

(metrotvnews.com)
INILAH.COM, Jakarta – Pertumbuhan kredit perbankan melonjak tajam. Potensi munculnya kredit macet (NPL) pun tinggi. Mengkhawatirkan? Tidak juga. Perbankan tetap selamat sepanjang selektif dan berhitung cermat menyalurkan kredit.
Ekonom senior BNI, Ryan Kiryanto mengatakan, meski laju pertumbuhan kredit bank secara nasional melesat, perbankan saat ini tidak perlu mengerem laju pertumbuhan kreditnya. Yang perlu dilakukan perbankan adalah selektif dan berhitung cermat saat menyalurkan kredit. Tentu, agar kredit yang mereka kucurkan, tak jadi kredit bermasalah.
"Memasuki semester II tahun ini, sebaiknya bank tidak mengerem pertumbuhan kreditnya. Kredit bisa tumbuh mencapai 20-24% asalkan bank terus mencermati penyaluran kredit di sektor otomotif, properti dan manufaktur (kimia dasar)," kata Ryan.
Bank Indonesia, belum lama ini, mengumumkan laju pertumbuhan kredit perbankan (year on year) sudah mencapai 35%. Angka itu baru sampai minggu ketiga Agustus 2008.
Laju pertumbuhan penyaluran kredit itu di luar ekspektasi BI. Semula, BI memasang target pertumbuhan kredit sekitar 24,6% atau setara Rp 246,2 triliun untuk tahun 2008. Adapun penyaluran kredit terbesar ada di sektor modal kerja, konsumsi, dan investasi.
Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad mengatakan, beberapa bank sudah mengkoreksi rencana bisnisnya, namun tidak terlalu signifikan. Ini menyebabkan pertumbuhan kredit relatif tidak ada perubahan.
"Beberapa bank memang ada yang mengkoreksi, tetapi tidak besar. Bahkan ada yang year to date (Januari-Agustus) sudah 40% sehingga ruang untuk pertumbuhannya masih besar," katanya.
BI juga mengatakan pertumbuhan kredit baru kuartal ketiga masih akan naik lagi sebesar 9,5%. Peningkatan ekspektasi kredit ini dipicu tingginya rasio kecukupan modal bank serta membaiknya kualitas portfolio kredit (NPL). Terkait dengan persaingan usaha dengan bank lain, kebijakan BI menetapkan tingkat suku bunga (SBI) merupakan alasan lainnya pendorong peningkatan.
Menurut Ryan, pesatnya pertumbuhan kredit perbankan sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. Pasalnya, hal itu merupakan koreksi atas lambannya ekspansi kredit di tahun 2006 dan 2007 yang disebabkan lingkungan makro ekonomi tidak sekondusif sekarang.
"Dulu, pada 2006, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) kencang sekali. Soalnya, suku bunga simpanan tinggi karena inflasi juga tinggi,” ujar Ryan.
Kini, ketika inflasi agak rendah, dan suku bunga simpanan rendah, serta lingkungan makro ekonomi makin baik, pemilik dana banyak yang mengembangkan usahanya. Akibatnya, permintaan kredit naik pesat. “Terbukti, kini pertumbuhan DPK kalah jauh dibandingkan pertumbuhan kredit,” katanya.
Pada periode Juni 2007-Juni 2008, kredit tumbuh 31,6%, sementara DPK hanya tumbuh sekitar 15%. Selain itu, selama periode Januari-Juni 2008, DPK hanya bertambah Rp 45 triliun, sementara kredit yang tersalur Rp 144 triliun. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan DPK membuat rasio kredit terhadap DPK (loan to deposit ratio/LDR) meningkat menjadi 75%. Hal ini meningkatkan risiko likuiditas bank.
Ryan menyatakan, dalam hal ekspansi kredit ini, yang penting bank-bank tetap prudent (prinsip kehati-hatian), pembiayaan ke berbagai sektor untuk distribusi risiko, dan diarahkan ke sektor produktif. Ia memperkirakan semester kedua tahun ini, permintaan kredit akan tetap stabil, terutama untuk segmen UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah).
“Meski bank mengandalkan sektor UMKM dan konsumsi dalam penyaluran kreditnya, tetap harus dikendalikan karena akan berpengaruh terhadap kenaikan BI rate,” ujarnya. [I4]
- Rupiah Kembali Terguncang
- Inilah Bank Agen Resmi Reksadana!
- Depkeu Lelang SUN Rp 3 T
- BNI Terintegrasi ke ATM Jepang
- Wah! Rupiah Tembus Rp 11.000 Lagi
- Tidak Jalankan PNPM, Tuntut Pemda
- Inilah Realisasi APBNP 2008!
- Wuih! KPK Usik Rekap Bank 1998
- Utang BLBI Tersisa Rp 200 T
- Bunga Bank Turun, Tinggal Tunggu
- Sssst! Menkeu dan BI Datangi KPK
- Wah! Temasek Rugi Besar di Merrill
- Menunggu Penurunan Bunga Bank
- Kasus Sarijaya tak Dongkrak DPK Bank
- 2009, Saatnya Bank Tambah Modal