

(daylife.com)
INILAH.COM, Jakarta - Departemen Keuangan mengingatkan perang suku bunga pinjaman antar lembaga keuangan bisa berdampak negatif.
"Kenaikan bunga yang tinggi pada akhirnya akan meningkatkan cost funding sehingga menggerus modal," kata Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu, Rahmat Waluyanto, di Jakarta, Senin (1/9).
Adanya perang bunga antar lembaga keuangan menunjukkan bahwa lembaga keuangan mengalami kesulitan likuiditas yang akut.
Ia menyebutkan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hanya menjamin bunga simpanan sampai 8,75%. Sementara lembaga keuangan membuai nasabah dengan bunga deposito 12-14%.
Sementara itu mengenai penjualan ORI005 yang tidak mencapai target, Rahmat mengatakan, sosialisasi mengenai ORI belum menjangkau seluruh masyarakat. "Perlu waktu mengubah perilaku masyarakat yang berorientasi pada tabungan menjadi berorientasi investasi," tukasnya.
Menurutnya, pemerintah tengah merancang instrumen investasi ritel yang cocok dengan kebutuhan pemerintah dan kebutuhan masyarakat termasuk metode penjualannya. "Bisa saja kita keluarkan seperti yang telah diterbitkan di negara-negara lain yaitu saving bond," ungkapnya.
Pemerintah juga berencana mengurangi ketergantungan penerbitan instrumen investasi ritel kepada agen penjual dengan memanfaatkan kantor-kantor Depkeu yang ada di daerah.
"Instrumen investasi ritel nantinya akan bisa dibeli dengan cara mudah dan efisien seperti melalui ATM," kata Rahmat.[L5]
- Rupiah Kembali Terguncang
- Inilah Bank Agen Resmi Reksadana!
- Depkeu Lelang SUN Rp 3 T
- BNI Terintegrasi ke ATM Jepang
- Wah! Rupiah Tembus Rp 11.000 Lagi
- Tidak Jalankan PNPM, Tuntut Pemda
- Inilah Realisasi APBNP 2008!
- Wuih! KPK Usik Rekap Bank 1998
- Utang BLBI Tersisa Rp 200 T
- Bunga Bank Turun, Tinggal Tunggu
- Sssst! Menkeu dan BI Datangi KPK
- Wah! Temasek Rugi Besar di Merrill
- Menunggu Penurunan Bunga Bank
- Kasus Sarijaya tak Dongkrak DPK Bank
- 2009, Saatnya Bank Tambah Modal