

(faiza.files.wordpress.com)
INILAH.COM, Jakarta – Sudah menjadi hukum alam, manusia senang mendatangi pusat keramaian seperti pasar. Namun apa jadinya jika keramaian pasar itu mengusik arus lalu lintas. Jelas hal itu membuat kemacetan apalagi di jalur mudik Lebaran. Dibenci dan dirindu?
Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal di sela kunjungan kerja di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemarin memaparkan niatnya untuk meniadakan sementara pasar tumpah demi kelancaran di jalur mudik Lebaran tahun ini.
"Akan diupayakan, pasar tumpah di jalur mudik ditiadakan," kata Menhub Jusman Syafii Djamal, kemarin. Upaya peniadaan pasar tumpah tersebut akan dibahas dan melibatkan pihak terkait pada 3 September 2008.
Keputusan dan opsinya akan diselesaikan dalam Rakor Angkutan Lebaran. Opsinya adalah memberikan kesempatan kepada pemda masing-masing yakni mulai dari relokasi sementara, penjagaan oleh aparat secara "pagar betis" atau lainnya.
Data Departemen Perhubungan pada rencana operasi Angkutan Lebaran 2008, untuk lintas pantura Jawa Barat sedikitnya ada 24 titik rawan macet karena pasar tumpah. Dari 24 titik itu sedikitnya ada tujuh titik pasar tumpah yang paling rawan macet karena lokasi pasar persis di bahu jalan kedua sisi.
Pasar itu yakni Pasar Losari, Pasar Gebang, Pasar Kertasemaya, Pasar Tegal Gubug, Pasar Patrol, Pasar Ciasem dan Pasar Sukamandi serta Pasar Surodadi. Juga sejumlah kawasan pabrik yang berpotensi macet seperti di Pati, Kudus, Demak, Kota Semarang, Kendal, Batang, Wiradesa, Bumiayu, Sokaraja dan lainnya.
Keberadaan pasar sebagai pusat keramaian tidak bisa dilepaskan dari arus lalu lintas, baik itu keluar masuk barang maupun transportasi. Pembeli yang sering ogah bersusah payah masuk ke dalam pasar untuk mencari keperluannya dan lebih senang membeli yang ada di depan mata ikut mendorong terjadinya pasar tumpah ini. Sehingga seringkali keberadaannya tumpah ruah hingga ke jalan raya.
Pasar tumpah semula berlangsung pada pagi hari. Namun karena banyaknya pembeli seperti selama puasa dan menjelang Lebaran jam kerjanya bisa molor hingga siang atau sore hari. Malah kadang pasar tumpah ini terjadi selama 24 jam.
Kondisi pasar tumpah adalah buah kesalahan semua pihak baik pemerintah selaku regulator, pedagang serta pembeli. Pemerintah turut bersalah dengan berbaik hati memberikan toleransi bagi pedagang untuk berjualan di pinggir-pinggir jalan.
Sedangkan mereka yang masih menggelar dagangannya tidak diberikan ganjaran yang setimpal, bahkan konon tetap dimintai pungutan. Pedagang juga jelas melanggar ketentuan dengan berjualan di lokasi yang tidak semestinya, pembeli juga sama bersalahnya.
- Asyik..PU Bisa Serap 1,1 Juta Pekerja
- Menhub: Tinggal Tarif Taksi tak Turun
- Tarif Angkutan Diumumkan Pekan Depan
- Ternyata Rakor Bahas Tarif Angkutan
- AirAsia Miliki Bandara Sendiri
- WIKA Raih Proyek Rp 240 M
- Infrastruktur Tumpuan Saat Krisis?
- Kadin: Sulit Buka Pasar Ekspor Baru
- RI Siap Ekspor 1 JutaTon Beras
- SBY Tantang Pengusaha Kompetitif
- Kiat Rizal Ramli Bantu Ekonomi Rakyat
- ADHI Garap Proyek Alihan Rp 9 T
- GM Pertanyakan Konsistensi RI
- Kawasan Perdagangan Bebas Dihapus
- Asyik! Harga Minyak Goreng Turun