Jumat, 21 November 2008
Olahraga - PON XVII
  BERITA
  INDEKS BERITA
17/07/2008 14:50
Selamat Tinggal Empat Besar

INILAH.COM,Samarinda - Perjuangan 491 atlet Jawa Tengah pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Kalimantan Timur sudah berakhir. Meskipun masih ada dua cabang olahraga yang dipertandingkan pada hari terakhir atau Kamis (17/7) ini, tetapi tak berpengaruh lagi.

Cabang olahraga sepak bola pada babak final yang digelar menjelang penutupan pesta olahraga multieven empat tahunan di Kaltim ini akan mempertemukan kesebelasan Papua melawan Jawa Timur. Pertemuan dua tim ini merupakan pertandingan ulangan partai final PON XVI/2004 Sumatera Selatan.

Kemudian di cabor balap sepeda nomor MTB cross counrty putra, emas, perak, dan perunggu direbut pembalap sepeda Jawa Barat, yaitu Dadi Nurcahyadi, Candra Rafsanzi, dan Budi Sugito. Untuk perunggu selain Budi Sugito ada Robin Manulang (Kaltim).

Hampir setengah bulan lebih mereka berjuang untuk meraih tempat terhormat pada pesta olahraga multieven empat tahunan ini tetapi kepiluan menyelimuti kubu Jateng karena mereka harus terlempar dari peringkat keempat yang selama pelaksanaan PON selalu menjadi selalu milik provinsi berpenduduk 30 juta jiwa lebih tersebut.

Perjuangan yang dilakukan atlet Jateng selama setengah bulan lebih tersebut membuahkan 53 medali emas, 80 perak, dan 78 perunggu. Hasil perolehan medali ini masih jauh dari empat provinsi yang peringkatnya berada di atas Jateng.

Jawa Timur sebagai juara umum meraih 138 medali emas, 113 perak, dan 112 perunggu. Perolehan Jatim ini kemungkinan masih akan bertambah apabila tim sepak bola berhasil meraih medali emas.

DKI Jakarta berada pada peringkat kedua dengan 118 emas, 118 perak, dan 122 perunggu, sedangkan tuan rumah Kaltim yang sempat bertengger pada peringkat kedua akhirnya terperosot ke peringkat ketiga dengan 116 emas, 111 perak, dan 115 perunggu, kemudian Jabar di peringkat keempat dengan 101 emas, 84 emas, dan 132 perunggu.

Jawa Tengah hanya masuk peringkat kelima, meskipun jauh-jauh hari sudah mencanangkan masuk tiga besar dengan target meraih 86 medali emas, tetapi ternyata hanya meraih 53 emas. Perolehan emas di Kaltim ini masih kalah dengan PON XVI/2004 yang bisa meraih 56 medali emas.

Selama pelaksanaan PON ini, Jateng berada pada peringkat keempat bukan yang pertama kali tetapi sudah yang ketiga kalinya. Pertama tahun 1953 dengan enam emas, 12 perak, dan 14 perunggu, kemudian PON tahun 1973 dengan 13 emas, 31 perak, dan 49 perunggu, serta yang terakhir PON XVII/2008 Kaltim ini.

Minta Maaf

Kontingen Jawa Tengah akhirnya meminta maaf kepada masyarakat Jateng karena tidak bisa masuk peringkat tiga besar pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII Kaltim 2008, meskipun masih ada beberapa nomor final yang diikuti atletnya.

"Kami tentunya akan minta maaf kepada masyarakat Jateng ketika sudah berada di Semarang, tetapi melalui media massa kami mengucapkan hal itu terlebih dulu," kata Wakil Ketua Umum II (bidang pembinaan dan prestasi) Konida I Jateng, Sugiyanto.

Jauh-jauh hari sebelum pesta olahraga multievent empat tahunan di Kaltim tersebut digelar, Jateng sudah mencanangkan target masuk peringkat tiga besar dengan meraih minimal 86 enam medali emas.

Menurut dia, ada 19 dari 40 cabang olahraga yang diikuti Jawa Tengah gagal mencapai target yang telah ditetapkan sebelum mereka berangkat ke Kalimantan Timur. "Padahal cabang-cabang olahraga itu yang diharapkan bisa mendulang emas di PON XVII, tetapi justru meleset," katanya.

Ia mencontohkan, cabang olahraga yang gagal mencapai target seperti sepatu roda yang menargetkan tujuh emas ternyata hanya mendapat dua emas, panahan yang menargetkan empat emas tetapi hanya satu emas, tinju yang menargetkan satu emas tidak dapat medali emas.

Kemudian, sepak takraw yang menargetkan sapu bersih emas ternyata juga hanya dapat dua emas.

"Jadi mereka yang menargetkan dua emas hanya dapat satu emas, mereka yang menargetkan lima emas hanya dapat satu emas, dan lain sebagainya," katanya menegaskan.

Tetapi, katanya, ada beberapa cabang yang tidak diperhitungkan, justru bisa meraih emas seperti anggar, panjat tebing, bulu tangkis.

Kegagalan Jateng meraih target tersebut, katanya, karena beban mental atlet Jateng yang ditarget masuk peringkat tiga besar ternyata mempengaruhi penampilan di lapangan. "Mereka tidak bisa tampil maksimal karena pencanangan tiga besar tersebut," katanya.

"Tetapi atlet Jateng telah berjuang dengan maksimal. Kami harus evaluasi kegagalan ini untuk menyongsong PON XVIII/2012 di Pekanbaru, Riau," katanya.

DPRD Bersikap

Kegagalan kontingen Jawa Tengah masuk peringkat tiga besar dengan meraih 86 medali emas di Kaltim mendapat sorotan dari Komisi E (bidang Kesra) DPRD I Jawa Tengah.

Legislatif Jawa Tengah ini mendesak Konida I Jawa Tengah untuk melakukan pergantian personel kepemimpinan dan manajemen.

"Penanggung jawab kontingen Jateng dalam PON XVII adalah KONI. Berhasil atau tidaknya prestasi atlet Jateng sepenuhnya dipikul lembaga ini. Kami minta KONI bisa mempertanggungjawabkan perekrutan atlet, pola pembinaan yang diterapkan, kesungguhan manajemen, dan kepemimpinan di lembaga ini," kata Ketua Komisi E DPRD I Jateng, Iqbal Wibisono.

Selama ini, Pemprov Jateng atas sepengetahuan Komisi E DPRD Jateng telah berusaha melengkapi dan menyanggupi sarana-parasana yang dibutuhkan induk lembaga organisasi olahraga Jateng itu, termasuk rencana pemberian bonus sebesar Rp150 juta/keping emas/atlet yang dialokasikan sebanyak Rp37 miliar.

Total dana untuk PON XVII selama tahun anggaran 2008, kata Iqbal, mencapai Rp83 miliar. Prestasi Jateng dalam PON XVII dinilai memprihatinkan karena dari target mendapat 83 medali emas dan masuk tiga besar, ternyata meleset. Jateng hanya mampu menduduki urutan kelima setelah Jatim, Kaltim, DKI Jakarta, dan Jabar.

Padahal di PON XVI Palembang, kontingen Jateng mampu menorehkan prestasi urutan keempat dengan perolehan medali 56 emas, perak (57), dan perunggu (61). Juara Umum PON XVI diraih DKI Jakarta dengan meraih 144 emas, Jatim (76 emas), dan Jabar (76 emas).

Sekembali dari Samarinda, menurut anggota Komisi E DPRD Jateng, Dulmanan, komisinya akan meminta laporan dari KONI Jateng. Tujuannya bukan mencari kesalahan, tetapi untuk mengetahui pokok persoalan yang menyebabkan prestasi atlet Jateng melorot.

"Evaluasi dalam hal pola atau teknik rekrutmen atlet, pola pembinaan, dan pemberian uang pembinaan bagi atlet perlu segera dilakukan. Saya milihat jarangnya kompetisi tingkat provinsi juga memengaruhi," kata Iqbal.[*/S1]

[ Kirim ke teman ]



Layanan Mobile | RSS | Tentang Kami | Kontak kami
Copyright © 2007-2008 Inilah.com. All rights reserved Inilah.com