BERITA
INDEKS BERITA
![]() | |
(ist) |
INILAH.COM, Jakarta - Akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat berada di bawah angka 2.000. Investor ramai-ramai melepas portofolionya antara lain kerena mereka memperkirakan kinerja emiten sektor komoditi, yang menjadi koleksinya akan memburuk sebagai akibat merosotnya harga minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah laut utara, brent, kini berada di posisi US$ 109 per barel. Menurut perkiraan organisasi negara-negara pengekspor minyak, OPEC, harga akan menyentuk angka US$ 100 per barel.
Reaksi investor ini mengundang keheranan karena ketika harga minyak mentah dunia bergerak naik, para pemodal juga melapas saham mereka, dengan alasan kinerja emiten juga akan memburuk. Minyak mentah naik, pasar melemah. Tapi ketika harga minyak mentah turun, pemodal juga melepas sahamnya.
Bagaimana memahami reaksi berbeda yang diperlihatkan pemodal ini atas satu faktor yang sama? “Mudah saja,” ujar Michael Tjoajadi, seorang manajer investasi dari Schroder Investment Management, “Investor panik dan sudah tidak rasional lagi.”
Ya, tidak rasional lagi, sebuah kesimpulan yang masuk akal. Bahkan seorang pengamat pasar modal sambil bergurau menyebut reaksi pasar ini sebagai kegagalan panen.
Pengamat ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa anjloknya indikator kekuatan harga seluruh saham di BEI sudah tidak bisa dianalisis dengan logis. “Jadi anggaplah gagal panen. Ada masa kita untung ada masa kita buntung.”
Kenapa investor panik dan tidak rasional? Karena, dalam pandangan Michael Tjoajadi yang perusahaannya mengelola dana sekitar US$ 2,8 miliar, karena para investor terlalu berorientasi jangka pendek dan terpengaruh pada situasi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa.
Kondisi ekonomi yang buruk di AS dan Eropa memang telah menekan indek harga saham di bursa-bursa utama dunia. Bursa Asia, tidak terkecuali Indonesia, juga ikut terkena imbasnya.
Tentu saja tidak ada yang salah jika pemodal terpengaruh dengan apa yang terjadi di bursa dunia. Bagaimana pun pemodal harus melakukan valuasi harga saham. Tapi jika pemodal mempertimbangkan hal lain, misalnya fundamental dan sedikit memperpanjang horison waktu investasinya, kondisi indeks tidaklah seburuk apa yang terjadi belakangan ini.
Lihatlah, laba per saham perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2008 diperkirakan naik 30%. Sedangkan pada 2009, labar per saham akan naik 25%. Jadi bukan hal yang buruk jika tetap memegang portofolio saham.
Di pasar keuangan, tidak ada yang benar-benar rugi seluruhnya, pasti ada yang tetap mendapat gain dari situasi yang tidak menguntungkan. Maka, jika perusahaan komoditi tergerus untungnya jika harga minyak mentah turun, maka di luar itu akan mencetak untung lebih karena harga minyak turun membuat biaya produksinya turun pula. Koleksilah saham perusahan seperti ini.
Kalau pun tetap ragu untuk memegang saham, tertutama saham komoditi yang seharusnya dianjurkan untuk dikoleksi karena harganya rendah, pilihan terbaiknya adalah reksadana campuran (balance fund) yang memasukan istrumen utang atau istrumen pasar uang sebagai pilihan investasinya. [E1]
[ Kirim ke teman ]