

(inilah.com/subekti)
INILAH.COM, Jakarta – Kebutuhan bankir dalam penerapan bidang penerapan manajemen risiko makin mendesak. Salah satunya upayanya adalah membentuk Asosiasi Pengelola Risiko Bank atau Banker Association for Risk Management (BARa).
Secara struktural, organisasi BARa akan menjadi bagian dari Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Seperti halnya Ikatan Auditor Intern Bank (IAIB), Certified Wealth Manager Association (CWMA) dan Association Cambiste Internationale (ACI) Indonesia Forexindo.
Wadah itu akan dijaga untuk menjadi lembaga nirlaba dan non-politis. Selain menjadi sarana komunikasi dan ajang kerjasama para bankir dalam penerapan konsep manajemen risiko secara efektif, khususnya para bankir yang bertugas dan bertanggungjawab atas penerapan manajemen risiko di masing-masing bank.
Anggota Dewan Kehormatan BARa Agus Martowardojo mengatakan, baik IBI maupun Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) merasa ada kebutuhan risk management practice khususnya industri perbankan.
“Jadi, faktor pengelolaan risiko ini sangat diperlukan di industri perbankan dan bisa dikatakan sekarang dalam pengelolaan organisasi harus menyertakan disiplin risk management ,” ujar Agus yang juga Ketua Umum IBI.
Penerapan manajemen risiko di perbankan Indonesia masih merupakan tantangan tersendiri. Terutama menciptakan industri perbankan yang sehat namun tetap dapat menjaga daya saingnya.
Juga implementasi Bank for International Settlement yang dikenal dengan kesepakatan Basel II yang direncanakan mulai diterapkan di Indonesia di 2009 secara bertahap. Berikut ini petikan lengkap wawancara dengan Agus Martowardojo yang juga Dirut Bank Mandiri itu.
Apa dasar pembentukan lembaga manajemen risiko, BARa?
Saya merasa baik di IBI maupun Perbanas, sama-sama merasakan kebutuhan risk management practice di industri, khususnya perbankan. Risk management bukan hanya terkait dengan kredit dan atau market risk tetapi juga meliputi complience, legal, reputation, strategic dan liquidity risk.
Jadi, faktor pengelolaan risiko ini sangat diperlukan di industri perbankan dan bisa dikatakan sekarang, dalam pengelolaan organisasi harus menyertakan disiplin risk management. Jadi, kami ingin menyampaikan memang kebutuhan itu didasarkan pada baik institusinya maupun individunya.
Lantas di mana urgensi BARa?
Sebelum krisis Asia tahun 1997, banyak perbankan yang belum menerapkan prinsip-prinsip dasar risk management. Sehingga, pengembangan bisnis, pengembangan produk, sampai administrasi dan pengelolaannya itu ada di tangan satu orang. Fungsi risk management ada di orang itu juga.
Karena itu otomatis terjadi konflik, dan hingga sekarang menjadi tidak ideal. Kalau disiplin risk management sudah dibangun, senantiasa menjadi pemberi masukan sampai pemberi keputusan. Hal ini untuk menjaga nilai yang akan kita berikan kepada institusi supaya bisa terus tumbuh dan menciptakan nilai bagi perusahaan.
Apa perbedaan BARa dengan Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (BSMR), dan seperti apa kaitannya dengan IRPA?
IBI menjadi organisasi yang efektif setelah penggabungan bankers club Indonesia dan IBI di 2005. Pada saat itu, kebutuhan untuk sosialisasi risk management di industri perbankan sudah harus dilaksanakan. Sehingga beberapa inisiatif risk management sudah disosialisasikan ke industri perbankan pada 2002-2003.
Nah, saat itu berdiri BSMR yang kemudian melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti sertifikasi. BSMR itu ada di bawah Indonesian Risk Professional Association (IRPA). Di IRPA keanggotannya itu tidak hanya dari perbankan, tetapi ada dana pensiun, asuransi, sampai ke perusahaan sekuritas, bisa masuk ke dalam IRPA.
Bagaimana dukungan perbankan di Indonesia terhadap pendirian BARa?
Lihat saja, organisasinya baru berdiri, tapi semua perbankan kelihatannya hadir, termasuk bank asing. Semuanya ingin mensponsori. Jadi kelihatan bahwa sebetulnya, bank-bank ini merasa ada kebutuhan. Oleh karena itu kami dari IBI menyambut baik dan mengatakan, bahwa apa yang sudah ada, tolong diajak bicara dan diselaraskan untuk kepentingan masa depan perbankan.
Sekarang kita punya BARa dan nanti pasti akan berusaha meningkatkan kompetensi anggotanya, selain meningkatkan pemahaman implementasi risk management bankir-bankir di Indonesia. [E2/E1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Purbaya Yudhi Sadewa
Tempatkan Komisaris Independen di Sekuritas - Deo Rawendra
Akuisisi Persulit Finansial BUMI - Thomas Darmawan
Makanan dan Minuman Tumbuh 12% - Mas Wigrantoro Roes Setiyadi
Komponen Lokal Hanya Retorika - Yanuar Rizky
BUMI Tunggu Digoreng - Purbaya Yudhi Sadewa
Akumulasi BUMI untuk Jangka Panjang - Arianto A Patunru
Lembaga Dana ASEAN Hanya Pelengkap - Gunaryo
Harga Sembako 2009 Berpeluang Turun - Hendri Saparini
Kelangkaan Pangan Jadi Ancaman - Achmad Rizal
Cicil Mobil Toyota Sekarang Gampang - Farial Anwar
Tutup Tahun, Rupiah di 11 Ribu - Purbaya Yudhi Sadewa
Gerakan BNBR, Aneh! - Yanuar Rizky
Tekanan Jual Hingga Akhir Tahun - Alfi Wijaya
2009: Perbankan Syariah Tetap Eksis - Syamsul Hadi
Ekonomi Indonesia Seperti Benalu