Jumat, 21 November 2008
Gaya Hidup - Fesyen
  BERITA
  INDEKS BERITA
08/09/2008 04:09
Nurani Lingkungan dalam Bisnis Mode
Sulha Handayani

INILAH.COM, Jakarta - I'm not plastic bag. Anda pasti sudah pernah melihat atau bahkan mungkin memiliki tas karya desainer Anya Hindmarch berslogan ini. Tas yang diluncurkan belum lama ini sekarang sangat populer dikenakan kaum sosialita di manapun.

Tapi siapakah yang paling berperan dalam industri tersebut? Rasanya tidak salah jika memilih kota London sebagai pelopornya.

Hingga saat ini Inggris Raya sukses secara komersial dan ideologis, yakni membuat produk ramah lingkungan dan melalui proses beradab dan menghormati hak kaum pekerja.

Nurani adalah item mode terpenting saat ini, paling tidak untuk kota London.

Semangat untuk bernurani ini terlihat pada sebuah peristiwa di tengah berlangsungnya London Fashion Week di Natural History Museum. Peristiwa ini adalah pemberian penghargaan pada pemenang kontes International Young Fashion Entrepreneur (IYFE) yang diselenggarakan British Council.

Tujuan kontes ini adalah mendukung pengusaha mode yang teruji ketangguhan bisnisnya dan yang terpenting punya peran nyata dan mengubah masyarakat dan industri mode ke arah baru yang lebih sejahtera, adil, serta ramah lingkungan. Tidak mudah mewujudkan hal itu, tapi inilah semangat dunia mode sekarang. "Mungkin kita tidak perlu tambahan produksi pakaian lebih banyak lagi ataupun pabrik garmen baru, tapi kita pasti butuh sejumlah individu baru di industri mode yang memiliki cara kerja inovatif, kreatif, dan dapat menghasilkan karya menarik," kata Paul Smith, seorang desainer Inggris yang paling sukses. Artinya, para pengusaha fasyen dan tentu juga desainer haruslah menjadi bagian dari pembaruan.

Total ada 10 finalis dari berbagai penjuru dunia yang datang ke London. Indonesia diwakili fashion marketer Deli Makmur. Ia adalah seorang pengusaha muda yang dikenal gigih mendekatkan akses pasar ke para perancang mode di Tanah Air.

Para juri yang diketuai Colin Mc Dowell, komentator mode senior dari Inggris akhirnya memilih Carla Fernandez dan Meksiko sebagai pemenang utama.

Carla adalah pendiri label tekstil Taller Flora. Bisnis ini bersandar pada empat fondasi, desain modern, kemitraaan dengan koperasi pengrajin di daerah terpencil, terutama perempuan suku dalam, penerapan standar lingkungan ketika berproduksi, dan pemberlakukan pilar dagang fair trade agar para pengrajin mendapat marjin yang lebih besar.

Semangat serupa praktis menjalar di hampir semua pelaku industri fesyen di Inggris, termasuk oleh penguasa high street, alias label-label raksasa yang memiliki cabang di seluruh shopping mall di planet bumi seperti Topshop, H&M, dan Mark & Spencer. Semuanya menyempatkan diri untuk kampanye menjadi hijau dan berorganik.

Selain tiga nama itu, masih ada label yang ambil bagian dalam acara ini antara lain, Katherine Hamnett dan From Somewhere.

Kalau para pengusaha dan pelaku industri mode serta gamern di Inggris sudah mulai dengan kampanye hijau dan lingkungan, bagaimana di tanah air?

Di Indonesia kita tampaknya masih sibuk dengan hal lain sebelum memikirkan lingkungan. [L1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com