

(inilah.com/ Wirasatria)
INILAH.COM, Jakarta - IHSG pada pekan kedua Juli ini merupakan percampuran antara ekspektasi pilpres dengan sentimen negatif penurunan harga minyak dan data ekonomi AS yang masih belum pilih.
Menurut analis saham dari Recapital Securities, Poltak Holtradero, IHSG sepekan ini diwarnai ekspektasi hasil pilpres, namun tidak kuat menahan sentimen eksternal yang negatif. "Lebih banyak dipengaruhi ekspektasi hasil pilpres tetapi sentimen ekternal tidak mendukung karena lebih sering negatif," katanya kepada INILAH.COM di Jakarta, Jumat (10/7).
Awal pekan atau dua hari sebelum pilpres yang diadakan pada Rabu (8/7) IHSG sudah mendapat tekanan dengan penurunan harga minyak menjadi US$ 65 per barel dari harga pekan sebelumnya US$ 70 per barel. Penurunan harga minyak ini berlanjut menjadi US$ 59 per barel pada penutupan Jumat (10/7). Akibatnya IHSG juga ditutup di area negatif di 2.063,09 dari level pembukaan di 2.084,81.
Penurunan harga minyak ini mempengaruhi saham-saham komoditas yang juga ikut terseret jatuh. Akibatnya IHSG tidak berdaya karena saham komoditas selama ini mencapai 30% dari total saham yang aktif di bursa. "Investor panik karena penurunan harga minyak sampai 10% menjadi US$65 per barel," kata Kepala Riset Batavia Prospesino Securities, Suherman Santikno kepada INILAH.COM, Senin (6/7) lalu.
komoditas ini dipenuhi banyak spekulan. Penurunan harga minyak ini mempengaruhi saham-saham komoditas yang juga ikut terseret jatuh. Akibatnya IHSG tidak berdaya karena saham komoditas selama ini mencapai 30% dari total saham yang aktif di bursa.
Sentimen negatif belum habis, kali ini datang dari Wall Street yang dilanda kekhawatiran investor akan melemahnya permintaan di AS, sementara itu aktivitas pada industri pelayanan di bulan Juni meningkat pada level terbaiknya dalam sembilan bulan terakhir.
Namun karena menjelang pelasanaan pilpres, IHSG pada Selasa (7/7) mengalami penguatan meskipun masih mengandalkan sektor perbankan dan properti. Apalagi setelah keputusan diperbolehkannya penggunakan KTP untuk memilih dalam pilpres, ekspektasi pasar terhadap kelancaran pesta demokrasi semakin tinggi. Hal ini ditunjukan dengan kenaikan IHSG yang naik 48,24 poin (2,37%) ke level 2.083,25.
Proses pilpres pun berlangsung pada Rabu yang ternyata dari proses perhitungan cepat atau quick account pasangan SBY-Boediono mendominasi perolehan suara yang hampir merasa di seluruh tanah air. Hal ini sempat melambungkan IHSG pada hari Kamis (9/7) mencapai 10,19 poin (0,49%) ke level 2.093,44 karena respon positif dengan pilpres berjalan lancar satu putaran.
Namun belum satu jam menikmati kemenangan satu putaran, sentimen negatif masuk ke bursa dengan anjloknya harga minyak menyentuh US$ 60 per barel. "Pelemahan ini karena anjloknya harga minyak dunia ke US$ 60 per barel sehingga tidak dapat ditahan dengan sentimen positif kemenangan SBY dalam satu putaran," kata analis saham dari Ciptadana Securities, Syaiful Adrian kepada INILAH.COM, Kamis (9/7).
Sentimen negatif dari minyak dunia ini merontokkan semua sektor terutama komoditi utama yang selama ini menopang bursa. Sektor yang diharapkan dapat menahan pelemahan seperti perbankan dan infrastruktur ternyata mengikuti arah pelemahan IHSG.
Anjloknya harga minyak karena data Pemerintah AS menunjukkan negara Paman Sam ini masih memiliki cadangan minyak dan pernyataan dari IMF kalau krisis ekonomi sudah terlewati, tetapi proses pemulihannya akan berjalan lamban. "Proses pemulihan yang lamban ini menimbulkan sentimen negatif bagi pasar saham," jelasnya.
Namun, paling tidak sentimen hasil pilpres dapat menahan gempuran sentimen negatif yang datang dari eksternal sehingga investor mendapat ketidakpastian. IHSG pada perdagangan Kamis (9/7) ditutup naik tipis 0,72 poin (0,03%) ke level 2.083,97. "Investor mendapat ketidakpastian di bursa karena hasil pilpres tidak berpengaruh apa pun ke bursa dan sentimen negatif dari ekonomi AS, data IMF serta harga minyak yang turun," kata Direktur Reliance Securities, Stefanus Purwohadisusanto kepada INILAH.COM, Kamis (9/7).
Kondisi ini berlanjut karena belum ada sentimen baru yang akan masuk ke bursa. Sebab penguatan harga minyak dunia belum dapat diharapkan dalam waktu dekat. Benar saja, pada perdagangan akhir pekan, IHSG sudah mendapat sentimen negatif dari awal pembukaan karena Bursa regional masih mendapat tekanan negatif dari data-data ekonomi dunia dan AS.
Penurunan semakin tidak terbendung setelah harga minyak dunia justru melemah mendekati US$ 59 per barel. Hal ini memicu koreksi di bursa Eropa dan bursa regional sehingga ditutup melemah 20,88 poin (-1%) ke level 2.063,09. [hid/cms]
- Sepekan, IHSG Pindah-pindah Zona
- Wall Street Anjlok Dipicu Kekhawatiran Utang Yunani
- Data Ekonomi AS Picu Bursa Asia Naik
- ‘Capital Inflow’ Kembali Dongkrak Rupiah
- Inilah Daftar 10 'Foreign Buy' Saham
- Laba Bersih Hero Supermarket Naik 9,98%
- Anak Usaha PTBA Bakal Susah Dapat Ijin Tambang
- Jelang Buka, Wall Street Mixed di Kisaran Sempit
- Indofood Tuntaskan Restrukturisasi Anak Usaha
- MNC & Linktone Akuisisi 75% Innoform Media
- INTP Bangun Pembangkit Listrik Senilai US$100-150 Juta
- Inilah Daftar 'Top Foreign Sell' Saham
- DOID Bantah Wacana 'Rights Issue'
- 'Volatile', IHSG Mampu Berakhir Manis
- ADHI Bagi Hasil Sukuk Mudharabah Rp3,437 M
Kurs BI :












