Jumat, 21 November 2008
Ekonomi - Keuangan
  BERITA
  INDEKS BERITA
05/09/2008 18:28
Rupiah Terlempar ke Jalur Merah
Asteria
 

(istimewa)
 

INILAH.COM, Jakarta – Akhir pekan yang kelabu tidak hanya di pasar bursa tapi juga di pasar valas. Semua mata uang dunia melemah terlibas keperkasaan dolar AS. Hal ini pun membuat kurs rupiah terlempar jauh ke teritori negatif.

Pada perdagangan di pasar spot antar bank Jumat (5/9), rupiah anjlok drastis 147 poin menjadi 9.372 dibanding penutupan kemarin di level 9.225 per dolar AS. Analis valas Rosady TA Montol mengatakan, jatuhnya rupiah disebabkan penguatan dolar AS atas mata uang kuat lainnya.

Penguatan dolar muncul setelah keluarnya beberapa rilis data ekonomi yang menunjukkan ekspektasi membaiknya ekonomi AS. Selain itu, melemahnya rupiah juga dipicu aksi profit taking yang dilakukan investor. “Pelaku valas enggan memegang rupiah di akhir pekan,” ujarnya.

Sementara pengamat pasar uang Edwin Sinaga mengatakan, ketatnya likuiditas di pasar uang dan pasar modal memberikan dampak negatif terhadap pergerakan rupia sehingga merosot tajam terhadap dolar AS. Sementara naiknya dolar dipicu turunnya harga minyak mentah dunia yang saat ini mendekati angka US$ 100 per barel.

“Para fund manager di pasar modal melakukan aksi jual saham untuk membeli dolar AS, setelah mata uang negara Paman Sam itu di pasar global mengalami kenaikan yang cukup tajam,” jelas Edwin.

Terkait kenaikan bunga BI Rate, Edwin berharap hal itu tidak mendorong kenaikan suku bunga perbankan. Menurutnya, suku bunga bank saat ini sudah cukup tinggi, sehingga bila dinaikkan lagi, maka para debitur akan kesulitan mengembalikan dana pinjamannya.

”Dunia usaha akan mengalami kesulitan untuk berkembang, karena tingkat suku bunga bank terus meningkat. Untuk sementara perbankan diharapkan bisa menahan diri agar dunia usaha bisa bernapas sesaat,” katanya.

Di pasar uang sendiri, kondisi sektor perbankan sebenarnya sedang mengalami kesulitan likuiditas, akibat penyaluran kredit yang tidak diimbangi dengan perolehan dana pihak ketiga (DPK). Hal ini berpotensi memicu tingginya kredit bermasalah.

“Sejak awal tahun, penyaluran kredit perbankan mencapai 35% dibandingkan tahun lalu yang hanya 20%, namun pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung makin melambat,” tutur Edwin.

Gubernur BI Boediono mengatakan, jatuhnya mata uang rupiah bukan disebabkan faktor internal, karena secara fundamental sebenarnya tidak ada masalah. Namun lebih dipicu sentimen global terlihat dari nilai tukar mata uang dolar menguat terhadap semua mata uang di dunia.

Pasalnya, baru kali ini rupiah turun lebih dalam dibanding mata uang negara lain. "Beberapa pekan terakhir, rupiah lebih menguat dibandingkan mata uang beberapa negara lain. Saya kira ini merupakan gerakan pasar, tapi secara fundamental enggak ada masalah," kata Boediono.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa rupiah berada pada posisi yang tidak terlalu berbeda dengan mata uang lain di kawasan ini. BI pun menyatakan komitmennya untuk tetap konsisten menahan gejolak berlebih di pasar dengan melakukan intervensi sehingga menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.

"Kita akan terus ikuti perkembangan kurs di dunia dan beberapa kawasan lainnya karena kita tidak bisa melawan arus itu. Tapi kita tetap di pasar untuk mengurangi volatilitas," katanya.

Cadangan devisa Indonesia untuk posisi per akhir Agustus turun US$ 2,163 miliar menjadi US$ 58,4 miliar dibandingkan cadangan devisa per akhir Juli yang sempat menembus US$ 60,56 miliar. Turunnya cadangan devisa itu salah satunya dipicu upaya BI menstabilkan nilai tukar rupiah dan membayar utang pemerintah yang jatuh tempo.

Nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing lainnya sore ini terpantau melemah. Rupiah turun atas dolar Singapura di 6.517,27, melemah atas dolar Hong Kong di 1.198,71, terkoreksi atas dolar Australia di 7.602,03 dan turun atas euro di 13.335,37. [E1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com