

(Ist)
INILAH.COM, Jakarta - Pamor industri kelapa sawit merosot seiring turunnya harga minyak kelapa sawit (CPO) di pasar internasional. Namun, masih ada harapan bagi investor, terkait valuasi harga yang rendah serta kinerja perseroan yang memuaskan.
Lihat saja aksi PT PP London Sumatra Indonesia (LSIP) yang telah menandatangani perjanjian pembelian saham tiga perusahaan perkebunan kelapa sawit senilai Rp 48,04 miliar.
Dalam perjanjian jual beli bersyarat 19 November 2008 itu, perseroan mengambil alih langsung 99,92% saham di PT Tani Musi Persada dan PT Sumatra Agri Sejahtera, serta 90% saham di PT Tani Andalas Sejahtera.
"Akuisisi tersebut dilakukan perseroan untuk meningkatkan produksi kelapa sawit perseroan," kata Sektretaris Perusahaan LSIP, Endah R Madnawidjaja, di Jakarta, Jumat (21/11).
Dengan pengambilalihan saham ini, lahan LSIP akan bertambah 46 ribu hektar dan secara tidak langsung perseroan menguasai areal pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan. "Transaksi pengambilalihan ditargetkan selesai pada 22 Desember 2008," papar Endah.
Atas aksi korporasi LSIP itu, tim riset Samuel Sekuritas memberi rekomendasi positif.
"Kami rekomendasikan hold untuk jangka pendek, sedangkan untuk investasi jangka panjang, investor bisa mulai beli," katanya.
LSIP pada 2009 juga berencana membangun pabrik pengolahan kelapa sawit di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Perseroan telah menganggarkan belanja modal (Capex) senilai US$ 100 juta.
Untuk pendanaan, perseroan akan menahan semua laba bersih 2007 sebesar Rp 564 miliar. Sehingga diharapkan penambahan pabrik baru tersebut akan meningkatkan kinerja fundamental dan saham perseroan.
Sementara analis saham Haryajid Ramelan menilai saham LSIP cukup potensial untuk diakumulasi, terutama melihat kinerjanya yang positif. Kendati demikian, penurunan harga CPO membuat emiten ini rentan aksi jual. "Saya rekomendasikan buy on weakness LSIP dengan target harga Rp 3.000 per lembar," timpalnya.
Pada perdagangan Jumat (21/11) saham LSIP terpantau stagnan di level Rp 2.325, setelah awal awal November bertengger di level Rp 2.350 dan awal Oktober di level Rp 2.675 per unitnya.
Pergerakan saham LSIP ini masih lebih baik dibanding sejumlah saham produsen CPO lainnya. PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) misalnya terpantau melemah 15 poin ke level Rp 210 per lembar. Demikian pula saham PT Astra Agro Lestari (AALI) anjok 300 poin ke level Rp 6.150 per lembarnya.
Harga minyak yang anjlok hingga mencapai level US$ 48,91 per barel, seiring memburuknya outlook ekonomi global membuat ekspektasi permintaan akan CPO melemah. Harga CPO dunia dalam dua bulan terakhir terus anjlok dari Rp 6.000 per kilogram menjadi Rp 4.000 per kilogram.
Namun, lanjut Haryajid, dengan price to earning (PE) sebesar 2,2 kali dan price to book value (PBV) yang masih di 0,4 kali, UNSP masih menarik. "UNSP masih bagus untuk dikoleksi jangka panjang, target harga hingga akhir tahun Rp 600," katanya. Hal senada diungkapkan analis David Ferdinandus. Menurutnya, saham UNSP hingga akhir tahun berpeluang naik hingga level Rp 450 per lembarnya. "Investor bisa mulai akumulasi beli di level Rp 300," ucapnya.
Sedangkan untuk saham AALI, David mengatakan potensi masih ada terkait fundamental dan kinerja perseroan. "Target harga AALI hingga akhir tahun adalah Rp 9.700, tapi investor bisa masuk di level Rp 6.400,"katanya.
Di sisi lain, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan akan membantu industri kelapa sawit yang terancam ambruk akibat turunnya harga kelapa sawit dunia. Caranya dengan memberikan insentif, meskipun harus mengorbankan berkuranganya pemasukan dari sisi pajak.
"Kalau insentif kita berikan, pasokan pajak berkurang. Saya melihat, jangka pendek pajak yang masuk berkurang tetapi tidak mematikan usaha-usaha dan menimbulkan korban PHK yang baru," kata Presiden saat jumpa pers di Rio de Janeiro, Brasil.
Dituturkan, dalam suasana perekonomian global seperti ini, pemerintah mengambil kebijakan mengamankan ekspor supaya tidak ditolak, terutama terkait harga kelapa sawit di pasar global yang turun drastis. " Kita sudah kembangkan policy baru supaya petani-petani sawit terbantu dan kesulitannya berkurang," katanya.
Sementara itu, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengharapkan pengusaha CPO tidak hanya sekadar mencari untung dengan memprioritaskan pasar luar negeri saat harga di luar sedang tinggi dan meminta bantuan kepada pemerintah saat pasar di luar negeri turun.
"Kalau keadaan seperti ini mereka mencari pasar di dalam negeri, mbok yo jangan nanti kalau pasar luar negeri bagus, dijual di luar negeri lagi. Pemikiran ke depan domestic market obligation akan diterapkan," katanya. [E1]
- BNBR: Dana 'Call Option' dari Internal & Pinjaman
- Transaksi Tipis, BUMI Turun 4,25%
- Bakrie Fokus Tuntaskan Utang US$1,5 Jt
- Saham BBNI Potensi Menguat
- Vier Jajaki Buka Sekuritas Baru
- Viersen Investment Buka 2 Trading Baru
- Ups! Konsorsium Vier Batal Beli Sarijaya
- Jasa Marga Masih Aktif Bebaskan Tanah
- Saham TRUB Masih Potensi Naik
- Telkom Bagi Dividen Rp 296,95 Per Saham
- PTBA Optimis Semester I Laba Naik 10%
- Inovisi Berencana Terbitkan Saham Baru
- Inflasi & BI Rate Dongkrak Indeks Sepekan
- Asyik! WIKA Dapat Kontrak Senilai Rp 3,8 T
- Hore! Telkom Bagi Dividen 7 Juli
