Wawancara
25/11/2008 - 00:01
RI Lebih Kaya Musik Melayu
Hendry Lamiri
Babyrock

INILAH.COM, Jakarta - Lama tidak kelihatan, musisi Hendry Lamiri mengungkapkan bahwa ia kini tengah mempersiapkan album solo perdana. Kental dengan warna Melayu, ia mengemasnya dengan nuansa world music.

Ia mengaku, ingin agar musik melayu Indonesia bisa go international. "Selama ini, musik melayu identik dengan Malaysia. Padahal, Indonesia lebih kaya musik melayu," ungkapnya.

Meski lebih dikenal sebagai pemain biola, kini Hendry juga semakin meningkatkan diri sebagai arranger dan mengerjakan mixing untuk album atau lagu-lagu penyanyi terkenal.

Di studio miliknya, dia bisa semalaman mengerjakan segala pekerjaan musiknya. "Meski kadang diselingi main PS (play station)," ujarnya tertawa.

Sejak lama dia ingin mewujudkan album solo yang berkekuatan karakter khas gesekan biola. Album itu akan segera terwujud pada awal 2009 dengan mengetengahkan banyak unsur musik.

Selain proyek solo itu, ia kini juga sibuk bertugas sebagai produser musik untuk penyanyi Rayne Wine.

"Semua musiknya saya yang buat. Pakai teknik sample. Jadi semua instrumen sebenarnya saya yang mainin semua," ujarnya.

Kekuatan bermusik dia tidak lepas dari bakat dan titisan darah musik yang mengalir dari Ayahanda almarhum Lamiri Yahya yang mahir memainkan segala jenis alat musik. Maka jangan heran apabila sejak umur delapan tahun Hendri Lamiri sudah mahir menggesekkan senar biola.

Apa kabar? Kemana saja kok jarang kelihatan?

Kabarnya sih baik-baik saja. Belakangan aku memang lebih banyak berada di belakang layar. Yah, jadi produser musik atau membuat ilustrasi musik untuk beberapa iklan. Selain itu, juga sedang menyelesaikan album solo pertama saya.

Album solo?

Ya. Banyak warna yang saya tampilkan dalam album itu. Ada rock, jazz, etnik bahkan warna musik lainnya seperti dangdut dan keroncong. Aku ingin dengan album ini ada sesuatu yang lain dari warna musik Tanah Air.

Salah satu judul lagu instrumen yang cukup kuat adalah Melayu Funk. Di sini kekuatan unsur alat musik moderen dikawinkan dengan alat musik khas melayu. Warna melayu memang amat kental dalam albumku ini.

Kok melayu?

Ya, aku prihatin melihat di luar negeri, kalau musik Melayu selalu identik dengan Malaysia. Padahal, Indonesia lebih kaya musik Melayu. Makanya, album ini aku punya tujuan untuk memasarkannya di mancanegara. Karenanya, aku bakal ikutsertakan dalam berbagai festival musik di luar negeri. Seperti Belanda, Jerman, Australia, dll.

Semoga album itu dapat segera terwujud. Album ini saya persembahkan buat orang tua saya tercinta, karena berkat beliaulah saya bisa menjadi pemain biola.

Katanya mau bikin ilustrasi musik film juga?

Rencananya sih begitu. Tetapi, sebenarnya saya sudah sering membuat ilustrasi musik untuk beberapa iklan. Seperti Pertamina.

Nah kalau mau jadi ilustrator musik film, itu karena saya melihat banyak film produksi Tanah Air yang penggarapan musiknya dikemas kurang serius. Sayang aja, kalau nonton film layar lebar penggarapan musiknya justru malah kayak sinetron.

Padahal, pengemasan ilutrasi musik untuk sebuah film bisa digarap lebih maksimal untuk membangun atmosfir yang diinginkan. Kalau aku amati, banyak film-film nasional yang ilustrasi musiknya kurang pas dengan adegan yang muncul. Ibarat makan dengan suasana pedesaan, tapi menu yang disajikan masakan laut. Ya, kurang pas.

Persiapan untuk menjadi ilustrator musik film?

Saya punya hobi menonton film. Dari sanalah, saya banyak belajar. Kalau nonton film, saya kadang enggak memperhatikan ceritanya, tapi ilustrasi musik yang mengiringi adegan-adegannya.

Kalau soal jadi produser musik Rayne Wine?

Saya diminta teman untuk bantu garap musik album penyanyi ini. Saya melihat dia (Rayne) penyanyi berbakat. Saya berharap kehadiran dia mengisi kekosongan segmen yang ditinggalkan mendiang Alda Rizma. Tapi, saya buat lebih western country. Seperti Sania Twain-lah. [L1]

KOMENTAR BERITA