WAWANCARA
INDEKS WAWANCARA
![]() | |
| Rhoma Irama (inilah.com) |
INILAH.COM, Jakarta - Suasana menjelang Ramadan 1429 H ternyata membangkitkan semangat baru bagi Raden Haji Oma Irama. Ia terkesan sekonyong-konyong merilis dua lagu terbaru versi bahasa India bertajuk Jana-jana dan Syahdu.
Kali ini, Sang Raja tidak tampil sendirian. Ia didampingi duet dengan artis penyanyi Malaysia, Toh Puan Noor, yang populer sebagai TP Noor di Negeri jiran.
Istimewanya, menurut pengakuan Bang Haji, sapaan akrabnya, ini adalah lagu terbaru setelah selama tiga tahun dia tidak membuat lagu baru. "Saya frustasi melihat ulah para pembajak," ungkapnya ketika dijumpai di sebuah acara, beberapa hari lalu.
Peluncuran dua lagu ini adalah bagian kerja sama dengan Persatuan Bencana Alam Nasional Kedah, Malaysia dan Falcon. Proses perekaman dilakukan di Mumbai, India dan Kuala Lumpur, Malaysia. Lalu, secara spesial, pengerjaan video klip diadakan di wilayah Rajhastan, India beberapa bulan lalu.
Di sela acara itu, INILAH.COM berkesempatan berbincang dengan Bang Haji. Berikut petikannya:
Katanya tidak menciptakan lagu baru selama tiga tahun belakangan ini. Alasannya apa?
Saya sudah sungguh marah besar kepada kejahatan pembajakan hak cipta yang sangat merugikan. Ya para pembajak itu. Bikin kreativitas, saya dan mungkin banyak pencipta lagu lain mandeg.
Akibat ulah pembajak, saya jadi tidak bisa kerja, karena kalau setiap album merugi, bagaimana bisa saya tulus bekerja? Belum lagi launching, sudah dibajak.
Setelah ini, saya pun masih kelihatan ragu buat memaksimalisasi spirit berkarya di industri rekaman.
Tapi, sekarang bisa rekaman?
Kalaupun sekarang saya setuju merekam dua lagu baru ini untuk diperjualbelikan, lantaran tujuannya adalah buat beramal. Selain itu, karena album ini juga melibatkan beberapa penyanyi dari mancanegara.
Harapan saya, musik dangdut bisa semakin melebar dan menyatu dengan segala bangsa di dunia.
Saya juga merasa bersyukur bahwasanya kini sudah ada penyanyi Afro-Amerika yang menyeriusi dangdut. Dia adalah Ariel yang kini kian sibuk memproduksi lagu dangdut di Negeri Adikuasa dengan arahan produser Rissa Asnan.
Mungkin karena untuk penyanyi mancanegara, Anda bikin lagu bukan dalam bahasa India?
Ya benar. Kenapa kali ini lagu saya tidak berbahasa Indonesia, sebab ini menjadi bagian awalan saya untuk pada saatnya nanti mendengar ada Dangdut Amerika, Dangdut Malaysia, Dangdut India dan lain sebagainya.
Ada penyanyi Malaysia di album ini, di sana musik Melayu kan juga maju?
Saya menjadikan langkah ini juga sebagai jembatan mempererat persahabatan antara Indonesia dan Malaysia. Sementara ini hubungan kita yang kurang mesra bisa disterilisasi dengan lagu-lagu dangdut ini.
Soal lain, kenapa musik dangdut kini kurang meriah lagi ketimbang era tiga tahun silam?
Ada tiga penyebab, menurut saya. Persoalan awal mungkin ada titik jenuh lantaran kiprahnya yang terlalu diekspos nyaris setiap jam dan setiap hari sejak 1970-an di layar televisi dan panggung-panggung rakyat.
Penyebab kedua adalah faktor kesulitan ekonomi yang kian melilit bangsa ini. Saya pikir, musik pop juga nanti akan menemui persoalan sama seperti yang dihadapi dangdut pada saat ini.
Faktor ketiga adalah dangdut yang diminati dan disukai kalangan masyarakat bawah, yang seperti diketahui adalah rata-rata masyarakat religius sudah sangat terganggu dengan performa pornoaksi yang dilakukan oleh beberapa perempuan penyanyi muda.
Jalan keluarnya?
Saya kini berpikir untuk melakukan revolusi dangdut jilid kedua yang something new. Kelanjutan dari dangdut yang bisa bersejajar rock seperti ketika saya rintis di era 1970-an. [L1]
[ Kirim ke teman ]