
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12429.6

(inilah.com/Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta – Harga saham PT Bumi Resources akhirnya terdongkrak menembus Rp 1.000 per lembar. Masuknya pihak asing menjadi salah satu pemicunya. Namun, apakah keterlibatan asing murni karena fundamental atau terkait pengumuman akuisisi Northstar?
Saham BUMI dalam dua hari berturut-turut terpantau melesat dan terkena auto rejection batas atas. Pada perdagangan Rabu (26/11), saham BUMI melonjak 170 poin (20%) ke level Rp 1.020 per lembar. Sedangkan pada perdagangan kemarin, saham BUMI naik 140 poin (19,72%) menjadi Rp 850 dan menjadi saham top value.
Banyak rumor yang beredar di pasar menyangkut penguatan saham BUMI ini. Di antaranya masuknya pemodal T Rowe Price Group Inc ke BUMI menjadi salah satu penyebab menguatnya saham pertambangan ini.
T Rowe, seperti dikutip Bloomberg, menyatakan membeli saham BUMI, Peabody Energy Corp, Arch Coal Inc, dan Consol Energy Inc di pasar. Miliader George Soros membeli 2,9 juta saham Arch Coal, sedangkan Citadel Investment Group LLC dan Invesco Ltd telah membeli 3,5 juta saham Peabody.
Selain itu, juga kabar masuknya sejumlah sekuritas asing yang mendorong penguatan saham BUMI. Pada perdagangan kemarin, tiga pembeli saham BUMI terbesar dilakukan sekuritas asing yakni CLSA Indonesia, CIMB GK Securities dan Phillip Securities Indonesia.
CLSA membeli 120 ribu lot saham senilai Rp 50 miliar, CIMB GK Securities membeli 58 ribu lot saham senilai Rp 24,5 miliar, serta menjual 11 ribu lot. Kemudian Phillip Securities Indonesia yang membeli 24.400 lot saham senilai Rp 10 miliar serta menjual sebanyak 7 ribu lot.
Analis Reliance Securities Deo Rawendra mengatakan masuknya investor asing ke saham BUMI dinilainya wajar. Hal ini mengingat valuasi emiten tambang ini yang terpuruk jauh. "Ini adalah suatu hal yang wajar mengingat harga saham BUMI sangat murah," ujarnya.
Sementara analis pasar modal Dandossi Matram mengatakan, aksi beli saham BUMI oleh pihak asing, murni disebabkan karena faktor fundamental perseroan yang memang bagus. Sehingga, siapapun investor yang melakukan pembelian saat ini, dinilainya merupakan keputusan terbaik.
"Asal jangan buat trading, tapi buat investasi setahun dua tahun mendatang. Itu adalah harga terbaik yang bisa mereka dapat di bawah Rp 1.000," papar Dandossi, saat dihubungi INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (26/1).
Menanggapi kabar yang beredar di pasar bahwa aksi beli ini ditujukan untuk mendongkrak harga saham BUMI menjelang pengumuman akuisisi Northstar Pacific Jumat (16/11), Dandossi mengatakan, reboundnya saham BUMI merupakan mekanisme pasar. Namun ia mengakui mungkin saja ada hal-hal tak terduga seperti itu.
"Kita nggak bisa menduga ini apa atau siapa. Jadi, kalau ada yang beli, lebih baik kita berpikir ini adalah investor publik yang memang berminat untuk membeli saham BUMI. Saham BUMI kan saham sejuta umat," ujarnya.
Saham BUMI sejak awal 2008 telah menyentuh level terendahnya di Rp 640 per saham pada 24 November 2008. Sedangkan harga tertinggi terjadi Rp 8.750 pada Juni 2008. Sementara harga saham BUMI sebelum disuspensi pada 6 Oktober 2008 sebesar Rp 2.175.
Menurut Dandossi, BUMI kembali diminati investor karena secara fundamental tidak ada masalah. Selain itu, reboundnya harga saham BUMI dipicu rencana buyback yang akan dilakuan perseroan. Hal ini pun diyakini dapat menekan masalah repo yang sempat meluluhlantakkan BUMI.
"Problem utama di pemegang saham adalah kasus repo. Jadi banyak orang yang mau jual kemarin-kemarin. Tapi begitu harganya naik, tekanan jual juga kan berkurang. Reponya juga bisa reda pelan-pelan," ulasnya.
Di sisi lain, ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati mengatakan, harga saham milik BUMI yang merangkak naik pasca masuknya investor asing, seharusnya menjadi kesempatan emas bagi pemerintah untuk menguasainya.
"Pemerintah kita keduluan Soros, karena pada hari ini saham BUMI sudah naik," katanya. Menurut Nina, pemerintah tidak mengambil langkah privatisasi di tengah situasi pasar modal yang memburuk.
Padahal, di negara maju, situasi saat ini bisa menjadi momen bagi pemerintah untuk meningkatkan aset nasional dengan melakukan pembelian saat harga saham murah. "Jadi tidak salah kalau pemerintah beli saham BUMI," tambahnya.
Yang penting, kata Nina, tujuan dari pembelian saham tersebut untuk menjadikan aset private menjadi aset nasional. "Jadi bukan untuk menolong kelompok tertentu," tukasnya. [E1]
- Inilah 3 Calon Deputi Gubernur BI
- Fitch Rating: Rating Semen Baturaja A-
- BLTA Cabut 'Voluntary Offer' Atas CECO
- BUMI Sepekan Cenderung Stagnan
- MAPI Gelar 'MAP Fashion Week'
- Tunggu Sampai Terjadi Koreksi
- Sepekan, IHSG Pindah-pindah Zona
- Wall Street Anjlok Dipicu Kekhawatiran Utang Yunani
- Data Ekonomi AS Picu Bursa Asia Naik
- ‘Capital Inflow’ Kembali Dongkrak Rupiah
- Inilah Daftar 10 'Foreign Buy' Saham
- Laba Bersih Hero Supermarket Naik 9,98%
- Anak Usaha PTBA Bakal Susah Dapat Ijin Tambang
- Jelang Buka, Wall Street Mixed di Kisaran Sempit
- Indofood Tuntaskan Restrukturisasi Anak Usaha












