
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12841.4

(inilah.com/Subekti)
INILAH.COM, Jakarta - Penurunan harga BBM non subsidi seperti Pertamax merupakan 'bonus' ulang tahun PT Pertamina yang jatuh pada hari ini. Biasanya, Pertamina menentukan harga tanggal 1 dan 15 setiap bulannya tapi kali ini pengumuman harga baru dilakukan lebih cepat.
Kali ini Pertamina menurunkan harga pada tanggal 10 Desember atau 5 hari lebih awal dari yang seharusnya. Penurunan harga ini juga seiring pelemahan harga minyak dunia.
Harga jual BBM non subsidi terhitung mulai 10 Desember 2008 mengalami perubahan di semua unit pemasaran dan seluruh wilayah penjualan. Penentuan harga baru BBM jenis Pertamax dan Pertamax Plus itu bersamaan dengan HUT PT Pertamina ke-51.
Dalam keterangannya tertulisnya di Jakarta, Pertamina mengumumkan, untuk Pertamax Plus, di wilayah Batam turun menjadi Rp 6.300 dari sebelumnya Rp 6.600 per liter. Untuk wilayah Unit Pemasaran (UPms) I menjadi Rp 6.950 dari 7.250 per liter. Wilayah pemasaran Medan Bersaing menjadi Rp 6.850 dari 7.150 per liter.
Sementara UPms III yang meliputi Banten, Jabotabek dan Jabar menjadi Rp 6.800 dari harga sebelumnya Rp 7.100, UPms IV&V Rp 6.950 sebelumnya Rp 7.250 per liter dan UPms VI Rp 7.000 dari Rp 7.300 per liter.
Sedangkan untuk Pertamax, UPms I Rp 6.800 dari sebelumnya Rp 7.100 per liter. Medan Bersaing Rp 6.700 dari harga sebelumnya Rp 7.000. UPms II Rp 6.800 sebelumnya Rp 7.100 per liter. Bangka Rp 7.900 dari Rp 8.200 per liter.
UPms III Rp 6.500 dari sebelumnya Rp 6.800 per liter. UPms IV & V Rp 6.600 dari Rp 6.900 per liter. Bali Rp 6.700 dari Rp 7.000 per liter. UPms VI, Rp 6.700 sebelumnya Rp 7.000 per liter, UPms VII Rp 6.800 sebelumnya 7.100 per liter, serta Palu Rp 7.800 dari Rp 8.100 per liter.
Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Suharso Monoarfa mengatakan, penurunan harga Pertamax dan Pertamax Plus merupakan co-insiden yang membawa berkah tersendiri bagi Pertamina. Sehingga Pertamina memberi bonus kepada masyarakat di hari ulang tahunnya yang ke 51.
"Penurunan BBM non subsidi ini juga seiring dengan harga keekonomiannya yang memang sudah turun," papar Suharso, ketika dihubungi INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (10/12).
Dengan harga minyak dunia di level US$ 43 per barel, lanjut Suharso, memang sudah saatnya Pertamax turun. Malah kalau bisa lebih turun lagi. Harga keekonomian Pertamax dan Pertamax Plus saat ini, menurutnya, ada pada level Rp 6.000-6.100 per liter.
Selama ini harga minyak memang tak hanya ditentukan oleh minyak mentah dunia tetapi juga biaya produksi per barel minyak. Biaya produksi berbeda-beda tergantung negaranya. Biaya produksi minyak yang paling murah saat ini adalah adalah Kuwait yang hanya US$ 17 per barel.
Sedangkan di Indonesia biaya produksinya masih sekitar US$ 35 per barel. "Tapi, Indonesia masih lebih bagus dibandingkan Bahrain, yang sekitar US$ 40 dolar per barel," katanya. Ketika harga minyak dunia tinggi, biaya investasi untuk eksplorasi pun menjadi mahal. [E1]
- 14 Hari Waktu Kontraktor Inventarisir Migas Berpotensi
- Inilah Kewajiban KKKS Dalam Kepmen Migas Baru
- Rio Tinto Buka Anak Usaha Lagi
- Ephindo Segera Umumkan Eksporasi Blok Sanggata I
- Antam dan PTBA Siap Ambil 7% Divestasi Newmont
- Pertamina 'Spin Off' Anak Usaha Hilir tak Efektif
- Pertamina Tambah Pasok Gas 30-35 MMSCFD ke PLN
- Badai Selamatkan Harga Minyak
- Harga Minyak Dibuka Naik di Atas US$71
- Pertamina Minta Setoran Dividen Diturunkan
- ICP Perlu Dirubah Setiap Tiga Bulan
- Menkumham Belum Izinkan Bayar 7% Divestasi Newmont
- Maret Pertamina Impor Solar 3 Jt Barel
- Produksi Minyak 2010 Ditargetkan 965 Rb Barel
- Prognosa Laba Semen Gresik Rp3,303,000












