Ekonomi
01/09/2008 - 18:02
Gempuran Dolar Lemahkan Rupiah
Asteria

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Memburuknya pasar bursa berimbas negatif pada pergerakan rupiah awal pekan ini. Penguatan mata uang dolar AS juga terus menekan, sehingga rupiah tidak mampu bertahan di teritori positif.

Pada perdagangan di pasar valas Senin (1/9), rupiah turun 10 poin ke level 9.155 per dolar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu 9.145. Analis Bank Niaga Emanuel Krisnijayanto mengatakan, pada awal perdagangan, rupiah sempat jatuh hingga mencapai level 9.165, namun kemudian berhasil merambat naik ke kisaran 9.155.

Kendati mengalami penguatan, rupiah masih berada di teritori negatif. “Para pelaku lokal masih melepas rupiah, meski mata uang AS di pasar global melemah terhadap mata uang kuat lainnya,” katanya.

Salah satu indikator yang menjadi penggerak rupiah hari ini adalah kondisi indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terpuruk pada penutupan perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Senin (1/9) turun tipis 1,323 poin (0,06%) menjadi 2.164,620.

Selain itu, lanjut Emanuel, kekhawatiran tingginya laju inflasi Agustus mengakibatkan rupiah melemah. Padahal inflasi Agustus 2008 tecatat 0,51%, lebih rendah dibandingkan Juli sebesar 1,37%. Sedangkan laju inflasi tahun kalender 9,4% dan inflasi year on year (YoY) sebesar 11,85%.

Level tersebut di luar dugaan banyak pihak yang memperkirakan bahwa tingkat inflasi Agustus ini akan mengalami kenaikan hingga menembus level 12%. “Meski lebih rendah, namun inflasi Agustus masih berada dalam kisaran tinggi,” jelasnya.

Di sisi lain, analis valas Bank Himpunan Saudara Rully Nova mengatakan, pelaku pasar lebih cenderung membeli dolar AS ketimbang rupiah, karena mereka khawatir inflasi menyentuh 12% dari saat ini yang telah mencapai 11,85% (YoY). “Investor melepas rupiah untuk mencari untung, setelah beberapa hari lalu menguat,” ujarnya.

Selain itu, naiknya kembali harga minyak mentah juga membuat rupiah melemah. Harga minyak mentah berjangka Nymex untuk kontrak Oktober, naik US$ 1,52 (1,3%) dan ditransaksikan pada US$ 116,98 per barel.

Sebelum adanya ancaman Badai Gustav pada Agustus lalu, harga minyak mentah turun 7%. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak bulan Oktober turut mengalami peningkatan sebesar US$ 1,51 (1,3%) menjadi US$ 115,56 per barel. “Atas naiknya harga minyak, pelaku asing kembali memburu dolar AS dan hal ini pun diikuti pelaku lokal,’ ujarnya.

Menurut dia, tertekannya rupiah itu juga karena BI yang diperkirakan masuk pasar untuk mengurangi tekanan negatif terhadap rupiah akhirnya tidak jadi. BI menilai tekanan pasar yang muncul tidak besar. “Apalagi, posisi rupiah saat ini dinilai masih stabil karena berada di bawah 9.200 per dolar AS,” ulasnya. [E1]

KOMENTAR BERITA