Ekonomi
02/09/2008 - 05:58
Tiga Bahan Pokok Status Waspada
Ahmad Munjin

(inilah.com/subekti)

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah mewaspadai tiga bahan pokok yang terus mengalami kenaikan sejak sebelum puasa hingga mendekati Lebaran nanti. Ketiganya yakni daging sapi, daging ayam dan telur ayam. Namun hal itu tak mempengaruhi inflasi.

Direktur Bina Pasar dan Distribusi Departemen Perdagangan (Depdag) Gunaryo mengakui terjadinya kenaikan harga beberapa bahan-bahan pokok. Tapi menurutnya, kenaikan bahan-bahan pokok tidak akan terlalu signifikan sumbangannya terhadap laju inflasi selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini.

“Tiga komoditas yang perlu diwaspadai yakni daging sapi, daging ayam dan telur ayam. Yang tiga itu perlu diwaspadai,” katanya, saat dihubungi INILAH.COM, di Jakarta, Senin (1/9). Tapi, kalau dilihat kontribusinya terhadap inflasi, ketiga komoditi itu tidak terlalu besar.

Berdasarkan pantauannya, lanjut Gunaryo, harga-harga bahan bahan pokok dan kecukupan suplai masih dalam keadaan normal. Karena itu, pasokan dalam negeri masih dinilai aman untuk memenuhi permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Dari data Depdag yang diterima INILAH.COM, dalam sepekan terakhir per 25 Agustus sampai 1 September 2008, harga bahan-bahan pokok rata-rata mengalami kenaikan. Harga beras rata-rata nasional naik dari semula Rp 5.462 menjadi Rp 5.507 per kilogram atau mengalami kenaikan 0,82%.

Daging sapi secara rata-rata nasional naik dari Rp 57.544 menjadi Rp 59.950 per kilogram atau mengalami kenaikan sebesar 4,18%. Daging ayam broiler semula Rp 23.229 menjadi Rp 24.303 atau mengalami kenaikan 4,62%.

Komoditas telur ayam ras semula Rp 15.407 menjadi Rp 15.662 per kilogram atau mengalami kenaikan sebesar 1,66%. Tepung terigu semula Rp 7.792 menjadi Rp 7.804 atau mengalami kenaikan 0,15%.

Sedangkan gula pasir semula Rp 6.538 menjadi Rp 6.432 atau turun 1,62%.

Minyak goreng kemasan semula Rp 9.421 menjadi Rp 9.413 atau turun 0,08%. Minyak goreng tanpa merek semula Rp 10.031 menjadi Rp 9.922 atau mengalami penurunan sebesar 1.09%.

Gunaryo mengatakan harga bahan pokok di pasar mengalami kenaikan tidak lebih dari 5%. "Kalau lebih dari angka itu masyarakat akan menjerit," ujarnya. Menurut dia, saat ini tingkat persaingan ritel sangat tinggi sehingga mereka tidak mungkin mengambil keuntungan terlalu besar.

Menjawab kekhawatiran defisit supply telur ayam ras sekitar 50.900 ton, Gunaryo menilai jika pasokan akan berkurang maka secara otomatis pedagang akan mencari telur yang harganya bersaing. Berdasarkan data Departemen Pertanian stok telur unggas pada September sekitar 79.711 ton sedangkan kebutuhan mencapai 111.700 ton.

Menurutnya, bisa saja nantinya telur-telur dari negara-negara tetangga akan masuk pasalnya tidak ada larangan. Tapi, dengan kondisi harga yang sekarang, menurutnya, masih kompetitif. Artinya, masyarakat akan mengandalkan pasokan dari dalam negeri. “Saya kira masih cukup,” tegasnya.

Terkait stabilitas harga pada bulan Ramadhan ini, Depdag tidak melakukan pengontrolan terhadap harga-harga bahan pokok di pasaran. Depdag hanya memantau dan memonitor harga. “Kalau misalnya ada gejala kenaikan harga maka kami meminta kepada stakeholder untuk menambah pasokan,” katanya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka Pangestu menilai kenaikan harga bahan pokok pada awal bulan puasa tahun ini masih normal, bahkan lebih baik dari tahun lalu. "Semua indikator menunjukkan bahwa tahun ini lebih baik dari tahun lalu," katanya

Stok kebutuhan pangan, lanjut Mendag, dalam keadaan cukup dan pihaknya melakukan pemantauan serta berkoordinasi dengan pedagang dan distributor. Harga beras dan gula, menurut Mendag, dalam keadaan stabil.

Sedangkan minyak goreng harganya terus mengalami penurunan. "Bahkan cabai merah harganya turun," ujarnya. Mendag mengatakan selama puasa dan Lebaran harga memang cenderung naik akibat meningkatnya permintaaan antara 10-20%. [E1]

KOMENTAR BERITA