

(ist)
INILAH.COM, Seoul – Festival Film Pink berlangsung di Seoul, akhir pekan lalu. Festival ini menandai pula kembalinya film erotis di Korea Selatan. Padahal, jenis film biru ini dilarang beredar di bioskop-bioskop publik sejak akhir 1990-an.
Selama era pelarangan itu, film-film erotis di Korsel lebih banyak beredar di pasar-pasar gelap. Padahal, dalam bentuk video atau cakram padat, film-film biru bertaburan. Kebanyakan motel, misalnya, menyediakan televisi dan alat pemutar video dengan puluhan, bahkan ratusan kaset, tersedia dengan cuma-cuma.
Film erotis sendiri masuk ke Korsel melalui produksi film-film Jepang pada 1960-an. Film dengan genre satire-erotis itu merupakan produk film indie Jepang. Tapi, bersamaan dengan kebijakan politik pemerintah Korsel yang melarang produk-produk Jepang, film erotis ini pun ikut kena getahnya. Pemerintah Korsel tak mau pengaruh kultural negara yang pernah menjajah mereka di awal abad ke-20 itu masuk.
Larangan Korsel terhadap film, buku, atau musik Jepang, baru dihentikan pada 1998, ditandai dengan diputarnya film garapan Takeshi Kitano bertajuk Hana-Bi. Sejak saat itu, jumlah film Jepang yang diedarkan di Korsel terus meningkat karena popularitasnya. Film-film seperti Love Letter dan Howl's Moving Castle garapan Hayao Miyazaki, bahkan ditonton lebih dari 1 juta orang.
Di bawah rezim militer Korsel pada 1960-an film menjadi salah satu pusat perhatian lembaga sensor di neara itu. Lembaga ini bahkan ikut mengontrol berapa banyak jumlah film yang bisa dibuat setiap tahunnya. Mereka pun ikut memeriksa skenarionya.
Tradisi ini terus berlanjut hingga akhir dekade 1990-an. Padahal, saat itu sudah ada konstitusi yang mengatur soal ini. Ada pula keputusan pengadilan yang menyebutkan sensor berlebihan itu menyalahi konstitusi Korsel.
Debat soal sensor ini mencapai puncaknya pada 1999. Saat itu, Media Rating Board, lembaga sensor pemerintah itu, melarang rilisnya film Korsel yang menggambarkan hubungan seksual antara seorang pelajar dan pemahat. Lies, begitu judul film itu, baru bisa beredar setelah dipotong 17 menit.
Maka, Festival Film Pink, atau Japanese Pinku Eiga, merupakan ajang untuk membuka kran film biru ke layar lebar di Korsel. Sebagai awal, festival yang digelar untuk kedua kalinya itu, hanya dibuka untuk wanita pada malam pertamanya di empat kota dimana festival digelar selama sebulan. Festival pun hanya berlangsung pada hari tertentu saja, yakni Rabu dan Sabtu.
Tak heran, setelah sebulan berlangsung, kebanyakan penonton adalah kaum laki-laki. Mereka menyaksikan sejumlah film seperti Don't Let It Bring You Down (garapan Kazuhiro Sano), Slave (Osamu Sato), dan film dengan adegan hard core yang lumayan, Glamorous Life of Sachiko Hanai karya Mitsuru Meike.
Tak semuanya puas dengan festival ini. Koordinator festival, Ahn Jong-seon mengakui banyak penonton wanita yang pulang dengan kekecewaan. Pasalnya, film yang mereka saksikan ternyata tak sepanas yang diduga.
"Reaksi ini tak kami perhitungkan. Pasalnya, banyak yang berharap pada program festival ini bahwa para wanita akan menyaksikan stereotip film erotis Jepang," ujar Ahn.
Hal itu pun diakui seorang wanita berusia 28 tahun setelah menyaksikan Tsumugi garapan Hidekazu Takahara. Film itu sendiri berkisah tentang seorang siswa putri yang mencoba merayu gurunya yang sudah menikah.
"Saya kecewa pada betapa konvensionalnya film itu. Film itu bahkan masih jauh dari level konten dewasa yang bisa disaksikan di internet saat ini," ujar wanita penggemar genre film Jepang yang tak ingin disebut namanya itu.
Maka, Kim Hyoung-ki, seorang penulis skenario di Korsel, mengusulkan strategi agar festival ini tidak mati suri. Penulis skenario Vampire Cop Rickie dan 2009 Lost Memories itu ikut menghadiri acara pembukaan festival.
"Satu-satunya cara agar Festival Film Pink bertahan adalah membuat sensor sendiri, yakni dengan hati-hati menilai film yang memenuhi standar untuk festival Itulah satu-satunya cara untuk mempertahankannya," kata Kim. [I4]
- Mulan Ajak Jaga Cinta Mati
- Seringai Rilis DVD
- Marcell Bentuk Konspirasi
- Phoenix Bakal Tampil di Jakarta
- Shakugan no Shana II Tayang Perdana di Animax
- The Changcuters Contek Beastie Boys?
- The Tarix Jabrix 2 Diharapkan Lebih Sukses
- Transformers Kuasai Box Office
- Lagu-lagu Jacko Dominasi Tangga Lagu Inggris
- Aku Masih Ada, Vegas Yakin Sukses
- Peta Musik Makin Meluas
- Fansbook, Saat Penggemar Bertemu Idola
- Star Syndrome Membahayakan
- Konser Come Back Jacko Pun Batal
- Jakarta International Soulnation Siap Digelar
