
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI :
1 Euro = Rp.12841.4

(inilah.com /Dokumen)
INILAH.COM, Jakarta – Sepekan ini, PT Bumi Resources (BUMI) anjlok sebesar 4,25%. Di tengah transaksi bursa yang tipis menjelang pilpres pekan depan, investor merealisasikan keuntungannya. BUMI pun terdampar di level Rp1.800 per unitnya.
Hari pertama perdagangan, Senin (29/6), saham BUMI ditutup menguat 10 poin ke level Rp1.890, setelah sebelumnya mencoba menembus level tertinggi di level 1.940.
Anak usaha Bakrie ini berhasil menguat di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,32% ke level 2.033,716, menyusul sentimen negatif bursa regional. Selain turunnya harga minyak mentah ke level US$69,13 per barel yang melemahkan saham berbasis komoditas.
Namun, berlanjutnya pelemahan bursa pada Selasa (30/6) keesokan harinya, gagal ditangkis BUMI. Emiten primadona ini terkoreksi 30 poin ke level Rp1.860, dengan intraday cukup lebar antara 1.950 dan 1.850. Adapun volume transaksi tercatat sebesar 269 juta lembar, senilai Rp510 miliar dengan frekuensi 7.444 kali.
Saham-saham komoditas seperti BUMI berada di jajaran top loser, mengalahkan sentimen positif dari naiknya harga minyak mentah ke level US$71,49 per barel serta penandatanganan kesepakatan antara BUMI dengan pemilik PT Fajar Bumi Sakti (FBS) untuk amandemen kontrak jual beli 50% saham senilai Rp 1,4 triliun.
Seperti diketahui, BUMI sebelumnya menandatangani kontrak jual beli atas 76,7% saham FBS senilai Rp 2,475 triliun. Namun transaksi ini harus direvisi lantaran Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI) menilai nilai transaksi terlalu mahal Rp 370 miliar dari harga pasar wajar.
Pada Rabu (1/7), pengumuman inflasi bulan Juni yang terkendali, kembali menggairahkan bursa. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Indonesia sebesar 3,6% YoY, terendah sejak 9 tahun terakhir. Namun inflasi bulanan (MoM) mengalami kenaikan tipis dari 0.04% ke 0.11%.
IHSG berhasil rebound sebesar 1,63% ke level 2.059,884. Hampir semua sektor terpantau menguat, demikian juga saham tambang BUMI yang naik 20 poin ke level Rp1.880. Salah satu pemicunya adalah naiknya harga minyak di pasar Asia menembus angka US$ 70 dolar per barel akibat anjloknya cadangan minyak mentah AS.
Selain itu, beredar kabar bahwa BUMI sedang mencari mitra strategis untuk mengembangkan tambang bijih besi dan timah milik Herald Resources Limited dan setuju jika Herald menawarkan sahamnya ke investor potensial. BUMI juga mengincar tambang batubara BHP Biliton di Kalimantan dan mengembangkan eksplorasi berlian di Libia.
Pada Kamis (2/7), IHSG masih melanjutkan penguatan dengan naik tipis 0,28% ke level 2.065,753. Hal ini didukung melonjaknya saham sensitif suku bunga yang mengantisipasi arah suku bunga BI rate. Pasar bereskpektasi adanya pemangkasan lebih lanjut terhadap suku bunga acuan.
Namun, jatuhnya harga minyak di pasar Asia ke level US$69.31 per barel, menekan saham-saham komoditas dan membawa sektor tambang turun sebesar 0,86%. BUMI pun ditutup melemah 40 poin ke level Rp1.840, dengan intraday cukup lebar antara 1.830 dan 1.900. Volume transaksi tercatat sebanyak 239 juta lembar, senilai Rp446 miliar dengan frekuensi 4.825 kali.
Investor melakukan profit taking meskipun ada beberapa sentimen positif. Salah satunya adalah kabar bahwa BUMI mendaftarkan penawaran atas konsesi tambang batubara milik BHP Billiton di Kalimantan. BHP Billiton sebelumnya membuka penawaran atas konsesi tambang batubaranya di Kalimantan, namun saat ini telah tutup.
Selain itu, BUMI akan membangun proyek tambang emas di Sulawesi senilai U$400 juta-U$1 miliar yang diperkirakan mulai berproduksi pada 2013, Di sisi lain, BUMI melalui anak usahanya PT Multicapital juga melakukan penawaran divestasi 10% saham Newmont senilai U$391 juta atau Rp 4 triliun.
Kabar tentang rencana perseroan membayar dividen kepada pemegang sahamnya pada 18 Agustus 2009 mendatang, juga tidak mampu mengangkat saham BUMI. Adapun jumlah dividen yang dibagian sesuai dengan RUPS 26 Juni lalu sebesar Rp50,60 per saham.
Di hari terakhir perdagangan, Jumat (3/7), BUMI melengkapi pelemahannya dengan anjlok 40 poin (2,17%) ke level Rp1.800. Investor terus melakukan profit taking dengan perkiraan harga BUMI sudah cukup tinggi. selain itu, anjloknya harga minyak ke level US$ 66.27 per barel menekan sektor tambang hingga mencatatkan pelemahan terbesar di lantai bursa.
Emiten batubara ini tercatat sebagai saham teraktif diperdagangkan dengan volume transaksi 295 juta lembar, senilai Rp530 miliar dan frekuensi 6.778 kali. Kapitalisasi BUMI yang cukup besar, bersaing dengan sentimen penurunan BI Rate 25 basis poin menjadi 6,75%. Alhasil, IHSG pun hanya bisa naik tipis 0,46%. [P1]
- Eropa Bantu Yunani, Asia Lega
- Pacific Asia Holding Lepas 7,24% Saham Matahari
- Anak usaha Trikomsel Oke Beroperasi 1 April 2010
- Pelepasan Aset Matahari Bukan ke Pihak Ketiga
- Akhirnya, Krakatau Boleh Melantai
- BTEL Jawara 10 'Top Foreign Buy'
- Ical: Keluarga Bakrie Hanya Minoritas di Group Bakrie
- Inilah 10 'Top Foreign Sell' Hari Ini
- Rebound Asia Angkat IHSG
- Trikomsel Bakal Buat Anak Usaha
- Ha! WIKA Likuidasi Anak Usahanya
- Pemerintah Bangun Dua Pabrik Senilai Rp160 M
- Hore! IHSG Ditutup Naik 13,92 Poin
- Saham Properti Prospektif Meski Terguncang
- Danareksa Bakal Ubah Model Bisnis?












