Ekonomi
 
13/10/2008 - 20:29
Krisis Likuiditas Bisa Mematikan
Asteria
Aviliani

INILAH.COM, Jakarta - Sejarah perbankan mencatat, selain kredit bermasalah, persoalan likuiditas adalah penyakit kronis yang bisa menyebabkan perbankan bangkrut. Bahkan, likuiditas lebih mematikan ketimbang masalah kredit macet (non performing loan/NPL).

Ini berarti, jika pemerintah tidak mampu mengendalikan masalah NPL dan likuiditas tersebut, besar kemungkinan bisa mengancam negara ini menjadi bangkrut. Terkait ketatnya likuiditas, Ketua Perbankan Nasional (Perbanas) Sigit Pramono mengatakan, dalam dua bulan terakhir, perbankan domestik mengalami likuiditas dolar yang ketat.

Pada situasi sekarang, lanjutnya, perbankan amat berhati-hati dalam menyalurkan kredit. "Perbankan juga melakukan klasifikasi tingkat risiko debitor valas yang mengekspor produknya ke AS atau negara lain yang berpotensi terpengaruh penurunan ekonomi AS," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ia menuturkan bahwa dari waktu ke waktu, peran perbankan Indonesia sebenarnya semakin membaik. Itu dibuktikan dengan tingkat kredit macet perbankan nasional sampai dengan Agustus 2008 mencapai sekitar 3,9%, lebih rendah dari batasan normal yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sekitar 5%.

Sementara itu, perbandingan tingkat rasio pinjaman terhadap dana simpanan (loan to deposit ratio/LDR) per Juli 2008 mencapai 70%. Jauh lebih rendah dibanding LDR saat krisis ekonomi 1998 yang mencapai 83%.

Sigit berharap, permasalahan likuiditas yang kronis tidak sampai menerpa perbankan Indonesia. Pasalnya, ini yang membedakan krisis ekonomi yang menerpa Indonesia sepuluh tahun silam.

"Kalau kita tidak bisa kendalikan krisis ini dan terlalu panik, maka akan ada penyebab kedua bangkrutnya sebuah bank, yakni kering likuiditas. Untuk itu kendalikan isu-isu yang tidak perlu. Kata kunci adalah gerak cepat," ucapnya,

Hal senada diungkapkan pengamat ekonomi Aviliani. Menurutnya, krisis yang terjadi saat ini tidak akan separah 10 tahun lalu. Ia pun mengungkapkan bahwa krisis baru menekan pasar bursa dan belum menyentuh sektor riil.

Selain itu, ia menilai, sektor perbankan dinilainya masih aman. Hal ini melihat dari besaran LDR yang terus meningkat dalam 6 bulan terakhir, demikian pula pertumbuhan simpanan yang lebih besar dari kredit. "Hal lain yang mengindikasikan sektor riil masih dalam tahap aman," katanya.

Lebih lanjut Aviliani menuturkan langkah-langkah yang seharusnya diambil untuk mengatasi krisis keuangan global menular ke Indonesia, seperti mengontrol cadangan devisa, dan memperkuat investor domestik dengan memberikan tax amnesty.

Hal ini dilakukan agar ada sedikit kelonggaran. "Soalnya selama ini investor lokal selalu dibebani oleh pajak yang akhirnya menyebabkan dana investor ke luar negeri," katanya. [E1]