Jumat, 12 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12527.9
 
Ekonomi
 
09/10/2008 - 18:47
Jurus Pemerintah Stabilkan BEI
Vina Nurul Iklima

INILAH.COM, Jakarta- Ada 6 jurus yang disiapkan pemerintah guna meredam penyebab anjloknya kondisi Bursa Efek Indonesia hingga

disuspen Rabu (8/10/). Salam satu yang dilakukan adalah menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) BI dari 9,8% menjadi 7,5%.

Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk mengantisipasi pembukaan kembali BEI Jumat (10/10) besok. Keenam langkah tersebut pertama melakukan aplikasi mark to market, kedua yang berhubungan dangan aturan dan ketentuan untuk pembelian kembali saham oleh emiten bagi perusahaan publik yang berhubungan dengan Bapepam.

Ketiga, melakukan operasi APBN untuk menambah likuiditas dengan pencairan atau disbursement dari belanja kementrian lembaga sehingga likuiditas dalam perekonomian bisa semakin ditambahkan. Artinya tidak menimbulkan tambahan beban dari sisi jumlah likuiditas yang dipersepsikan ketat.

Keempat, pembelian saham BUMN yang mengalami koreksi. Saham BUMN tersebut dari go public yang dianggap memiliki fundamental dan juga nilai strategis yang tinggi bagi pemerintah juga oleh pemerintah melalui pusat investasi pemerintah. Kelima, melakukan langkah penegakan hukum oleh Bapepam-LK dan SRO (Self Regulatory Organization) terhadap mereka yang menyumbangkan tindakan yang dianggap melanggar peraturan perundang-undangan yang sudah diobservasi tiga bulan terakhir. "Siapa-siapa yang memiliki tindakan yang bisa kita lihat termasuk dalam kategori pelanggaran ketentuan, kita tidak segan-segan menyeretnya ke pengadilan. Kita sudah bertemu Presiden, Kapolri, Kejaksaan, kalau ini masuk dalam kategori pidana kriminal dan itu akan kita tindak lanjuti.

Langkah keenam, menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) BI dari 9,08% menjadi 7,5%.

Terkait mark to market, Deputi Senior BI Miranda S Goeltom menyampaikan sesuai peraturan yang disepakati IAI (Ikatan Akuntansi Indoensia), tidak perlu dilakukan mark to marked untuk semua surat-surat berharga yang dimiliki oleh bank. "Ini akan membantu bank-bank dalam memanage likuiditasnya maupun portfolio keuangannya. Mengenai proporsi mereka yang menjadi premier reserve dan bagi second reserve akan kami tentukan kemudian," katanya.[L5]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !