Jumat, 21 November 2008
Wawancara - Ekonomi
  WAWANCARA
  INDEKS WAWANCARA
02/09/2008 00:15
Harga-Harga akan Kembali Normal
Gunaryo
Ahmad Munjin
 
Gunaryo
(depdag.go.id)
 

INILAH.COM, Jakarta – Harga-harga dan pasokan bahan bahan pokok memasuki bulan ramadhan masih dalam keadaan normal. Meski akan ada lonjakan harga akibat tingginya permintaan pada bulan ini, namun kenaikan itu diyakini akan segera kembali normal.

Demikian ungkap Gunaryo, Direktur Bina Pasar dan Distribusi Departemen Perdagangan (Depdag). Menurutnya, siklus permintaan bahan-bahan pokok sudah berlangsung musiman. Yaitu melejit dua hari menjelang dan dua hari di bulan Ramadhan. Selain itu, harga akan kembali naik menjelang lebaran ketika para pedagang atau buruh-buruhnya mudik. Sementara kenaikan harga di daerah-daerah juga dipengaruhi oleh orang-orang kota yang mudik.

“Tetapi, untungnya saat sekarang ini lebaran itu terletak di tengah-tengah. Dalam artian, lebaran hari pertama, lebaran kedua, tiga hari berikutnya masyarakat sudah masuk seperti hari biasa. Jadi sudah mulai masuk kantor. Saya kira, itu akan segera normal kembali. Masyarakat tidak perlu khawatir, masih aman,” ujarnya kepada INILAH.COM.

Harga-harga selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri diprediksi akan mengalami kenaikan dan menimbulkan inflasi, bagaimana pendapat Anda?

Memang ada beberapa bahan-bahan pokok yang akan naik. Tapi selain bahan pokok, sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi. Ada uang sekolah, persoalan perumahan dan sebagainya.

Kalau bicara bahan pokok, saya tidak menampik bahwa akan ada kenaikan harga, meski tidak terlalu signifikan. Memang sekarang akan mengalami kenaikan, tapi tidak seperti kenaikan BBM.

Bahan pokok apa yang menyumbang inflasi cukup besar ?

Penyumbang inflasi terbesar adalah beras, tapi lihat kontribusinya terhadap inflasi. Meski inflasinya tinggi seperti sekarang, itu tidak semata-mata karena harga beras. Lalu, masalah komoditi lainnya, seperti gula dan minyak goreng, hanya menyumbang inflasi sedang-sedang saja. Tapi jika dikatakan naik, juga tidak. Kenaikannya ada tapi kecil. Ini saya prediksi selama bulan Ramadhan ini. Yang mungkin bergerak naik adalah daging, telur, dan daging ayam. Yang tiga itu perlu diwaspadai. Tapi, kalau dilihat, kontribusi mereka terhadap inflasi itu relatif kecil. Naiknya tidak begitu besar. Prediksi saya, dari makanan dan minuman tidak akan signifikan sumbangannya terhadap inflasi.

Bagaimana ancaman inflasi dari defisit pasokan seperti telur, cabai dan kacang tanah serta defisit supply telur ayam ras sekitar 50.900 ton?

Malah cabai saat ini justru relatif turun harganya. Pasalnya, seperti yang kita perkirakan dari awal, cabai sekarang tidak hanya dipasok dari pulau Madura saja, ternyata tempat-tempat lain di Jawa sudah mulai memproduksi. Artinya mereka sedang memproduksi juga cabai itu. Sehingga, harga sekarang agak stagnan bahkan turun. Jadi, untuk cabai tidak naik.

Sedangkan defisit telur memang akan mendorong kenaikan harga. Tapi, telur sendiri tidak merupakan penyumbang inflasi yang signifikan. Sedangkan kalau suplai telur itu berkurang, maka secara otomatis tentu mengundang pedagang-pedagang untuk mencari telur yang harganya bersaing. Boleh jadi nantinya telur-telur dari negara-negara tetangga juga masuk karena tidak kita larang. Tidak ada larangan impor telur. Karena itu, mereka akan masuk dengan leluasa. Tapi, dengan kondisi harga yang sekarang masih kompetitif. Artinya, masyarakat masih mengandalkan pasokan dari dalam negeri. Saya kira masih cukup.

BPS mengatakan, pemerintah mentolelir 5 -10% kenaikan harga. Bukankah hal itu akan memberikan ekspektasi yang memicu inflasi tinggi?

Demandbiasanya terjadi dua hari menjelang dan dua hari di bulan Ramadhan. Bagaimanapun juga itu akan mendorong harga naik. Dari pengalaman kita, kenaikan harga 5-10%. Tetapi, tahun ini justru di bawah 5%. Tapi, kalaupun terjadi, tiga hari setelah hari pertama Ramadhan akan normal kembali. Kemudian harga akan kembali naik menjelang lebaran, ketika para pedagang atau buruh-buruhnya mudik. Itu juga akan mendongkrak harga. Sementara kenaikan harga di daerah-daerah juga dipengaruhi oleh orang-orang kota yang mudik, maka demand-nya menjadi tinggi. Secara musiman hal itu akan terjadi. Tetapi, untungnya saat sekarang ini lebaran itu terletak di tengah-tengah. Dalam artian, lebaran hari pertama, lebaran kedua, tiga hari berikutnya masyarakat sudah masuk seperti hari biasa. Jadi sudah mulai masuk kantor. Saya kira, itu akan segera normal kembali. Masyarakat tidak perlu khawatir, masih aman.

Bagaimana upaya Depdag sendiri mengontrol harga selama Ramadhan?

Kita tidak mengontrol, hanya memantau. Memonitor saja. Kalau ada gejala kenaikan harga, maka kita akan minta stake holder untuk menambah pasokan. Harga-harga bahan pokok saat ini masih relatif stabil. Pantauan depdag tiap hari, kemudian juga masing-masing daerah, kita minta teman-teman kita di tingkat provinsi, kabupaten/kota, juga melakukan hal serupa. Dipastikan saat ini pasokan cukup dan kondisi harga di beberapa daerah tidak ada yang luar biasa. (E2)

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com