BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(inilah.com/Wirasatria) |
INILAH.COM, Jakarta - Pada Sabtu (6/9), dua kereta api anjlok. Kereta Api Argo Wilis anjlok di Garut, Jawa Barat dan KRD Bandung mengalami nasib nahas di Stasiun Ciroyom Kota Bandung. Sebuah peringatan menjelang lonjakan angkutan Lebaran.
Kereta Rel Diesel (KRD) Padalarang-Bandung-Cicalengka anjlok di Stasiun Ciroyom Kota Bandung, sekitar pukul 09.40 WIB. Tidak ada korban jiwa dari kejadian itu, namun lokomotif dan gerbong pertama KRD itu miring, Sementara ada patahan rel di bawah lokomotif.
Peristiwa anjlognya KRD itu hanya berselang sekitar satu jam dari peristiwa serupa yang menimpa KA Argo Wilis di Km 232+100 antara Stasiun Bumi Waluya dan Cipeundeuy Kabupaten Garut.
KA Argo Wilis mengalami anjlok pada kereta keempat atau kereta makannya itu tetap melanjutkan perjalanan menuju Surabaya dengan tiga rangkaian kereta atau gerbong dan menarik 235 penumpangnya. Untungnya tidak ada korban jiwa dari dua peristiwa itu.
"Kejadian ini merupakan ujian sekaligus peringatan bagi PTKA Daop II Bandung untuk meningkatkan pelayanan. Namun demikian kami tetap siap untuk melayani angkutan Lebaran 2008 mendatang," kata Kepala Humas Daop II PTKA Bandung, Mateta Rizalulqaq di Bandung.
PT Kereta Api menurunkan tim internalnya untuk memeriksa dua peristiwa kereta anjlok ini. Namun sejauh ini pihak PTKA belum menemukan adanya unsur sabotase. "Kedua kasus anjok itu masih diselidiki. Perihal adanya sabotase atau tidak itu wilayah kepolisian," tambah Mateta.
PT KA mengakui telah meningkatkan pengawasan di sepanjang jalur kereta. Perbaikan rel dan jembatan sudah dilakukan dan layak untuk angkutan Lebaran. Namun peristiwa seperti ini masih tetap terjadi. “Kami meminta maaf kepada penumpang atas kejadian ini, namun yang jelas kami tetap memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat," timpal Mateta.
Belum jelas kapan hal semacam ini bisa hilang atau paling tidak dikurangi. Meski tidak menimbulkan korban, tapi toh tetap akan membuat para penumpang menjadi cemas setiap kali akan menggunakan Kereta Api.
Apalagi di saat mudik Lebaran nanti, dimana jumlah penumpang dalam satu kereta akan berlipat-lipat jumlahnya, yang akan menimbulkan beban kereta menjadi tidak seimbang.
Apakah hal ini sudah benar-benar dipikirkan mengingat rel-rel dan bantalan rel yang sudah tua. Apakah mungkin tidak akan terjadi lagi anjlok di saat-saat acara mudik Lebaran ini.
Tentunya dalam memberikan pelayanan, PTKA tak hanya membicarakan sebatas program dari mulai peningkatan SDM, sarana dan prasarana, manajerial, serta dukungan pihak luar dan masyarakat luas. Namun harus dititik beratkan pada kerja nyata yang berdampak pada perbaikan pelayanan kepada pengguna jasa.
Karenanya sudah saatnya upaya perbaikan tak hanya sebatas program atau wacana saja. Apalagi layanan kereta api menjadi angkutan favorit warga untuk berpergian atau mudik Lebaran. Jangan sampai kejadian seperti ini berulang dan memakan korban jiwa. Jangan pula ada plesetan KA bukan singkatan Kereta Api tapi ‘Kereta Anjlok’.
[ Kirim ke teman ]