Jumat, 21 November 2008
Galeri Opini -
  BERITA
  INDEKS BERITA
26/08/2008 19:18
Tantangan Besar Bangsa Indonesia
Membangun Peradaban Baru Indonesia (1)
Soetrisno Bachir

HARI-HARI ini hingga beberapa waktu mendatang sungguh merupakan saat-saat penting bagi Indonesia. Bukan saja karena pada tahun ini Indonesia memperingati Seabad Kebangkitan Nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, serta 10 tahun Reformasi. Lebih dari itu, saat-saat sekarang juga merupakan saat Indonesia menjelang menghadapi peristiwa dan keadaan besar yang akan menentukan nasib bangsa di masa depan.

Pesta demokrasi 2009 akan segera dilangsungkan buat memilih wakil-wakilnya di lembaga legislatif, serta memilih presiden dan wakil presiden untuk masa jabatan lima tahun ke depan. Hal tersebut akan benar-benar menentukan bagaimana wajah Indonesia mendatang.

Tapi tidak berarti bahwa persoalan paling penting bagi Indonesia adalah siapa yang akan terpilih sebagai presiden dan wakil presiden mendatang. Lebih dari itu adalah ke mana kepala negara terpilih bersama seluruh bangsa ini akan membawa Indonesia ke depan, menghadapi persoalan dunia yang akan semakin menantang. Pertanyaan itulah yang sekarang harus dijawab seluruh bangsa ini, dan tentu juga oleh pemimpinnya.

Masalah politik, ekonomi, sosial, dan bahkan lingkungan yang dihadapi dunia telah sedemikian kait mengait tanpa terpisahkan. Sekat-sekat antarbangsa telah semakin menipis sebagaimana sekat antarbudaya, bahkan antardisiplin ilmu pengetahuan. Hubungan politik antarnegara secara umum memang telah semakin mencair.

Tetapi pertikaian negara model lama masih terjadi seperti pada krisis Rusia-Georgia sekarang ini. Masalah Palestina yang menjadi persoalan paling rawan bagi upaya mewujudkan perdamaian dunia, belum pula terselesaikan. Konflik politik internal suatu negara seperti di Myanmar serta Zimbabwe sedikit banyak juga berpengaruh pada stabilitas dunia.

Di bidang ekonomi, ancaman kelesuan yang membayangi perekonomian Amerika terus dicermati para ekonom, mengingat pengaruhnya yang besar bagi ekonomi dunia. Memang ada optimisme bahwa perekonomian Amerika akan segera membaik setelah Tahun 2009 yang juga berarti membaiknya perekonomian dunia.

Tetapi saat ini, puncak kelesuan ekonomi tersebut belum terlewati. Kemajuan ekonomi Asia yang dimotori oleh pertumbuhan ekonomi China dan India diperkirakan akan segera mengubah peta perekonomian global. Namun laju pertambahan penduduk dunia, menipisnya cadangan minyak bumi, serta bayang-bayang keterbatasan kemampuan dunia dalam penyediaan pangan perlu diantisipasi.

Masalah sosial yang terkait dengan perekonomian yang masih membayangi dunia adalah kemiskinan. Masalah ini juga masih merupakan persoalan mendasar Indonesia sehingga badan-badan dunia menekankan agar pengentasannya diprioritaskan.

Sebanyak 34,96 juta warga miskin menurut ukuran pemerintah, atau lebih dari dua kali lipat jumlah itu menurut ukuran Bank Dunia, bukan angka yang sedikit untuk diabaikan. Tingkat partisipasi pendidikan yang rendah pada sebagian masyarakat dunia juga merupakan persoalan bagi Indonesia.

Tingkat kematian ibu dan balita, penyebaran penyakit HIV/AIDS, dan bahkan ancaman Tuberculosis yang cenderung luput dari perhatian publik, tetap merupakan masalah serius bagi dunia.

Human trafficking atau perdagangan manusia, yang sepatutnya tidak terjadi lagi di tingkat keberadaban dunia saat ini, telah berkembang ke tingkat yang memprihatinkan. Sementara penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang dalam genggaman jaringan sindikasi global semakin sulit teratasi.

Pemanasan global, sebagaimana terungkap dengan jelas dalam pertemuan dunia di Bali akhir 2007 lalu, merupakan persoalan yang akan semakin mengemuka di tahun-tahun mendatang. Mencairnya Kutub akibat pemanasan global tersebut akan dapat langsung berpengaruh pada kawasan-kawasan kepulauan seperti Indonesia.

Tenggelamnya pulau akan mengurangi luas Indonesia, karena wilayah kedaulatan negara didasarkan pada titik pulau terluarnya. Perusakan hutan yang berlangsung sangat pesat, terutama hutan-hutan hujan tropis, telah menghancurkan paru-paru dunia. Kelangkaan air bersih juga telah menjadi masalah baru yang belum pernah dihadapi dunia di masa-masa yang lampau.

Benturan antarbangsa juga masih akan terjadi. Benturan itu tak selalu berupa benturan besar seperti 'Benturan Peradaban' yang diramalkan Samuel Huntington. Perbedaan sudut pandang antara paham kebebasan bereskspresi dengan penghormatan terhadap keyakinan beragama dapat menajam, dan bahkan menyakitkan.

Persoalan yang semakin kompleks itulah yang dihadapi dunia hingga beberapa tahun ke depan. Persoalan dunia itu pula yang harus dihadapi Indonesia mendatang, di samping di dalam negeri yang tidak kalah rumitnya. Tantangan besar tersebut tak cukup dijawab dengan sekadar memilih presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2009 nanti. (Bersambung)

Orasi budaya ini dibawakan pada Dialog Budaya Manusia, Budaya, dan Indonesia Masa Depan yang diselenggarakan Yayasan Solusi Bangsa di Hotel Le Meridien, Jakarta, 26 Agustus 2008.

Tags : SB, PAN, Soetrisno Bachir

BERITA TERKAIT
load in : 0.006755114 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com