

(istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Gejolak nilai tukar dolar AS yang melambung tinggi mendorong harga telepon seluler terus beranjak naik. Akibatnya penjualan perangkat komunikasi yang banyak digandrungi masyarakat saat ini telah drop hingga 20%.
Country General Manager Sony Ericsson Indonesia, Alino Sugianto mengatakan gejolak rupiah yang sempat menyentuh level 12 ribu berpengaruh pada harga produk-produk ponsel Sony Ericsson. Pasalnya semuanya produknya didatangkan ke Indonesia dengan transaksi menggunakan dolar.
"Produk didatangkan ke Indonesia oleh importir dalam dolar, tapi dijual dalam rupiah. Otomatis jika dolar naik, maka harga jual ponsel juga ikut naik," papar Alino Sugianto, di Jakarta, kemarin.
Alino menegaskan, sejak krisis mendera dunia, vendor ponsel Sony Ericsson hingga kini tidak menaikkan harga. Namun akibat dolar AS yang merangkak naik, hal itu kemudian terpaksa mendorong kenaikan harga.
Akibat krisis ekonomi global, serta melonjaknya dolar AS, penjualan ponsel secara umum ikut terkena dampaknya. Penurunan penjualan untuk semua model ponsel diperkirakan mencapai 20%. "Krisis ekonomi memang ada dampaknya, tapi tahun ini masih ada growth. Namun angkanya tidak setinggi tahun lalu," timpal Alino.
Produk yang paling terpengaruh adalah model entry level. Sedangkan ponsel kelas atas pasarnya hingga kini masih kuat. Segmen ponsel berharga murah mengalami penurunan terbesar, karena konsumen sangat peka terhadap perubahan harga.
Potensi pasar di Indonesia sendiri masih sangat besar. Menurut Alino, penetrasi pasar ponsel di Indonesia baru 40-45%, sehingga memberi peluang besar bagi pabrikan ponsel untuk terus meningkatkan penjualannya.
Sedangkan langkah operator yang terus menurunkan tarifnya, menjadi pendorong industri ponsel terus tumbuh. Di sisi lain, jika makin banyak orang membeli ponsel, maka operator juga mendapat keuntungan.
Alino mengatakan pasar ponsel Indonesia sangat dinamis. Persaingan cukup ketat, karena vendor asing maupun lokal cukup banyak. Selain itu model yang dilemparkan ke pasaran juga sangat banyak.
Menurutnya ponsel musik atau ponsel kamera, akan terus diminati oleh konsumen. Segmen ini terutama dipilih oleh pemakai pemula. Sedangkan untuk ponsel pengganti, konsumen memilih spesikasi yang lebih tinggi. "Untuk replacement market ini orang membeli ponsel baru dengan harga lebih mahal," kata Alino.
Tahun depan pasar ponsel kemungkinan akan lebih baik. Karena jumlah model yang masuk akan bertambah. Sementara kehadiran ponsel baru semacam iPhone dan handphone Google G1 bukan merupakan ancaman.
"iPhone belum diluncurkan secara resmi, tapi ponsel ini bisa ditemui di Indonesia. Sedangkan Google juga belum masuk Indonesia, tapi jika resmi masuk malah akan memberikan peluang. Masuknya ponsel seperti itu akan membuka segmen-segmen baru di luar yang sudah ada sekarang," kata Alino. [E1]
Berita terkait tidak ada, silahkan klik tab 'Berita Lainnya' di atas
- Mendag Akan Lobi Gubernur China
- BKPM : Kedatangan Obama, Bantu Promosi Indonesia
- Tifatul: Aturan DNI Menara Telekomunikasi Segera Diteken
- BUMN: Garuda Ganti Direksi Usai IPO
- Dapat IOSA, Mandala Buka Rute Regional
- Semua Harga Grosir AS Anjlok 0,6% di Februari
- "Peluang Asing Masih Didiskusikan"
- Investor Korea Siap Pindahkan Pabrik ke Indonesia
- Hatta: Ketentuan BTS Tetap Mengacu SKB 3 Menteri
- Gita Wirjawan Tolak Dibilang 'Pelit'
- Perusahaan Australia Akan Bangun Jalan Tol
- Garuda Bidik Pertumbuhan Sektor 15% di 2010
- Garuda Indonesia Cetak Laba Bersih Rp1 T
- Obama Datang, Iklim Investasi Positif
- BKPM : BTS Masih Butuh Investor Asing
Kurs BI :












