

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah tampak sekali panik menghadapi tekanan kejatuhan bursa saham yang terimbas kejatuhan bursa global dan regional menyusul ambruknya sektor keuangan AS.
Batalnya keberangkatan Menkeu Sri Mulyani ke Dubai dan juga penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai sinyal atas kepanikan pemerintah terhadap krisis ekonomi global.
"Pemerintah minta rakyat jangan panik, tetapi pemerintah sendiri menjadi begitu sensitif dan mudah panik," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo melalui pesan singkatnya yang diterima INILAH.COM, Jumat (10/10).
Lebih lanjut Bambang menyebutkan bahwa kasus maju-mundur rencana membuka perdagangan BEI Jumat (10/10) ini mencerminkan otoritas bursa tidak akurat dan kurang cermat menghitung berbagai kemungkinan.
"Penutupan (BEI) Rabu berlatar belakang maraknya short selling dan gagal bayar emiten tertentu. Kita masih harus menunggu penjelasan tentang penyebab otoritas BEI menghentikan transaksi Jumat," jelasnya.
Potensi anjloknya IHSG pada perdagangan Rabu (8/10), kata Bambang, sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya, karena investor asing telah memberi sinyal untuk keluar dari BEI.
"Mengingat 60% portofolio saham di pasar modal kita berada dalam kontrol asing. Hengkangnya mereka akan merontokkan IHSG dalam sekejap," urainya.
Mestinya, kata Bambang, suspensi BEI diperpanjang dan dibuka kembali setelah kecemasan pasar mereda.
"Idealnya, BEI dibuka lagi setelah pasar tenang dan rupiah menguat," paparnya.[L2]
- Cermati Pengalihan Utang RI
- BI Rate Turun Jadi 6,75%
- Inilah Asumsi Makro RAPBNP 2009
- BI Rate Berpeluang Turun Jadi 6,75%
- Yes! Rupiah Menguat di Rp 10.175
- BPS: Inflasi Juli Masih di Bawah 4%
- Miranda: BI Rate Berpeluang Turun
- Rupiah Dibuka Naik ke Rp 10.175 Per US$
- Inflasi Rendah Untungkan SBY-Boediono
- BI: Ada Ruang BI Rate Turun
- BPS: Juni 2009 Inflasi 0,11%
- Rupiah Menguat 87 Poin
- BI: Rupiah ke Depan Terus Membaik
- BI: Pertumbuhan Ekonomi 2009 Hanya 4%
- Yes! Rupiah Terkerek 20 Poin
