Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
04/09/2008 11:14
Dolar AS Unjuk Gigi
Bastaman
 

(inilah.com/Wirasatria)
 

INILAH.COM, Jakarta - Krisis politik di Thailand akhirnya merembet ke mana-mana. Beberapa hari terakhir, hampir semua pasar modal mencatat kejatuhan indeks harga saham. Pelarian dana dari berbagai pasar modal itu menyebabkan nilai tukar mata uang sejumlah negara jatuh terhadap dolar.

Mata uang Won Korea, misalnya, langsung anjlok dari 1.116 ke level 1.113 per dolar AS. Sementara itu nilai tukar rupee India jatuh ke level 44,26 per dolar. Sementara nilai tukar rupiah melemah sedikit menjadi 9.190 per dolar AS.

Apa boleh buat, beberapa bank sentral terpaksa melakukan intervensi besar-besaran untuk mengamankan nilai tukar mata uangnya. Para pedagang valas di Singapura curiga, Bank of Thailand telah melepas persediaan dolarnya untuk mengamankan bath yang telah menyentuh titik terendah dalam empat tahun terakhir.

Hal serupa juga dilakukan sejumlah bank sentral lainnya seperti Bank of Korea, Bank Indonesia, dan Bank Negara Malaysia. Pedagang valas di Singapura mengatakan, krisis politik di negeri gajah putih itu bakal semakin panas setelah PM Thailand Samak Sundaravej memberlakukan keadaan darurat.

Karena itu, mereka begitu yakin, gejolak di pasar uang diperkirakan masih akan berlanjut. Para pedagang valas juga percaya, sejumlah bank sentral akan menaikan tingkat suku bunga sebagai upaya untuk menahan pelarian modal dari negaranya.

Tapi ada analis yang berpendapat lain. Katanya, menguatnya dolar terhadap sejumlah mata uang itu dipicu oleh keluarnya laporan terbaru Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD).

Organisasi beranggotakan 30 negara maju itu menyebutkan, perekonomian Amerika tahun ini akan tumbuh 1,8%. Ini berarti lebih tinggi dari perkiraan Juni lalu yang hanya 1,2%. Sementara ekonomi Jepang dan Uni Eropa justru turun.

Penguatan dolar juga didorong oleh turunnya harga minyak dunia. Minyak jenis light sweet untuk mengiriman Oktober, misalnya, pekan ini harganya turun US$ 10 menjadi di bawah US$ 105 per barel. Penurunan terjadi setelah Badai Gustav ternyata tidak merusak fasilitas pengeboran minyak dan gas di Teluk Meksiko.

Terkait dengan Indonesia, penguatan dolar juga dipengaruhi oleh buruknya neraca pergadangan Juli. Seperti diketahui, pekan lalu Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan selama Juli mencatat defisit US$ 270 juta.

Kejadian yang jarang terjadi ini disebabkan nilai ekpsor pada bulan tersebut hanya mencapai US$ 12,55 miliar, sedangkan impor tercatat US$ 12,82 miliar. Namun demikian para analis optimis, di bulan-bulan mendatang ekspor akan kembali mencatat surplus.

Alasannya, penguatan dolar akan memacu pengusaha mengenjot ekspornya. Sebaliknya, menguatnya nilai tukar dolar akan membuat barang-barang impor jadi mahal. Menurut para analis, yang harus dilakukan eksportir sekarang ini adalah mengalihkan pasar produknya dari Uni Eropa dan Jepang ke Amerika. [E1]

Tags : valas, dolar

BERITA TERKAIT
load in : 0.005521059 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com