

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Kisruh akuisisi Maybank terhadap PT Bank Internasional Indonesia (BII) masih belum berakhir. Sikap plintat-plintut masih melanda Maybank. Investor saham pun terpaksa hanya bisa menunggu.
Nasib perbankan nasional serasa digantung Malaysia. Pihak Maybank memang menyatakan kesanggupannya akan melakukan akuisisi pada September ini. Namun semua masih diselimuti ketidakpastian. Apalagi, selama ini Maybank seringkali terlihat ragu-ragu.
CEO Maybank Abdul Wahid, baru-baru ini mengungkapkan harapannya bahwa rencana akuisisi BII bisa rampung September. Alasannya, rencana akuisisi masih terbentur aturan tender offer Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
"Kami masih berdiskusi dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan solusi yang terbaik," kata Abdul Wahid. Pernyataan terakhir dari pihak Maybank ini juga masih belum berarti sebuah kepastian. Bahkan, masih mungkin terjadi pembatalan kembali sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya.
Padahal investor pasar modal sudah menunggu kelanjutan dari proses akuisisi ini. Hal ini berkait dengan suspensi atau penghentian transaksi saham sementara yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap saham berkode bursa BNII itu. BEI masih menunggu kepastian dan solusi yang akan diambil oleh Maybank.
Sebelumnya, Maybank membeli saham BII sebesar 55% dari konsorsium Temasek serta Kookmin Bank senilai US$ 2,7 miliar. Namun kemudian akuisisi ini telah dibatalkan oleh pihak bank sentral Malaysia, Bank Negara Malaysia (BNM), meski kemudian keputusan itu kabarnya akan dicabut lagi.
Maybank selalu menimpakan kisruh kasus akuisisi ini kepada aturan tender offer yang diberlakukan Bapepam-LK. Aturan yang mewajibkan pelepasan 20% saham ke publik dalam tempo dua tahun ini memang berpotensi merugikan pihak Maybank.
Apalagi pada kuartal II 2008, Maybank hanya mencatat laba bersih 703 juta ringgit (US$ 208 juta), turun 33% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,05 miliar ringgit. Sementara di semester I 2008, laba Maybank tercatat 2,93 miliar ringgit, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,18 miliar ringgit.
Namun sebenarnya aturan ini sangat fleksibel. Maybank bisa tidak melakukan pelepasan saham jika kondisi pasar sedang tidak baik. Ini adalah sebuah kerancuan akan ketakutan berlebihan yang ditunjukkan pihak Maybank selama ini.
Yang jelas persoalan akuisisi BII ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. Pemerintah harus mendapatkan jaminan ketegasan atas sikap Maybank. Persoalan ini jangan sampai merugikan investor akibat suspensi sahamnya.
Ketika disuspensi, saham BII berada di level Rp 460. Saham ini melejit terkait rencana aakuisisi Maybank tersebut. Dari kisaran Rp 200-300 pada awal tahun terus menanjak.
Analis pasar modal meramalkan harga BNII akan anjlok ke harga fundamental yaitu di level Rp 200-250.
Untungnya, peristiwa ini tidak berdampak pada penurunan kinerja BII karena terpisahkan antara urusan direksi dengan pemegang saham. Laba bersih BII pada semester I 2008 masih bertumbuh 9% dibandingkan periode yang sama 2998 menjadi Rp 316 miliar.
Kinerja tengah tahun ini terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 16% menjadi Rp 1,404 triliun dibandingkan dengan Rp 1,209 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara kredit yang sudah disalurkan tumbuh 27% melampaui pertumbuhan industri secara keseluruhan. [I2]
- Rupiah Kembali Terguncang
- Inilah Bank Agen Resmi Reksadana!
- Depkeu Lelang SUN Rp 3 T
- BNI Terintegrasi ke ATM Jepang
- Wah! Rupiah Tembus Rp 11.000 Lagi
- Tidak Jalankan PNPM, Tuntut Pemda
- Inilah Realisasi APBNP 2008!
- Wuih! KPK Usik Rekap Bank 1998
- Utang BLBI Tersisa Rp 200 T
- Bunga Bank Turun, Tinggal Tunggu
- Sssst! Menkeu dan BI Datangi KPK
- Wah! Temasek Rugi Besar di Merrill
- Menunggu Penurunan Bunga Bank
- Kasus Sarijaya tak Dongkrak DPK Bank
- 2009, Saatnya Bank Tambah Modal