

(inilah.com/bayu suta)
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah Senin (1/9) diperkirakan cenderung melemah. Datangnya bulan Ramadan menurunkan akitivitas di pasar valas, sementara tren menguatnya dolar akan menekan posisi rupiah. Namun, BI tetap menjaga rupiah di level aman.
Analis valas bank Niaga, Vakela Sari mengatakan, transaksi di pasar valas cenderung akan menurun karena datangnya bulan Ramadan. Hal ini karena pelaku pasar lebih memilih mengerem aktivitas jual beli valas saat ini.
Alhasil, pasar spot rupiah akan sepi. Namun, BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar di level aman yaitu 9.150-9.160 per dolar AS. “Rupiah hari ini diperdagangkan di level 9.110-9.180 per dolar AS," ujarnya.
Pelaku valas juga mengantisipasi data inflasi Agustus yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini. Pasar memprediksi inflasi masih akan tetap tinggi, meskipun tidak setinggi bulan sebelumnya.
Ekspektasi ini membawa sentimen negatif yang berpotensi membuat rupiah melemah. “Investor berekspektasi adanya kenaikan BI rate agar dapat men-support nilai tukar rupiah,” lanjutnya.
Menurut Vakela, terbuka kemungkinan BI akan menaikkan suku bunganya atas tingginya inflasi. Seperti sudah pernah diungkapkan sebelumnya, BI akan menaikkan suku bunga hingga akhir tahun mencapai 9,75%.
Apalagi ada desakan cukup kuat dari pasar terhadap kenaikan suku bunga BI rate itu. Hal ini karena tingkat suku bunga perbankan rata-rata sudah mencapai 11-12%. “Ini menjadikan suku bunga BI rate tidak lagi menarik,” tuturnya.
Terbukti dari instrumen investasi yang ditawarkan pemerintah seperti obligasi ritel Indonesia (ORI) atau sukuk, tidak mampu menyerap dana cukup besar. Pasalnya, imbal hasil yang ditawarkan masih rendah yaitu 11,45%. Sedangkan deposito ada yang menawarkan bunga hingga 12%. “Investor memilih menempatkan dana di bank sehingga likuiditas rupiah menjadi ketat," ujarnya.
Di sisi lain dolar AS diperkirakan berada dalam tren menguat terhadap mata uang utama dunia sampai September-Oktober. Investor mengantisipasi pelaksanaan pemilu AS September dengan ekspektasi jika Partai Demokrat menang, ekonomi cepat pulih.
“Ini berarti, mendekati pemilu AS, penguatan dolar akan dijaga sehingga tetap stabil,” ujarnya.
Dolar hingga akhir pekan lalu terpantau mengalami penguatan terhadap mata uang kuat lainnya. Dolar terhadap euro ditutup di level 1.4673 per euro, naik 6.3% selama Agustus. Peningkatan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang gabungan negara Eropa ini dipicu merosotnya harga minyak mentah dunia yang saat ini kembali ke bawah level US$ 120 per barel.
Selain itu dolar juga menguat selama lima bulan berturut-turut terhadap mata uang Jepang. Akhir pekan lalu, dolar AS ditutup naik 0,8% di level 108,80 yen. Sementara itu dolar juga mengalami penguatan yang terbesar terhadap poundsterling sejak tahun 1992.
Penguatan dolar juga berdampak pada turunnya harga minyak mentah dunia. Indikator makroekonomi AS yang membaik seiring positifnya pertumbuhan ekonomi negara itu pada kuartal kedua membawa kepercayaan pasar bahwa ekonomi AS sedang dalam pemulihan.
Adapun kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, akhir pekan lalu melemah tipis 5 poin menjadi 9.145 per dolar AS. Rupiah diperdagangkan di level 7.921,09 terhadap dolar Australia, berada di posisi 13.495,23 terhadap mata uang gabungan negara Eropa dan di level 16.764,73 atas poundsterling.
Selain itu, rupiah terhadap dolar Hong Kong ditransaksikan di level 1.172,34, atas mata yen di level 8.389,96 dan terhadap dolar Singapura di level 6.460,48. [E1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Rupiah Kembali Terguncang
- Inilah Bank Agen Resmi Reksadana!
- Depkeu Lelang SUN Rp 3 T
- BNI Terintegrasi ke ATM Jepang
- Wah! Rupiah Tembus Rp 11.000 Lagi
- Tidak Jalankan PNPM, Tuntut Pemda
- Inilah Realisasi APBNP 2008!
- Wuih! KPK Usik Rekap Bank 1998
- Utang BLBI Tersisa Rp 200 T
- Bunga Bank Turun, Tinggal Tunggu
- Sssst! Menkeu dan BI Datangi KPK
- Wah! Temasek Rugi Besar di Merrill
- Menunggu Penurunan Bunga Bank
- Kasus Sarijaya tak Dongkrak DPK Bank
- 2009, Saatnya Bank Tambah Modal