Ekonomi
02/09/2008 - 08:15
Rupiah Punya Daya Pikat
Asteria dan Natascha

(istimewa)

INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (2/9) diprediksi relatif stabil. Angka inflasi yang sesuai ekspektasi pasar dan daya tarik suku bunga Indonesia merupakan faktor yang menopang penguatan rupiah.

Analis Suryanto Chang mengatakan, rupiah hari ini relatif bergerak stabil. Pasalnya, angka inflasi sesuai ekspektasi, sehingga reaksi pasar tidak berlebihan. Investor saat ini tinggal menunggu rapat dewan gubernur (RDG) BI yang akan menentukan suku bunga BI rate.

“Rupiah hari ini bergerak di level 9.150-9.170 per dolar AS,” ujarnya. Menurutnya, BI rate diprediksi akan naik, karena meski inflasi Agustus lebih rendah dari bulan sebelumnya, tingkat inflasi masih berada dalam kisaran tinggi. Pasar pun berekspektasi BI akan menaikkan BI rate sekitar 25 basis poin. “Hal ini dapat mendukung penguatan rupiah,”ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Agustus 2008 tecatat 0,51%, lebih rendah dibandingkan Juli sebesar 1,37%. Sedangkan laju inflasi tahun kalender 9,4% dan inflasi year on year (YoY) sebesar 11,85%.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit dalam negri yang cukup bagus, menyebabkan bunga perbankan bisa berada pada kisaran yang cukup tinggi. Ini karena sebagian besar bank butuh dana untuk memenuhi kebutuhan kredit yang naik.

Untuk menarik dana dari masyarakat, digunakan instrumen deposito dengan imbal hasil yang tinggi, yaitu berbunga 11-12%. “Deposito digunakan untuk menarik dana masyarakat ke sistem perbankan. Sukubunga deposito dikasih tinggi, sehingga naik terus,” ujarnya.

Ini menguntungkan rupiah karena likuiditas pasar terserap ke sistem perbankan. “Jadi ada dua pilihan bagus untuk investor, yaitu investasi dolar AS atau deposito rupiah,” imbuhnya.

Suryanto menjelaskan, bahwa BI menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, selain untuk menarik dana masyarakat karena kredit yang dilempar ke masyarakat semakin besar. Untuk itu, harus ada penempatan dana lagi. “Deposito berbunga tinggi cukup menolong sehingga BI menarik likuiditas berlebih,” paparnya.

Meski dolar AS menguat terhadap mata uang kuat lainnya, namun ketika berhadapan dengan rupiah, penguatan dolar tidak terlalu besar. Hal ini membuktikan bahwa daya tarik rupiah masih bagus. Terutama bila dilihat dari sisi suku bunga dan kebijakan fiskal yang mendukung, terkait banyak instrumen yang tersedia untuk penempatan dana, seperti obligasi ritel (ORI) dan Sukuk.

Untuk trading, Suryanto menyarankan investor masuk ke mata uang euro dan dolar Australia yang saat ini sedang melemah terhadap dolar AS. Mata uang gabungan negara Eropa melemah disebabkan perlambatan ekonomi Eropa, sedangkan dolar Australia melemah karena tingginya kebutuhan dolar negara kanguru tersebut untuk impor.

Pada perdagangan di pasar valas kemarin, rupiah ditutup turun 10 poin menjadi 9.155 per dolar AS. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya ditutup bervariasi.

Rupiah terhadap dolar Singapura menguat di 6.438,70, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.174,78, terhadap dolar Australia menguat di 7.836,22 , dan atas euro menguat di level 13.429,46. [E1]

KOMENTAR BERITA