversifikasi energi.
Total konsumsi BBM bersubsidi hingga 27 Agustus mencapai 25,761 juta kiloliter atau 72% dari kuota APBNP 2008 sebesar 35,475 juta kiloliter (KL) . Sehingga diprediksikan, konsumsi hingga akhir tahun bisa melonjak 9,7% dari kuota hingga 38,923 juta KL.
Namun, pemerintah tetap percaya diri dengan menargetkan total BBM subsidi untuk RAPBN 2009 sebesar 36,854 juta kiloliter. Rinciannya, sesuai nota keuangan 2009 adalah premium 19,444 juta KL, minyak tanah 5,804 juta KL, dan solar 11,605 juta KL.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Evita Herawati Legowo mengatakan, pemerintah akan menjalankan program konversi dan diversifikasi guna mencapai target kuota BBM bersubsidi tersebut. Program konversi antara lain melalui kampanye dan sosialisasi hemat energi serta pemakaian minyak bakar pada pembangkit.
“Misalkan saja program konversi tahun 2009 yang mengalihkan volume minyak tanah bersubsidi sebesar empat juta kiloliter dengan 1,6 juta ton elpiji. Sehingga, konsumsi minyak tanah bersubsidi hanya 5,8 juta kiloliter di 2009 mendatang,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (28/8). Berikut ini petikan lengkap wawancaranya.
Bagaimana konsumsi BBM hingga saat ini?
Total konsumsi BBM bersubsidi hingga 27 Agustus mencapai 25,761 juta KL atau 72% dari kuota APBNP 2008. Salah satu penyebab kenaikan konsumsi adalah pertumbuhan kendaraan yang melebihi ekspektasi dan banyaknya kendaraan industri terutama di daerah pertambangan dan perkebunan yang juga menggunakan BBM subsidi.
Dengan kondisi seperti ini, maka estimasi konsumsi hingga akhir tahun bisa melonjak hingga 38,923 juta KL atau melonjak 9,7% dari kuota. Jumlah tersebut terdiri dari premium 19,47 juta KL, minyak tanah 7,56 juta KL, dan solar 11,891 juta KL.
Dengan prediksi lonjakan konsumsi minyak, apa akan ada revisi peningkatan lifting minyak?
Target lifting 950 per barel itu sudah yang paling realistis buat kami. Produksi lapangan minyak kita itu memang menurun sampai 13%. Nah supaya produksi tidak terlalu jatuh, lifting akan dinaikkan sehingga tertahan penurunannya hingga di level 9%.
Minyak bumi itu tidak terus-terusan berproduksi. Sekarang kilangnya tambah tua, maka produksi minyak bumi tambah menurun. Karenanya harus ada kilang-kilang minyak baru.
Kilang baru tampaknya masih rencana jangka panjang, apa ada antisipasi lain?
Ada dua, energi alternatif dan penghematan energi. Misalkan saja program konversi di 2009 yang mengalihkan volume minyak tanah bersubsidi sebesar empat juta kiloliter dengan 1,6 juta ton elpiji.
Sehingga, konsumsi minyak tanah bersubsidi hanya 5,8 juta kiloliter di 2009 mendatang. Pemerintah akan menjalankan program konversi dan diversifikasi guna mencapai target kuota BBM bersubsidi.
Konversi ke gas ini sepertinya banyak hambatan, seperti sekarang ada kelangkaan elpiji 3 kg yang menyebabkan harga gas melambung, apa pendapat Anda?
Kami akan melakukan verifikasi. Kalau verifikasi ini sudah selesai, tentu hasilnya akan dikomunikasikan dengan Pertamina. Kami akan lihat apakah konsumennya memang tepat sesuai yang dituju.
Semuanya bisa dilihat apakah target konversinya tercapai atau tidak. Kalau ada something wrong, ada angka yang geser nanti kami akan berkomunikasi dengan Pertamina.
Apakah ada masalah di sistem distribusinya?
Untuk sementara sih belum. Tapi salah satu rencana kami adalah membuat sistem distribusi tertutup supaya mirip minyak tanah untuk satu kendali. Itu salah satu, tapi itu masih dalam wacana. Kami belum bikin mekanismenya. [E1]
[ Kirim ke teman ]