BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
| Aviliani (inilah.com) |
INILAH.COM, Jakarta - Kebijakan bank sentral menaikkan tingkat suku bunga BI Rate 25 basis poin, menuai kritik. Pasalnya, keputusan Bank Indonesia itu merupakan pil pahit bagi pelaku bisnis finansial.
"Mestinya BI tidak perlu langsung menaikkan BI Rate walaupn suku bunga perbankan efektif sekarang di atas 9%. Sebab, perbankan sekarang memberikan tingkat bunga yang lebih besar kepada sumber dana," ucap ekonom Indef, Aviliani, Kamis (4/9), di Jakarta.
Aviliani mencatat, ekspansi kredit ke bank juga cukup tinggi. Sehingga, kenaikan BI Rate dipastikan akan berpengaruh terhadap kinerja perbankan. "Bank tidak mungkin menaikkan suku bunga sekaligus. Apalagi, sampai menggelontorkan dana sekaligus karena akan mengganggu pasar uang," ujarnya.
Dia menilai, kenaikan BI Rate tidak akan efektif bagi struktur kredit dan investasi.
Pasalnya, kebijakan itu justru akan menambah beban bank. Apalagi, jika ada asumsi BI Rate hingga akhir 2008 bakal dipatok di angka 9,5%. "Masih ada empat bulan kedepan, seharusnya keputusan menaikkan BI Rate disimpan untuk kondisi inflasi yang tinggi,' tegasnya.
Korektif poin inflasi dalam kenaikan BI Rate ini juga mencapai 12%. Hal itu karena ada efek lebaran, liburan sekolah, dan kenaikan harga elpiji. Masalah kelangkaan gas harus ada penjagaan terhadap barang-barang yang bersubsidi. "Jika barang bersubsidi tersebut dibiarkan, maka terjadi inflasi yang tidak terduga dari pemerintah," jelasnya.[L5]
[ Kirim ke teman ]