BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(inilah.com/bayu suta) |
INILAH.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (5/9) diprediksi masih melanjutkan pelemahan. Penguatan dolar AS akan terus terjadi seiring turunnya harga minyak dan kondisi internal negara dunia yang tidak kondusif.
Analis valas, Rosady TA Montol mengatakan bertahannya rupiah dari penguatan dolar AS pada perdagangan kemarin tidak lain karena upaya BI menaikkan suku bunga BI rate. Langkah BI ini memberi sinyal bahwa bank sentral tetap menjaga tekanan inflasi supaya tidak terlalu tinggi.
Menurutnya, inflasi akan terus mereda karena harga minyak yang terus turun. Saat ini BI mencoba melawan inflasi karena naiknya permintaan barang (demand pull inflation) menjelang Lebaran dan Tahun Baru. “Rupiah hari ini berada di kisaran 9.200-9.240 per dolar AS,” ujarnya.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kembali menaikkan BI rate 25 basis poin dari 9% menjadi 9,25%. Langkah itu diambil setelah mencermati dan mempertimbangkan perkembangan maupun prospek ekonomi global, regional dan domestik dalam rangka menjaga stabilitas perekonomian dan sistem keuangan Indonesia.
Kebijakan BI ini khususnya ditujukan untuk mendukung pencapaian sasaran inflasi jangka menengah. Dengan kebijakan yang terpadu, diharapkan inflasi pada 2009 akan kembali pada kisaran 6,5-7,5%.
Namun, setelah kenaikan suku bunga ini, lanjut Rosadi, bukan berarti BI akan berhenti melakukan intervensi ke pasar. Aksi BI ini menurut Rosady, tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah. “Kekuatan rupiah ini tetap dijaga untuk mencegah terjadinya imported inflation di tengah penguatan dolar,” ulasnya.
Ia pun memprediksi investor masih akan melakukan aksi beli dolar hari ini. Namun, BI diharapkan dapat terus memantau agar aksi ini tidak menekan rupiah terlalu dalam. “BI akan menjaga rupiah agar tidak sampai tembus level 9.250,” ujarnya.
Tren penguatan dolar dipicu oleh harga minyak yang turun hingga sempat menyentuh level US$ 105 per barel beberapa hari lalu. Namun, tidak hanya itu. Rosady mengatakan, keperkasaan dolar AS terhadap mata uang lain disebabkan kondisi internal negara-negara di dunia yang tidak komdusif akibat perlambatan ekonomi global.
Ia pun memberi contoh perlambatan ekonomi di Eropa, dan masalah politik di Thailand serta Jepang yang berpengaruh terhadap melemahnya mata uang negara tersebut.
Pada perdagangan di pasar spot antar bank Kamis (4/9), rupiah turun 12 poin menjadi 9.225 per dolar AS. Demikian juga nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya. Rupiah terhadap dolar Singapura anjlok di 6.473,96, atas dolar Hong Kong turun menjadi 1.184,92, terhadap dolar Australia melemah di 7.722,82 , dan atas euro terkoreksi di posisi 13.405,1. [E1]
[ Kirim ke teman ]