Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Pasar Modal
  BERITA
  INDEKS BERITA
05/09/2008 14:29
Berlindung di Saham Properti
Jagad Ananda
 

(inilah.com/Wirasatria)
 

INILAH.COM, Jakarta – Seperti yang sudah diprediksi, perdagangan saham di bulan puasa melemah. Indeks cenderung menurun. Dalam kondisi seperti ini, sebenarnya, ada beberapa jenis saham yang tahan banting dan punya prospek yang cukup cerah.

Salah satunya adalah efek-efek dari sektor properti. Betul, seperti surat berharga lainnya, saham-saham dari sektor ini mengalami naik-turun yang cukup tajam. Tapi, jika dilihat secara keseluruhan, golongan ini boleh dibilang termasuk saham yang tahan banting. Bahkan, tidak salah jika dijuluki sebagai saham yang bisa melawan arus.

Simak saja pergerakan harga saham Sumarecon Agung (SMRA), Lippo Karawaci (LPKR), dan efek terbitan Ciputra Development (CTRA). Dalam waktu tiga bulan, harga SMRA malah menguat lebih dari 20%, dan terakhir menclok di level Rp 325 (4/9). Harga LPKR juga lumayan meningkat dari Rp 700 (2/6) ke Rp 740 per saham (4/9).

CTRA memang tak sebaik nasib rekan-rekannya lantaran dalam periode yang sama harganya malah menurun.Tapi tak banyak, hanya Rp 10 atau sekitar 2% saja. Bandingkan dengan penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dalam satu triwulan menukik hingga 14,5%.

Makanya, tidak heran jika—dalam kondisi yang penuh ketidakpastian seperti sekarang—saham-saham properti mendapat rekomendasi beli untuk investasi jangka panjang. Salah satu pertimbangannya, seperti diungkapkan sejumlah analis asing, harga-harga yang terbentuk pada saham-saham tersebut, saat ini sudah memasukkan diskon yang sangat besar. “Jadi sudah sangat murah,” kata salah seorang dari mereka.

Pertimbangan lain yang tak kalah pentingnya, emiten di sektor ini juga tergolong tangguh. Buktinya, penjualan yang mereka catatkan pada semester I meningkat cukup tajam.

Padahal, kenaikan harga bahan bangunan telah mendorong meningkatnya harga jual hingga 20%. Tapi, kenaikan harga ini tidak berpengaruh besar lantaran pasar yang dibidik para emiten adalah kelas menengah–atas. Sehingga, diperkirakan, pada semester ini permintaan apartemen dan rumah susun akan menggeliat hingga 30%.

Ada memang hambatan lain yang bakal ikut menjegal pasar properti, yakni meningkatnya suku bunga. Namun, ini pun bisa diabaikan. Sebab, selain daya beli konsumen menengah-atas yang kuat, tingkat bunga juga diprediksi tak akan meloncat terlalu tinggi. Dengan asumsi, BI rate tahun ini tidak akan melonjak melampaui angka 10%.

Lantas akan seperti apa pergerakan harga sahamnya di masa depan? “Dalam jangka menengah-panjang, pasti akan naik,” demikian pernyataan optimistis dari seorang kepala riset.

SMRA yang akan membangun perkantoran serta residensial mewah di atas ratusan hektar lahan yang kini dikuasainya, diyakini akal menangguk untung besar. Dan harga sahamnya, diprediksi bakal terus merayap melampaui level Rp. 600.

Saham Ciputra Development (CTRA) juga tak bisa diabaikan begitu saja. Kinerja emiten yang terkenal giat membangun (kini tengah menggarap 16 proyek properti besar) ini dipercaya bakal kian mencorong di tahun depan. Sehingga, harga sahamnya diprediksi bakal naik dua kali lipat dari pada harga saat ini (Rp. 480 pada 4/9).

Demikian pula dengan saham Ciputra Surya (CTRS). Dalam jangka panjang, diduga kuat bakal menggeliat signifikan. Hanya LPKR yang tidak mendapat rekomendasi buy. Alasannya, saham yang satu ini sudah kemahalan. [I4]

Tags : lpkr, smra, ctra, ctrs

BERITA TERKAIT
load in : 0.002675056 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com