Rabu, 10 Februari 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12841.4
 
Ekonomi
 
06/04/2009 - 12:59
BUMI Masih akan Menjulang
Asteria

(inilah.com/ Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta – BUMI kembali bersinar. Kinerja memuaskan, berkurangnya tekanan jual, memunculkan daya tarik tersendiri terhadap saham PT Bumi Resources Tbk ini. Meski direkomendasi hold, target harga saham ini dinaikkan jadi Rp 980 per unit. Masih ada ruang untuk menjulang.

Hingga Senin (6/4) sesi siang, saham BUMI diperdagangkan naik 30 poin ke level Rp 930 per lembarnya. Harga emiten primadona ini terus merangsek naik. Ini trend positif. Pekan lalu, BUMI membukukan penguatan sebesar 7,14%. Sepekan sebelumnya, juga terjadi penguatan 12%.

Analis Samuel Sekuritas, Christine Salim mengatakan, tekanan jual terhadap saham BUMI terkait sentimen negatif Grup Bakrie dan isu aksi korporasi mulai berkurang. Namun, revisi terhadap beberapa asumsi, berdampak pada kenaikan nilai dicounted cash flow (DCF) sebesar Rp 1,217 per saham (dari Rp 1,127 per saham).

"Dengan diskon 20% dari DCF, target harga untuk BUMI kami naikkan menjadi Rp 980 per saham dari sebelumnya Rp 900," kata Christine dalam riset yang dipublikasikan, Senin (6/4).

Saat ini BUMI diperdagangkan pada proce earning (PE) 2009 dan EV/EBITDA 2009 masing-masing sebesar 3,7 kali dan 2,0 kali, dibanding rata-rata sektor 6,0 kali dan 2,9 kali. Namun, kenaikan saham BUMI sebesar 12,5% selama sepekan perdagangan, sudah memfaktorkan potensi dividend yield yang tinggi. "Kami masih mempertahankan rekomendasi hold," ujarnya.

Christine menuturkan, kinerja BUMI tahun 2008 secara keseluruhan inline dengan ekspektasi. Pendapatan perseroan mencatat rekor tertinggi sebesar US$ 3,378 juta, naik 49,1% year on year (YoY). Hal ini didorong kenaikan harga jual rata-rata 67% YoY menjadi US$ 73,34 per ton.

Namun, volume penjualan masih jauh di bawah ekspektasi, dengan turun 7% YoY menjadi 51,5 juta ton. "Penurunan ini akibat cuaca buruk dan produksi KPC yang sempat terhenti selama satu bulan," ucapnya.

Bila dilihat secara kuartalan, kinerja BUMI cenderung datar. Pendapatan naik tipis 1% quarter on quarter (QoQ) menjadi US$ 945 juta. Peningkatan ini diikuti naiknya laba kotor dan operasi masing-masing 17% dan 11%. Namun laba bersih turun 18% QoQ karena pajak kuartal terakhir 2008 naik 37% QoQ.

Sementara dibanding tahun lalu, cash cost naik 28% YoY ke US$ 33,1 per ton, dipicu terangkatnya harga minyak. Laba kotor tumbuh 113%, laba operasi naik 173%, dan EBITDA menguat 150% mencapai US$ 1.199 juta. Sedangkan core net profit (di luar XO gain) melonjak 103% menjadi US$ 645 juta akibat rasio pajak yang rendah (8.7%). "Dengan memperhitungkan XO gain hasil penjualan asset ke Tata sebesar US$ 472 juta tahun lalu, laba bersih BUMI turun 18,2% YoY," ulasnya.

Perseroan pun memastikan tidak ada perubahan kebijakan deviden sebesar 30%. Dengan harga per saham (earning per share/EPS) 2008 sebesar US$ 0,03362 per saham, ekspektasi pembagian deviden adalah US$ 0,01 atau setara Rp 116 per saham, dengan devidend yield 13% atau net setelah pajak Rp 90 per saham dengan yield 11%.

Namun, Christine mengkhawatirkan posisi leverage BUMI yang tinggi. Bahkan tertinggi dibanding perusahaan tambang lainnya seperti PT TB Bukit Asam (PTBA) dan PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) yang net cash, serta ADRO yang net gearing 0,54 kali.

Hal ini terjadi akibat tambahan pinjaman dari Credit Suisse dan penerbitan MTN (16%-25%) untuk membiayai buyback saham, working capital dan investasi atau akuisisi. "Tingginya posisi leverage BUMI dan biaya finansial yang tinggi dari MTN masih merupakan perhatian kami," paparnya.

Posisi leverage yang tinggi ini ditunjukkan dari total interest bearing debt yang mencapai US$ 1.265 juta per Desember 2008, naik dari September sebesar US$ 984 juta. Kenaikan utang tersebut pun berimbas pada naiknya rasio net debt/EBITDA menjadi 0,8 kali (dari 0,04 kali) , net gearing naik menjadi 0,6 kali (dari 0,02 kali periode lalu), dan debt to equity ratio (DER) naik menjadi 0,8 kali (dari 0,3 kali periode lalu).

Menurut Christine, total utang BUMI masih berpotensi naik seiring akuisisi Pendopo di awal Januari 2009. Sedangkan jumlah maksimum MTN yang dapat diterbitkan adalah Rp 6 triliun atau US$ 600 juta, sehingga DER tahun ini berpotensi naik melebihi 1,0 kali.

BUMI pun disinyalir telah memfaktorkan akuisisi PT Darma Henwa (DEWA) dan PT Fajar Bumi Sakti (FBS) dalam neraca Desember 2008. Hal ini terlihat dari kenaikan akun investasi dalam perusahaan asosiasi, goodwill, dan biaya eksplorasi dan pengembangan selama September-Desember 2008.

Padahal, imbuh Christine, rencana akuisisi tiga perusahaan (DEWA, FBS, dan Pendopo Energi) ini masih dalam wilayah abu-abu. Bapepam sedang menunjuk independen appraisal untuk menyisir nilai wajar dan keharusan melakukan RUPSLB karena merupakan transaksi material dan mengandung benturan kepentingan. "Hal-hal seperti ini yang perlu dicermati," katanya. [I4]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !