Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Pasar Modal
  BERITA
  INDEKS BERITA
05/09/2008 12:59
Indeks Saham Makin Meradang
Ahmad Munjin
 

(inilah.com/Abdul Rauf)
 

INILAH.COM, Jakarta – Indeks saham di pasar bursa Indonesia meradang parah akibat akumulasi berbagai sentimen negatif. Turunnya harga minyak, penguatan mata uang dolar AS, jatuhnya bursa Wall Street hingga kenaikan BI rate. Waspadalah!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan Jumat (5/9) pagi ini dibuka anjlok 2,74% atau turun 56,89% dan berada pada level 2.018,345. Namun kondisi ini terus memburuk, hingga pada akhir sesi pertama, indeks saham turun hingga di bawah level 2000, yaitu di posisi 1.999,534. Ini adalah level terburuk sejak Agustus 2007.

Analis Sarijaya Securitias M Alfatih mengatakan, anjloknya IHSG sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelumnya. Hal ini mengingat adanya pola berkelanjutan yang terjadi sejak awal tahun lalu, akibat turunnya harga-harga komoditas metal dan energi dunia.

”Ini satu kondisi yang memang akan terjadi melihat pola penurunan yang sudah terjadi sejak Mei bahkan Februari lalu,” ujar Alfatih, saat dihubungi INILAH.COM. Selain itu, pelemahan terjadi karena pada akhir Agustus lalu, IHSG sudah mengalami kenaikan mencapai level 2.200 dari sebelumnya sekitar 2.035. Sebuah kenaikan yang bersifat rebound jangka pendek. “Situasi seperti ini sering terjadi saat tren turun untuk jangka panjang dan jangka menengah,” tandasnya.

Ia pun menuturkan, penurunan indeks di level harga yang lebih rendah lagi, masih akan terjadi. Pasalnya, selama harga IHSG belum mampu menembus batas-batas resisten yang kuat, kenaikan yang terjadi sifatnya masih jangka pendek dan sangat rawan untuk terjadi penurunan harga lebih lanjut.

Menurut Alfatih, ada beberapa faktor yang mempengaruhi merosotnya harga indeks, sehingga terjun bebas seperti saat ini. Antara lain penurunan harga minyak, ambruknya bursa Wall Street dan kenaikan BI rate. ”Jadi beberapa faktor itu terjadi saling menopang secara bersamaan,” katanya.

Pada penutupan perdagangan dini hari tadi, harga minyak light sweet Nymex untuk kontrak pengiriman Oktober terkoreksi US$ 1,46 di level US$ 107,89 per barel. Kendati harga minyak telah naik 44% sejak awal tahun, emas hitam ini terpantau turun lebih dari 6% sepanjang pekan ini.

Anjloknya harga minyak, lanjutnya, berimbas pada merosotnya harga komoditas batubara dan energi lainnya. “Lihat saja BUMI yang terus turun. Harga minyak ini terus menekan saham BUMI, padahal masih banyak kasus BUMI yang belum selesai urusannya,” tuturnya.

Sedangkan faktor lain yang cukup berpengaruh terhadap bursa adalah posisi mata uang rupiah terhadap dolar AS. Instrumen valas ini sangat penting diperhatikan karena investor asing bisa dengan mudah memindahkan aset mereka dari portofolio rupiah ke dolar AS.

Faktor lainnya adalah keputusan BI menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 9,25%. Keputusan ini diyakini akan membawa sentimen negatif pada saham perbankan, terkait naiknya beban pendanaan berlanjut pada besarnya potensi terjadinya kredit macet.

Ia pun menyayangkan banyaknya perusahaan-perusahaan yang belum masuk ke pasar bursa. Menurutnya, bobot emiten di bursa Indonesia masih cukup besar di sektor telekomunikasi dan batubara di mana kedua sektor ini sedang mengalami tekanan.

Batubara tertekan dengan harga komoditasnya, dan kemudian telekomunikasi tertekan oleh perang tarif. “Masih banyak perusahaan-perusahaan besar yang belum didaftarkan ke bursa. Hal ini mengakibatkan pergerakan bursa tidak otomatis searah dengan pergerakan ekonomi nasional,” paparnya.

Kendati demikian, Alfatih menilai dari sisi fundamental, makroekonomi Indonesia masih cukup baik. Sementara penurunan harga minyak dunia ikut membawa sentimen positif terhadap ekonomi domestik yang mendorong tekanan inflasi mereda dan kebutuhan dolar AS untuk impor pun berkurang.

Namun, Alfatih sulit memprediksi kapan harga indeks akan mulai bangkit. Menurutnya, secara historikal, pada Agustus-September biasanya memang terjadi penurunan indeks, namun indeks akan kembali bergerak naik pada September dan Desember. [E2/E1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com