Senin, 22 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12429.6
 
Ekonomi
 
20/11/2008 - 11:40
Kadin: Imbauan BI Sinyal Buruk

(inilah.com/Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta - Imbauan Bank Indonesia (BI) agar masyarakat segera melepas dolar AS mereka merupakan sinyal yang buruk dan kontraproduktif, karena memicu pembelian dolar AS.

"Kemarin siang, para pemilik modal justru meningkatkan perburuan dolar untuk menjaga kemungkinan terburuk dari nilai rupiah dan sistem penjaminan yang tidak penuh (blanket guarantee)," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo.

Menurut dia, tidak seharusnya BI selaku bank sentral melontarkan imbauan agar masyarakat melepas dolar mereka, karena pasar uang lokal maupun mancanegara sedang mengalami kekeringan likuiditas valuta asing (valas) terutama dolar AS.

"Kami paham, maksud imbauan Gubernur BI itu sebagai kerjasama saling mnguntungkan, menguntungkan bagi publik pemilik dolar AS, juga menguntungkan bagi BI karena bisa menambah volume dolar AS di pasar uang. Namun itu harus disampaikan pada waktu yang tidak tepat," kata Bambang.

Ia menilai imbauan Gubernur BI Boediono bisa ditafsirkan bahwa posisi nilai rupiah terhadap dolar AS yang berada pada tingkat Rp 11.000 - Rp 12.000 per dolar AS sekarang ini merupakan titik keseimbangan nilai tukar rupiah dalam periode krisis finansial saat ini.

"Artinya, sekarang saatnya bagi publik pemilik dolar AS melakukan profit taking, karena proses pelemahan rupiah sudah mencapai limitnya. Namun fakta yang ada justru menjelaskan kepada kita pesan yang sampai pada masyarakat bahwa BI mulai panik karena kekeringan valas," tukasnya.

Lebih jauh ia berharap BI menurunkan suku bunga acuannya (BI rate) agar bank-bank umum pun mau menurunkan suku bunga untuk investasi atau kredit modal kerja.

"Di tengah anjloknya permintaan akibat krisis finansial sekarang, masyarakat dan dunia usaha butuh stimulus sebagai terobosan. Tanpa stimulus, masyarakat dan dunia usaha akan terperangkap dalam kebuntuan saat ini," ujarnya.

Bambang menegaskan menurunkan suku bunga bank serta harga BBM bersubsidi adalah stimulus yang bisa membebaskan masyarakat dan dunia usaha dari kebuntuan saat ini.

"Mengapa kita takut mengeksplorasi besarnya ruang pasar dalam negeri yang jumlah konsumennya di atas 200 juta jiwa ini?," katanya mempertanyakan. [*/cms]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !