Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Pasar Modal
  BERITA
  INDEKS BERITA
05/09/2008 16:45
170 Saham di BEI Melemah
Asteria
 

(inilah.com/Bayu Suta)
 

INILAH.COM, Jakarta – Indeks saham berhasil merambat naik akhir pekan ini, setelah sempat terperosok jauh 3,65% di bawah level 2.000. Namun, penguatan ini tetap tidak mampu membawa indeks ke teritori hijau dan ditutup turun 52,670 poin.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (5/9) turun 52,670 poin (2,54%) menjadi 2.022,56, setelah sebelumnya sempat menyentuh level 1.999,534, atau turun 75,700 poin (3,65%).

Perdagangan saham di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat transaksi 51.563 kali dengan volume 1,964 miliar unit saham, senilai Rp 3,471 triliun. Adapun sebanyak 18 saham naik, 170 saham turun dan 54 saham stagnan. Sedangkan indeks LQ-45 turun 11,991 poin (2,82%) menjadi 413,970 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 6,751 poin (2,05%) ke 323,082.

IHSG pada awal perdagangan dibuka anjlok 2,74% ke level 2.018 dan terus melemah hingga sesi siang berada di bawah level psikologis 2.000, yaitu di posisi 1.999. Level ini merupakan titik terendah sejak Agustus 2007 lalu.

Menurut Direktur Bhakti Capital Securities Budi Ruseno, merosotnya indeks saham disebabkan faktor teknikal yang menunjukkan tren melemah. “Selain faktor eksternal dari penurunan harga minyak dan ambruknya Wall Street,” ujarnya.

Di pasar Asia, harga minyak mentah Nymex untuk kontrak Oktober ditransaksikan turun 45 sen menjadi US$ 107,44 per barel. Sedangkan di bursa New York dini hari tadi, harga minyak ditutup anjlok US$ 1,46 di level US$ 107,89 per barel. Harga minyak mentah selama satu tahun terakhir telah terpresiasi 44%, sedangkan sepekan ini turun lebih dari 6%.

Sedangkan bursa Wall Street dini hari tadi ditutup anjlok setelah pemerintah AS mengumumkan peningkatan jumlah pengangguran dan penurunan penjualan ritel. Indeks Dow Jones Industrial Averages (DJIA) jatuh 344,65 poin (2,99%) ke level 11.188,23, Indeks Standard & Poor's 500 (S&P500) turun 38,15 poin (2,99%) menjadi 1.36,83, dan Nasdaq Composite Index (NCI) jatuh 74,69 poin (3,20%) ke 2.259,04.

Analis Sarijaya Securitas M Alfatih mengatakan, anjloknya IHSG sebenarnya sudah bisa diprediksi sebelumnya. Hal ini mengingat adanya pola berkelanjutan yang terjadi sejak awal tahun lalu, akibat turunnya harga-harga komoditas metal dan energi dunia.

”Ini satu kondisi yang memang akan terjadi melihat pola penurunan yang sudah terjadi sejak Mei bahkan Februari lalu,” ujar Alfatih. Selain itu, pelemahan terjadi karena pada akhir Agustus, IHSG sudah mengalami kenaikan mencapai level 2.200 dari sebelumnya sekitar 2.035. Sebuah kenaikan yang bersifat rebound jangka pendek.

Budi kembali memaparkan, melorotnya harga minyak ikut menyeret turun saham sektor komoditas. Kondisi ini diperparah dengan kapitalisasi saham sektor mining dan agribisnis di lantai bursa menguasai sekitar 22%.

Sementara itu, kebijakan BI menaikkan sukubunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 9,25% turut menjadi pemicu anjloknya bursa. Kenaikan BI rate ini menekan saham perbankan, terkait naiknya beban pendanaan berlanjut pada besarnya potensi terjadinya kredit macet. “BI tahun ini sudah menaikkan suku bunga 5 kali dan ini berimbas negatif pada sektor perbankan,” tuturnya.

Perdagangan saham di lantai bursa mencatat transaksi 51.563 kali dengan volume 1,964 miliar unit saham, senilai Rp 3,471 triliun. Adapun sebanyak 18 saham naik, 170 saham turun dan 54 saham stagnan.

Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Astra Argo Lestari (AALI) turun Rp 600 menjadi Rp 16.200, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp 500 menjadi Rp 5.800, PT Astra Internasional (ASII) turun Rp 500 menjadi Rp 20.000, dan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) turun Rp 450 menjadi Rp 11.750.

Juga saham PT London Sumatra (LSIP) turun Rp 250 menjadi Rp 4.950, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 200 menjadi Rp 4.425, PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 150 menjadi Rp 24.500, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 100 menjadi Rp 2.700 dan dan PT perusahaan Gas Negara (PGAS) turun Rp 75 menjadi Rp 2.275.

Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT Telkom (TLKM) naik Rp 50 menjadi Rp 7.600, PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 50 ke Rp 3.300, dan PT Sampoerna Agro (SGRO) naik Rp 25 menjadi Rp 2.225.

IHSG juga terseret memburuknya bursa regional. Pelemahan bursa kawasan ini disebabkan sentimen negatif dari outlook perekonomian global yang dipastikan akan mengalami penurunan.

Hal ini membuat investor masih belum berani melakukan aksi borong, terutama terhadap saham-saham yang berpotensi terimbas dampak negatif perlambatan ekonomi dunia. Indeks Kospi Korea turun 1,55% pada level 1.404,38, tapi menguat dari level terendahnya di posisi 1.393,33.

Indeks di bursa Taiwan turun 1,6% pada 6.307,28, posisi terendah sejak Juli 2006. Indeks Nikkei Jepang turun 345,43 poin menjadi 12.212,23, posisi terendah sejak 18 Maret lalu. Sedangkan indeks Topix terpantau turun 2,6% menjadi 1.170,84 basis poin dan indeks Shanghai Composite di bursa China turun 74,97 poin (3,29%) pada level 2.202,45. [E1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com