
INILAH.COM, Jakarta - Permintaan produk makanan dan ikan sepanjang bulan Ramadan hingga jelang lebaran diperkirakan akan melonjak 20-25%.
Kendati demikian, pengusaha setuju tidak menaikkan harga produk makanan dan minuman sepanjang puasa hingga menjelang lebaran. Pengusaha akan lebih terfokus pada upaya peningkatan kapasitas penjualan sepanjang puasa. "Saya rasa untuk kenaikan harga tidak ada. Yang naik kan cuma harga makanan dan minuman jadi, kalau yang kering atau kalengan tidak naik," papar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Thomas Darmawan, Senin (1/9), di Jakarta.
Dia mengatakan, permintaan terbesar memang berupa makanan manis seperti biskuit dan sirup. Namun permintaan untuk jenis makanan lainnya seperti mie instan biasanya juga mengalamai peningkatan.
Sekjen Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), HAM Siagian, mengatakan kenaikan permintaan ikan akan terus memuncak hingga menjelang lebaran nanti.
"Sekarang juga sudah naik. Tapi, masalahnya pasokan sedang menurun karena biasanya nelayan libur satu minggu di awal puasa," katanya.
Dia mengatakan, karena kurangnya pasokan, harga produk ikan di pasaran biasanya akan menaik, dan diperkirakan kenaikan mencapai 10-20%.
"Ikan itu kan musiman, cepat busuk, selain itu pemasarannya dikuasai tengkulak, jadi harga tidak pernah bisa stabil," ujarnya.[L5]
- Nasib Semen Kupang Terkatung-katung
- Asyik..PU Bisa Serap 1,1 Juta Pekerja
- Menhub: Tinggal Tarif Taksi tak Turun
- Tarif Angkutan Diumumkan Pekan Depan
- Ternyata Rakor Bahas Tarif Angkutan
- AirAsia Miliki Bandara Sendiri
- WIKA Raih Proyek Rp 240 M
- Infrastruktur Tumpuan Saat Krisis?
- Kadin: Sulit Buka Pasar Ekspor Baru
- RI Siap Ekspor 1 JutaTon Beras
- SBY Tantang Pengusaha Kompetitif
- Kiat Rizal Ramli Bantu Ekonomi Rakyat
- ADHI Garap Proyek Alihan Rp 9 T
- GM Pertanyakan Konsistensi RI
- Kawasan Perdagangan Bebas Dihapus