BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(inilah.com/abdul rauf) |
INILAH.COM, Jakarta – Indeks saham Senin (8/9) diprediksi masih melemah setelah akhir pekan lalu terpuruk di bawah level 2.000. Kendati perlambatan ekonomi global menjadi fokus utama, saham BBCA, TLKM, dan ISAT masih mendapat rekomendasi positif.
Deputy Head of Research PT Trimegah Securities, Arhya Satyagraha mengatakan, anjloknya indeks akhir pekan lalu di bawah level 2.000, untungnya tidak berlangsung lama dan disusul rebound. Pasalnya, kalau terlalu lama berada di bawah tekanan jual, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi meluncur terus hingga level 1.800.
Namun, Arhya memprediksikan potensi jatuhnya indeks hingga di bawah level 2.000 masih terbuka lebar pekan ini. Karena harga minyak diperkirakan masih bergerak di kisaran rendah bahkan menuju level US$ 100 per barel. “Indeks berpotensi besar turun ke level 1.800, setelah kemarin mencoba turun ke bawah level 2.000,” ulas Arhya, di Jakarta.
Menurut Arhya, potensi untuk melakukan buyback sebenarnya terbuka saat indeks berada di bawah 2.000. Namun, situasi pasar akhir pekan lalu masih sulit dikompromikan untuk melakukan switching. Pasalnya sektor batubara dan komoditas masih menjadi pemicu utama jatuhnya indeks.
Ia pun menjelaskan, saat IHSG jatuh ke bawah level 2.000, sebenarnya ada tiga saham potensial yang bisa dikoleksi, yaitu PT Bank Central Asia (BBCA), PT Telkom (TLKM) dan PT Indosat (ISAT) dengan harga ideal (price earning ration/PER) masing-masing di level Rp 2.900, Rp 7.000 dan Rp 5.800.
Namun, saat IHSG anjlok, ketiga saham itu masih cukup tinggi harganya, seperti BBCA masih di level Rp 3.375 dan TLKM masih di level Rp 7.450. Alhasil, investor pun sulit melakukan switching. “Koreksi ketiga saham ini tidak banyak, tidak mengikuti jatuhnya pasar, sehingga menyulitkan investor untuk melakukan switching,” paparnya.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa kalau investor memaksakan diri melakukan pembelian, atau mengakumulasi saham ketika harga masih tinggi, maka potensi kenaikan (upside) emiten akan terbatas. Malah kemungkinan downside masih besar, karena harga komoditas tetap menekan indeks.
Menurut Arhya, pekan ini kemungkinan IHSG menuju level 1.800 masih cukup besar. Terutama karena indikator yang menekan indeks jauh lebih besar daripada yang menopang.
Investor pun disarankan mencermati pergerakan ketiga saham tersebut, apalagi kalau IHSG menuju level di bawah level 2.000. “Ketiga saham ini masih punya potensi besar jika IHSG di bawah 2.000, tapi harus mencapai PER value-nya dulu sebelum diakumulasi,” terangnya.
Sedangkan untuk spekulasi harian, Arhya masih merekomendasikan saham sektor komoditas. Menurutnya, saat ini valuasi harga saham komoditas sangat menarik. Bahkan ada yang mencapai level terendahnya seperti saham PT Bumi Resources (BUMI) yang akhir pekan lalu diperdagangkan di level 4.375-4.450 per lembar.
Ia juga memaparkan, harga minyak mentah dunia tidak lagi menjadi acuan pasar, karena cenderung bergerak di kisaran tertentu. Kalaupun turun, tampaknya hanya positif untuk pasar AS. Namun demikian, meski harga emas hitam itu turun, pasar AS ternyata tetap saja jeblok.
Harga minyak diprediksi akan naik lagi menjelang datangnya musim dingin. Selain itu juga karena ancaman datangnya badai lain setelah badai Gustav yang berpotensi merusak daerah produksi minyak AS. Hal ini tentu menguntungkan pasar domestik yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap sektor komoditas.
Yang menjadi kekhawatiran sekarang, lanjut Arhya, adalah terjadinya perlambatan ekonomi. Banyak kalangan menilai saat ini sudah terjadi resesi di AS, sementara di kawasan luar Amerika, pertumbuhan ekonomi sudah mulai melambat.
Beberapa indikator menunjukkan hal itu, seperti meningkatnya jumlah pengangguran, kemudian penurunan data non farm payroll yang menggambarkan merosotnya sektor riil.
“Investor mencari investasi yang sifatnya aman, sehingga saat ini banyak dana yang keluar dari pasar saham. Penurunan sepekan kemarin terjadi karena asing melakukan net sales,” ujarnya.
IHSG pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu turun 52,670 poin (2,54%) menjadi 2,022,564, setelah sebelumnya sempat menyentuh level 1.999,534, atau turun 75,7 poin (3,65%). Perdagangan saham di lantai bursa mencatat transaksi 51.563 kali dengan volume 1,964 miliar unit saham, senilai Rp 3,471 triliun. Adapun sebanyak 18 saham naik, 170 saham turun dan 54 saham stagnan.
Pada perdagangan akhir pekan lalu bursa Wall Street bergerak bervariasi. Indeks Dow Jones menguat 32,73 poin menjadi 11.220,9 dan Indeks Standard & Poor's 500 naik 5,48 poin menjadi 1.242,31. Namun indeks Nasdaq jatuh 3,16 poin menjadi 2.255,88. [E1]
[ Kirim ke teman ]