Jumat, 21 November 2008
Wawancara - Ekonomi
  WAWANCARA
  INDEKS WAWANCARA
08/09/2008 00:17
Perang Bunga Hingga Akhir Tahun
Ryan Kiryanto
Vina Ramitha dan Asteria
 
Ryan Kiryanto
(inilah.com)
 

INILAH.COM, Jakarta - Kendati mengancam timbulnya kredit bermasalah dan mengurangi pendapatan, perang suku bunga perbankan diperkirakan masih berlanjut hingga akhir tahun. Apalagi pengusaha sedang berlomba-lomba menambah modal untuk ekpansi usaha.

Hal ini diungkapkan Ekonom Senior Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto. Menurutnya, ketika pemerintah menaikkan harga BBM Mei lalu, permintaan domestik sempat turun akibat daya beli anjlok. Namun, pada bulan-bulan selanjutnya, masyarakat sudah terbiasa dengan level kemahalan yang membentuk patokan normal baru.

Ia pun memberi contoh masyarakat saat ini sudah terbiasa membayar ongkos angkot Rp 1.000, dari sebelumnya Rp 500. Hal ini menunjukkan tingginya permintaan domestik.

“Ketika permintaan domestik tinggi, ekspansi dirasa penting dan tidak bisa ditunda. Hal ini tercermin dari nilai impor yang tinggi. Itu terjadi karena permintaan raw material atau bahan baku domestik yang seharusnya diperoleh dari dalam negeri, tidak dapat terpenuhi. Sehingga terpaksa beli dari luar,” ujarnya.

Ketatnya likuiditas membuat perbankan menawarkan suku bunga simpanan/deposito tinggi di atas suku bunga penjaminan maksimum 9%. Tujuannya adalah untuk menarik dana masyarakat.

Dengan fenomena ini, biaya dana bank (cost of fund) menjadi mahal. Nasabah bank pun harus berhati-hati untuk tidak tergiur menempatkan dana terlalu besar. Karena, jika bank mengalami kolaps, hanya maksimal Rp 100 juta yang dijamin pemerintah. Berikut wawancara lengkapnya dengan INILAH.COM.

Terkait perang suku bunga, bagaimana kemampuan bank saat ini membayar beban bunga?

Saat ini perbankan mengkompensasi dengan peningkatan efisiensi. Jadi, begitu debitur mencairkan fasilitas pinjaman, mereka akan dieksploitasi. Yakni membuat mereka melakukan semua transaksi keuangan melalui bank yang memberi kredit.

Jadi semuanya lewat bank tersebut, mulai dari L/C (Letter of Credit), kiriman uang, hingga manajemennya. Dari situ mendapat fee, yang jika dikumpulkan bisa mengkompensasi biaya dana mahal.

Apakah dana yang masuk signifikan dengan tingginya suku bunga?

Bank-bank mengambil posisi at all cost, jadi mereka tidak lagi melihat apakah ini signifikan atau tidak. Yang penting ada dana, dompet jangan sampai kosong, karena bisa mengarah ke reputasi. Nanti debitur akan kecewa dan pindah ke bank lain dan bank akan kehilangan customer. Inilah upaya menjaga nasabahnya tidak pindah.

Lalu, bagaimana dengan bank yang mempunyai reputasi bagus tapi tidak berani memberikan suku bunga tinggi?

Kondisi perbankan kita adalah deposan atau buyer market. Artinya, deposan-deposan inilah yang mendikte bank. Deposan cenderung mengarah pada bank yang berani memberikan insentif suku bunga lebih tinggi. Terhadap bank,cost-nya akan mahal dan ini berpotensi mengurangi pendapatan.

Bankir harus piawai menghadapi situasi ini. At all cost saya setuju, tetapi harus tetap cerdas dan cerdik. Bagaimana cara mengeksploitasi para nasabah dan melalui apa. Ongkos dana mahal tadi harus dikompensasi dengan fee-based income. Caranya dengan menganalisa profitabilitas per deposan atau per debitur. Harusnya rahasia nih, nanti ditiru bank lain. Ha ha ha.

Sampai kapan perang suku bunga ini berlangsung?

Kalau perang suku bunga ini tidak berhenti, bank-bank akan menurun potensi net income-nya. Sebab sebagian besar digunakan untuk membeli dana mahal. Perang suku bunga ini akan berhenti ketika likuiditas bank mulai menguat.

Terindikasi dari dua aspek, tren pencairan dana oleh debitur berkurang, atau dana yang diserap dari masyarakat meningkat. Dua hal itu akan membuat perang suku bunga berhenti dan kembali normal. Sampai akhir semester dua pun masih akan terus berlangsung.

Apa faktor pendorongnya?

Menurut para pelaku usaha, sekarang adalah saat yang tepat untuk ekspansi usaha dan itu berarti menambah modal kerja. Caranya bagaimana? Ya minta kredit ke bank. Tidak ada cara lain. Kini, permintaan domestik sedang tinggi, sehingga ekspansi dirasa penting dan tidak bisa ditunda.

Hal itu tercermin dari nilai impor yang tinggi, bahkan dibanding ekspor. Bulan Juli kemarin kita defisit US$ 120 juta, itu baru sekali terjadi. Biasanya kita surplus. Itu terjadi karena permintaan raw material atau bahan baku domestik yang harusnya diperoleh dari dalam negeri, tidak dapat dipenuhi.

Sehingga terpaksa beli dari luar, entah dari China, India, Vietnam. Yang penting ada barang. Barang ini untuk diproduksi menjadi macam-macam yang nantinya dibeli konsumen domestik. [E1]

Tags : Ryan Kiryanto, perang suku bunga

BERITA TERKAIT
load in : 0.007297039 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com