Ekonomi
01/09/2008 - 15:47
Borok Menahun di Industri Gula
Ahmad Munjin & M Dindien R

(inilah.com/bayu suta)

INILAH.COM, Jakarta - Penanganan gula rafinasi tampaknya tak pernah berujung. Petani tebu sudah kehilangan kesabarannya. Di Jember petani membakar kebun tebu, di Madiun tebu dibuang ke jalanan dan 10.000 ton gula di Subang menumpuk. Nyaris tanpa solusi.

Dalam dua-tiga hari terakhir persoalan gula rafinasi memuncak. Lihat saja ratusan petani tebu di Kabupaten Jember, Jawa Timur yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), membakar puluhan hektar tanaman tebu siap tebang.

Sementara petani tebu di wilayah PTPN XI Jawa Timur membuang gula pasir ke jalan di samping Pabrik Gula (PG) Pagotan Kabupaten Madiun sebagai bentuk protes atas maraknya gula impor dan rafinasi di pasaran yang mengakibatkan gula produksi petani tidak laku.

Aksi tersebut merupakan puncak kejengkelan petani tebu, terkait kebijakan pemerintah yang masih membuka kran impor gula rafinasi, sehingga gula produksi petani tidak laku. Akibatnya banyak gula tebu menumpuk di gudang.

Sedikitnya 16 ribu ton gula rakyat yang diproduksi di Pabrik Gula (PG) Pagotan kabupaten Madiun Jawa Timur tidak laku dijual ke pasaran. Sementara 10.000 ton gula hasil giling Pabrik Gula (PG) Subang sepanjang 2007 hingga kini belum terserap pasar akibat serbuan gula rafinasi ke sejumlah pasar.

Persoalan gula rafinasi ini sudah berlangsung tahunan bahkan di atas lima tahun tanpa ada solusi yang tepat. Terakhir keluar Surat Edaran Menteri Perdagangan No. 357/M-DAG/4/2008, pada 2 April 2008 mengenai penyaluran gula rafinasi di daerah dan meminta distributor langsung menjual ke industri makanan dan minuman tanpa melalui pengecer.

Namun itu pun tak berjalan efektif. Entah karena penanganan dan pengawasan yang masih setengah-setengah atau memang produksi gula rafinasi lebih disukai konsumen ketimbang gula tebu. Ini yang belum terungkap.

Pemerintah saat ini masih terus mencari solusi dan solusi tanpa akhir. "Itu sedang kita cari solusinya," kata Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan, Bayu Krisnamurthi di Gedung Departemen Keuangan, Jakarta, Senin (1/9).

"Kita akan lihat bagaimana koordinasinya agar supaya petani tidak marah dan membakar tebu seperti di Jember, dan buang gula ke jalanan di Madiun," katanya. Ia menyebutkan, pihaknya akan segera mengkoordinasikan upaya mencari solusi terkait masalah itu secepatnya.

Berdasar data, di pasaran kini terdapat 1,9 juta ton gula rafinasi yang diimpor pabrik gula rafinasi dan 685.000 ton gula rafinasi diimpor oleh industri makanan dan minuman. Sementara produksi petani mencapai sekitar 2,9 juta ton plus sisa 2007 sebanyak sekitar 1,3 juta ton. Sedangkan kebutuhan nasional mencapai sekitar 4,1 juta ton.

Apa yang terjadi di industri gula nasional jelas akibat buah dari kebijakan pemerintah yang menyimpang dari revitalisasi pertanian khususnya tebu atau pergulaan. Sementara penanganan yang lamban menimbulkan kasus ini bertambah buruk. Pabrik gula mulai mengurangi tenaga kerjanya sementara lahan tebu berubah peruntukkannya.

Semuanya terjerumus pada pertentangan dua raksasa di bidang bula yakni pelaku usaha gula tebu dan rafinasi. Namun pertentangan ini tetap berlangsung tanpa ada solusi nyata. Tanpa obat mujarab, borok menahun itu tak akan sembuh.

KOMENTAR BERITA