BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
| Sri Mulyani (inilah.com/Bayu Suta) |
INILAH.COM, Jakarta – Masuknya Menteri Keuangan Sri Mulyani ke IMF tak akan banyak berarti bagi Indonesia atau pun reformasi di tubuh lembaga keuangan itu. Namun masih ada setetes harapan terciptanya keadilan bagi negara-negara di dunia ketiga.
Pengamat ekonomi Revrisond Baswir mengatakan, pesimistis penunjukkan Sri Mulyani sebagao Komite Reformasi Internal Dana Moneter Internasional (IMF) akan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh Indonesia. Apalagi Indonesia hanya memiliki voting power 0,3%.
“Kita ini memiliki hak suara yang kecil hanya 0,3%. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang memiliki voting power hingga 87%,” ujar Ketua Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu, ketika dihubungi INILAH.COM di Jakarta, Jumat (5/9).
Sebelumnya Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn mengumumkan, Sri Mulyani ditunjuk menjadi anggota komite reformasi internal IMF. Dengan tugas itu, menteri keuangan yang juga menjaga Plt Menko Perekonomian RI itu akan diminta memberikan proposal reformasi dalam memperbaiki kredibilitas institusi yang berbasis di Washington itu.
Komite yang terdiri atas para mantan petinggi IMF itu akan memberikan rekomendasi atas modifikasi yang bisa membuat lembaga itu bisa memenuhi mandat global secara efektif.
"Kemajuan penting telah dihasilkan dalam mereformasi tata kelola IMF, termasuk pengenalan sebuah proses penyelesaian masalah voting power di antara anggota IMF," kata Strauss-Kahn.
Menkeu Afrika Selatan Trevor Manuel ditunjuk menjadi ketua komite itu. Sedangkan anggota lainnya adalah mantan Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus, CEO Pacific Investment Management Co Mohamed El-Erian, Gubernur Bank of Mexico Guillermo Ortiz, serta peraih nobel Amartya Sen dari Harvard University.
Banyak negara di dunia, terutama negara-negara berkembang, berharap IMF melakukan reformasi agar segala kebijakannya. Selama ini IMF dituding merugikan negara dunia ketiga dan lebih menguntungkan negara maju yang menjadi pemegang saham terbesar.
Ketika ditanyakan kemungkinan munculnya harapan kebijakan IMF berubah dengan masuknya Sri Mulyani, Revrisond Baswir merasa tidak yakin lembaga keuangan global itu berubah selama Amerika Serikat masih memiliki pengaruh besar.
"Ya, saya kira sebenarnya hampir sulit untuk berbicara mengenai reformasi IMF. Pasalnya yang menjadi persoalan sebenarnya adalah bukan hal-hal yang sifatnya teknis atau kelembagaan, tapi sampai pada hal-hal yang mendasar seperti persoalan voting power di dalam lembaga IMF itu sendiri," timpalnya.
Sementara ekonom UGM lainnya, Sri Adiningsih menyambut positif atas penunjukkan Sri Mulyani. “Saya berharap masuknya Sri Mulyani ke IMF dapat menjadi voting power lebih besar sehingga ia mampu membuat lembaga keuangan internasional itu bersikap lebih adil terhadap dunia ketiga,” paparnya.
Ia memaparkan, pekerjaan di IMF merupakan kesempatan bagi Indonesia untuk mereformasi lembaga tersebut. Indonesia harus bisa memanfaatkan peluang untuk memperjuangkan daya tawar di dunia internasional.
Sri Adiningsih bahkan berharap Sri Mulyani bisa memanfaatkan perannya di IMF agar lembaga keuangan global itu ikut menangani volatilitas ekonomi dunia saat ini. “IMF bagi Indonesia bisa menjadi partner saling membantu. Terutama karena Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan potensi volatilitas ekonominya yang tinggi,” tandasnya. [E1]
[ Kirim ke teman ]