Selasa, 16 Maret 2010
Jakarta - Berawan 24-33 °C
Kurs BI : 1 Euro = Rp.12613.3
 
Ekonomi
 
25/11/2009 - 14:26
Ancang-ancang Genjot Ekspansi
Cermati Sektor Telekomunikasi
Asteria

(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Industri telekomunikasi mulai menggeliat dan mengambil ancang-ancang berekspansi, seiring pulihnya perekonomian dunia. Emiten apa yang menarik dicermati di sektor ini?

Analis Lautan Dana Securities Willy Sanjaya merekomendasikan saham PT Telkom (TLKM) yang dinilai berprospek menarik. “Saya rekomendasikan saham ini karena harganya diperkirakan bisa menyentuh level Rp10.000-an per lembar saham,” katanya kepada INILAH.COM, Rabu (25/11).

Dengan estimasi belanja modal 2010 mencapai Rp20 trilliun, TLKM saat ini sedang menjajaki pinjaman dari empat bank dalam bentuk L/C sebesar US$600- 900 juta. Untuk menutupi kebutuhan belanja modal tersebut TLKM juga menjajaki penerbitan obligasi sebesar Rp3 triliun pada 2010, sedangkan sisanya akan diambil dari kas internal.

Sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, Telkom berhasil membukukan kenaikan pendapatan 5,53% menjadi Rp47,11 triliun. Sedangkan laba bersih tumbuh 5,54% menjadi Rp9,3 triliun.

Penyokong utama kenaikan pendapatan tersebut adalah laba kurs Rp774,78 miliar. Tak hanya itu, pendapatan layanan data internet dan jasa teknologi informasi lainnya naik 14,1% menjadi Rp12,4 triliun.

Sedangkan hingga akhir 2009, TLKM menargetkan pendapatan mencapai Rp 63,7 triliun, naik 5% dibanding 2008. Sedangkan laba bersihnya diharapkan meningkat 9% menjadi Rp11,56 triliun. Laba bersih tergerus Rp 750 miliar sebagai pesangon untuk program pensiun dini.

Porsi Telkomsel yang merupakan operator selular terbesar di Indonesia dengan target pelanggan sekitar 100 juta di akhir 2010 adalah sekitar Rp 12 trilliun, atau 60% dari total belanja modal TLKM

Saham telekomunikasi lain yang direkomendasikan Willy adalah saham lapis kedua seperti PT Mobile-8 Telecom (FREN). Hal ini terkait rencana akuisisi Fren oleh PT Media Nusantara Citra (MNCN). “Akuisisi ini membawa sentimen positif dan dapat meningkatkan kinerja FREN,” katanya.

Seperti diketahui, tiga kreditur FREN, yaitu PT Samsung Eletronics, PT Mora Telematika Sejahtera, dan PT Inti Bangun Sejahtera, pekan ini resmi menjadi pemegang saham FREN. Mereka akan menguasai FREN masing-masing 8,39%, 9,89%, dan 4,4%.

Jerash Investment masih berlaku sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 20,27% turun dari 32% yang diakibatkan restrukturisasi utang dengan saham. Saat ini juga masih ada 17 kreditur lain yang belum melakukan konversi utang tersebut. Grup Sinarmas berencana menambah kepemilikannya di FREN melalui PT Gerbangmas yang kini memilik 5% saham FREN.

Panin Sekuritas menilai, FREN kini dalam masa transisi ke arah lebih baik. Periode sebelumnya, aksi korporasi FREN sangat minim, akibat utang yang besar. Bila semua restrukturisasi berjalan lancar, maka utang akan nol. “FREN kembali dapat memperoleh pinjaman dan kembali fokus pada pengembangan bisnis,” kata analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono.

Menurutnya, kini FREN ramai dibicarakan dan menjadi incaran beberapa operator, salah satunya Smart. Ia pun meyakini, saham hasil konversi utang ke saham (pada harga Rp65/saham) nantinya akan dilepaskan kembali. Karena, eks kreditur akan menginginkan dananya kembali. “Pengalihan saham ini akan menjadi katalis untuk perbaikan harga saham FREN disamping perbaikan kinerja,” paparnya.

Sedangkan Samuel Sekuritas merekomendasikan saham PT Indosat (ISAT). Hal ini terkait obligasinya yang oversubscribed sebesar 30% melampaui Rp2 triliun, dari nilai emisi yang direncanakan yaitu Rp1,5 triliun. “Rekomendasi hold untuk ISAT,”ungkapnya dalam riset yang dipublikasikan Rabu (25/11).

Obligasi ISAT tersebut terdiri dari obligasi konvensional VII/09 tranch A dan B dengan suku bunga 11,25% dengan tenor 5 tahun dan 11,75% dengan tenor 7 tahun serta dua seri obligasi sukuk IV/09 sebesar Rp 500 milliar.

Obligasi tersebut akan digunakan untuk refinancing utang serta belanja modal. Rencananya obligasi konvensional dan syariah ini akan diterbitkan pada minggu pertama December sebesar Rp1 triliun dan sukuk ijarah Rp500 miliar. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi disini atau akses mobile langsung http://M.inilah.com via ponsel dan Blackberry !