BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(ist) |
INILAH.COM, Jakarta - Upaya pemerintah mendiversifikasi sektor-sektor andalan penerimaan negara masih belum berjalan. Tingginya harga berbagai komoditas andalan non migas seperti CPO dan pertambangan masih belum bisa menggantikan dominasi sektor migas.
Ini ditandai dengan persentase sektor migas hingga 68,3% dari total realisasi PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) sebesar Rp 148,6 triliun untuk periode hingga Juli tahun ini. Dominasi ini menunjukkan bahwa sektor migas masih menjadi tumpuan utama bagi pemerintah untuk meningkatkan penerimaan negara.
Peneliti Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan Sunarsip mengemukakan bahwa berdasar data Departemen Keuangan, realisasi PNBP dari sektor migas hingga Juli 2008 sudah mencapai Rp 101,5 triliun.
“Kontribusi sektor migas masih tetap dominan dengan persentase melebihi 50%,” ujarnya di Jakarta, Minggu (7/9). Sunarsip mengatakan, dari target PNBP dalam APBN-P 2008 sebesar Rp 282,8 triliun, realisasinya diperkirakan Rp 363,1 triliun. Pos PNBP terdiri dari penerimaan Sumber Daya Alam (SDA), bagian laba BUMN dan PNBP lainnya.
Penerimaan SDA terdiri dari migas dan non migas. Selama ini, lanjut dia, pos PNBP SDA didominasi migas. Sedang penerimaan migas disumbang sebagian besar oleh PNBP minyak mentah. Pada APBN-P 2008, perkiraan realisasi PNBP SDA sebesar Rp 264,8 triliun, dimana Rp 254,9 triliun di antaranya disumbang oleh PNBP migas.
Sunarsip memaparkan, optimalisasi penerimaan migas dipengaruhi oleh volume produksi energi serta efisiensi cost recovery, yakni biaya eksplorasi dan eksploitasi yang dikeluarkan perusahaan migas kemudian diganti pemerintah setelah lapangan migas berproduksi.
Saat ini, kata dia, proporsi cost recovery terhadap pendapatan bruto perusahaan migas atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) rata-rata sebesar 22-23%. “Tapi, ada kecenderungan proporsi cost recovery menurun,” terangnya.
Menurut Sunarsip, upaya efisiensi cost recovery dilakukan dengan pembentukan task force (gugus tugas). Gugus tugas ini melakukan evaluasi biaya dalam kegiatan sektor migas, termasuk standar biaya dalam cost recovery yang selama ini menjadi dasar persetujuan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) terhadap rencana kerja dan anggaran KKKS.
Terkait angka cost recovery 2009 dalam nota keuangan tercatat US$ 12,9 miliar naik dari US$ 10,5 miliar, menurut Sunarsip disebabkan beroperasinya tiga lapangan baru yang berproduksi 2009 yaitu Tangguh, Blok Cepu dan Duri dengan total produksi minyak 70 ribu barel per hari (bph) dan LNG sebesar 3,8 juta ton per tahun.
Sebelumnya, Dirjen Migas Departemen ESDM Evita H Legowo mengatakan pihaknya optimistis dapat mencapai target penerimaan dari sektor migas 2008 sebesar Rp 166 triliun. “Untuk itu, upaya peningkatan produksi serta efisiensi cost recovery akan terus didorong,” pungkasnya. [E1]
[ Kirim ke teman ]