Jumat, 21 November 2008
Galeri Opini -
  BERITA
  INDEKS BERITA
27/08/2008 07:33
Mampukah Indonesia Bersaing?
Membangun Peradaban Baru Indonesia (2)
Soetrisno Bachir

BANGSA-BANGSA lain telah bersiaga menghadapi dunia baru yang penuh tantangan. Filipina telah menyebarkan para pekerja menengahnya untuk mengisi pasar kerja di seluruh dunia. Thailand membangun restoran-restoran masakan Thai pada hampir semua kota penting di berbagai negara untuk menjadi ujung tombak pemasaran pariwisatanya.

India semakin mengukuhkan diri sebagai pusat pengembangan dan layanan Teknologi Informasi global. Singapura terus memperkuat posisi sebagai sentra jasa, keuangan, serta budaya terpenting di kawasan barat Asia Pasifik. Jepang dan bahkan Korea Selatan telah mengokohkan kedudukannya sebagai kekuatan utama dunia dalam industri mobil dan elektronika.

Di hadapan upaya besar bangsa-bangsa tetangga itu, apa yang akan diperbuat Indonesia? Apakah Indonesia cukup puas dengan menjual murah enerjinya seperti batubara dan gas, sementara negara lain seperti China mendapat berkah nilai tambah enerji itu pada perekonomiannya?

Peradaban baru seperti apa yang harus dibangun bangsa ini agar dapat menghadapi masa depan dengan tegak? Budaya macam apa yang perlu dikembangkan yang sesuai untuk menopang peradaban baru tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memerlukan jawaban dari seluruh anak bangsa.

Dalam perekonomian, bangsa ini jelas bukan apa-apa dibanding dengan raksasa Amerika Serikat, Jepang, serta China. Indonesia bahkan masih kalah dibanding saudara serumpun Malaysia. Perbandingan komposisi perekonomian antarnegara menunjukkan dengan jelas ketertinggalan kita.

Kontribusi pertanian pada perekonomian secara keseluruhan masih sebesar 43,3 persen, sementara di China tinggal 11,3 persen. Sebaliknya, kontribusi industri dalam perekomian Indonesia baru 18 persen, sedang di China telah mencapai 48,6 persen.

Di negara-negara maju, kontribusi terbesar pada ekonomi adalah dari sektor jasa seperti di Amerika (78 persen) serta Jepang (72 persen). Sebagai negara berkembang, India bahkan telah mampu mengandalkan jasa sebagai motor penggerak ekonominya.

Angka-angka tersebut bukan sekadar mencerminkan posisi ekonomi Indonesia dibanding dengan negara-negara besar dunia lainnya. Lebih dari itu, angka-angka itu juga menggambarkan wajah peradaban bangsa ini sekarang.

Kenyataan itu juga mencerminkan bahwa peradaban Indonesia sekarang masih tergantung pada budaya tradisional. Padahal budaya tradisional tak selalu siap memenuhi tuntutan peradaban masa depan.

Ketidaksiapan budaya bangsa untuk menyambut tantangan masa depan telah muncul dalam Polemik Kebudayaan di tahun 1930-an. Achdiat Karta Mihardja dalam pengantar kumpulan polemik itu menyebut bahwa sisa budaya feodal berpengaruh besar pada jiwa dan budaya bangsa.

Pada masyarakat feodal, kehidupan ekonomi, sosial, dan politik dikendalikan sekelompok kecil masyarakat yang memiliki kekuasaan sangat besar. Masyarakat kebanyakan harus menerima keadaan yang apa adanya, termasuk menanggung kemiskinan.

Itulah yang membuat jiwa mati dan bangsa ini menjadi bangsa yang statis. Kalah dalam kehidupan, masyarakat lalu menghibur diri dengan hal-hal yang bersifat takhayul dan mistis.

Untuk membongkar sifat statis tersebut, Sutan Takdir Alisjahbana mengajak bangsa untuk mengadopsi nilai-nilai Barat. Baginya, bangsa ini harus menjadi bangsa yang dinamis, maju, serta berani memperjuangkan kepentingan sendiri. Karakter itu disebutnya ada pada bangsa-bangsa Barat, sehingga Barat menguasai peradaban dunia beberapa abad terakhir.

Gagasan mengadopsi budaya Barat itu mengundang reaksi para budayawan yang yakin pada kekuatan budaya lokal, sehingga memunculkan polemik serupa yang pernah terjadi di Jepang. Di Jepang, setelah Restorasi Meiji 1868 polemik demikian melahirkan sintesa budaya yang menjadi dasar peradaban baru Jepang.

Yakni peradaban moderen yang membawa kemajuan namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai budaya asli Jepang, Masakan teriyaki dan yakiniku, serta prinsip manajemen Kaizen merupakan hasil sintesa budaya tersebut.

Di Indonesia, Polemik Kebudayaan dahulu itu belum menghasilkan sintesa budaya yang dapat membawa pada peradaban baru. Prioritas perjuangan saat itu untuk menyiapkan kemerdekaan, serta hiruk pikuk Perang Dunia II, membuat polemik penting tersebut tak berlanjut.

Maka karakter bangsa yang dirisaukan para pemimpin tiga perempat abad silam, sampai sekarang belum hilang. Sisa warisan budaya feodal serta karakter statis terasa masih ada pada bangsa ini.

Itu yang membuat Indonesia sulit mewujudkan cita-cita kemerdekaan seperti memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut menciptakan perdamaian dunia. Karakter itu pula yang membuat Indonesia tidak siap bersaing di tingkat global dalam menghadapi masa depan yang menantang. (Bersambung)

Orasi budaya ini dibawakan pada Dialog Budaya Manusia, Budaya, dan Indonesia Masa Depan yang diselenggarakan Yayasan Solusi Bangsa di Hotel Le Meridien, Jakarta, 26 Agustus 2008.

Tags : SB, PAN, Soetrisno Bachir

BERITA TERKAIT
load in : 0.005080938 "

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com