BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(inilah.com/bayu suta) |
INILAH.COM, Makassar – Dampak membanjirnya gula rafinasi tak hanya terasa di Pulau Jawa. Sekitar 2.000 ton gula hasil petani mengendap di gudang Pabrik Gula Palleko, Pattalassang, Takalar. Gula tebu kalah bersaing dengan rafinasi yang beredar di pasar.
Gula yang beredar di pasar, saat ini bervariasi di wilayah itu. Selain gula tebu dari daerah lain, gula rafinasi juga membanjir di pasar. Istimewanya, harga gula rafinasi tak kalah murah dengan jenis lain.
Ketua Kelompok Tani Tebu Mandiri, Djafar Nawang mengaku memiliki gula 2.000 ton gula pasir hasil panen pada 15 Juni 2008, tidak laku terjual di pasar. Bahkan, ia harus
mencari pembeli hingga ke Makassar dan Kabupaten Gowa.
Menurut Djafar, ia dan rekan-rekannya akan melepas gulanya di level harga Rp 5.600 sementara pembeli di pasar hanya menghargai produknya Rp 4.959 per kilogram. Djafar enggan melepas gulanya dengan harga rendah. Dia tak mau merugi.
Djafar mengatakan, rendahnya nilai beli penjual terhadap gula lokal akibat kalah
bersaing dengan gula rafinasi yang ikut beredar dengan harga lebih murah. "Petani memiliki lahan 1.000 hektar. Rata-rata satu hektar menghasilkan lebih dari 2 ton. Dengan harga murah, kita tidak lagi memiliki biaya panen," kata Djafar.
Kelompok tani tebu yang diketuai Djafar, memiliki 115 anggota ini, masing-masing
memiliki lahan seluas 30 hektar dan mempekerjakan 100 orang, sebagai buruh
untuk memelihara dan menebang tebu.
Mereka, memodali usaha perkebunan sendiri dengan meminjam kredit dari bank sebesar Rp 20 miliar. Dari luas lahan mereka sebanyak 1.000 hektar, baru dipanen seluas 800 hektar. Artinya, 200 hektar lagi menunggu dipanen.
"Kita tidak bisa melanjutkan panen lagi. Kita tidak punya biaya untuk itu, karena
gula kita belum juga terjual hingga sekarang. Padahal, kita juga sudah dikejar-kejar
dengan tagihan bank,” katanya.
Djafar menjelaskan, kemungkinan besar sisa tanaman tebu sebanyak 100 hektar, tidak
dapat dipanen lagi. Pasalnya, selain kurang biaya untuk operasional, pabrik gula
Takalar, tempat petani menyewa gilingan dengan bagi hasil 35% untuk sewa pabrik dan
65% untuk petani, akan tutup giling pada 15 September 2008 ini.
"Untuk yang 100 hektar lagi sepertinya tidak terkejar lagi. Kalau dijadikan bibit terlalu banyak juga, jadi kita gunakan untuk kayu bakar saja," jelas Djafar yang juga bergabung di Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Untuk satu hektar lahan tebu, memerlukan biaya operasional Rp 8-10 juta rupiah. Setiap hektarnya, jika penjualan lancar, petani akan untung Rp 3-4 juta.
Pada 28 Agustus lalu, sebuah gudang yang memiliki izin impor gula untuk industri (rafinasi) dan gula pasir untuk konsumsi umum, UD Benteng Baru di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, disidak tim pengawas dari Depdag RI dan Disperindag Sulsel. Tim tersebut melihat indikasi penjualan gula rafinasi ke pasar-pasar tradisional.
Sehari sebelumnya tim juga berhasil menemukan 10 ton gula rafinasi di Pasar Terong Makassar. Penjual mengaku membeli gula rafinasi tersebut dari UD Benteng Baru. Dari hasil sidak di gudang PT Benteng Baru ditemukan 20.000 ton gula rafinasi, namun hingga saat ini, tidak ada tindakan terhadap pemiliknya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Sulsel, Amal Natsir mengakui tidak ada laporan tentang penyalahgunaan gula rafinasi, termasuk temuan di gudang UD Benteng Baru.
Sebenarnya, menurut Amal, gula rafinasi itu dibutuhkan untuk industri makanan dan
minuman. Gula rafinasi, adalah gula yang menggunakan raw sugar impor, namun yang diinginkan oleh Indonesia, adalah gula rafinasi yang di produksi dari raw sugar dalam negeri.
Kadis Perindag juga menegaskan bahwa industri di Makassar sangat membutuhkan gula
rafinasi untuk bahan makanan dan minuman. Sedikitnya 2.000 ton gula rafinasi per
tahun dibutuhkan untuk memenuhi industri tersebut.
Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, mengemukakan bahwa jika ada orang atau perusahaan yang menyalahgunakan gula rafinasi atau dalam artian, gula untuk industri lalu dijual ke masyarakat, maka hal itu adalah kesalahan prosedur.
Tapi, ia sendiri mengaku belum mengetahui ataupun belum ada laporan resmi tentang
penyalahgunaan gula rafinasi itu. Menyoal, harga gula dari Palleko yang kalah bersaing dengan gula lain di pasaran, Syahrul menggambarkan bahwa itu belum tentu karena beredarnya gula rafinasi.
Namun demikian Syahrul meminta agar pemerintah diberi kesempatan untuk menyelidiki lebih lanjut soal gula rafinasi dan gula Takalar yang baru saja dikunjungi Wapres bulan
lalu itu.
Sementara dari Jakarta, Mendag Mari E Pangestu mengatakan, pihaknya akan menertibkan peredaran gula rafinasi sesuai ketentuan. Pasalnya, rembesan gula rafinasi impor telah memicu anjloknya harga gula lokal. "Gula rafinasi yang diolah dengan impor gula kasar, itu hanya diperuntukkan untuk industri. Jadi tidak untuk diedarkan di pasar." [E1/I4]
[ Kirim ke teman ]